MEDAN, Sumutpos.jawapos.com-Di usia 70 tahun, semangat Taslim Harefa untuk terus menimba ilmu tak pernah surut. Warga Pekanbaru ini berhasil lulus ujian tertutup program Doktor Ilmu Pertanian di Universitas Medan Area (UMA), Selasa (5/8), dengan disertasi bertema pengelolaan limbah sawit untuk pertanian berkelanjutan.
Taslim Harafe memilih UMA bukan tanpa alasan. Sebelum kuliah S2 dan S3 di UMA, dirinya melalui survei. "Di UMA, mahasiswa senantiasa mendapat dukungan agar dapat menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu," terangnya.
Perjuangan Taslim Harefa menyelesaikan program doktor patut mendapat apresiasi. Terkadang ia memilih membawa mobil sendirian dari Pekanbaru ke Medan atau berpergian dengan naik bus. Terkadang ia tinggal di hotel, tapi lebih sering ngekost untuk menghemat biaya.
Ir Taslim Harefa MP yang sebentar lagi bergelar doktor lahir pada 26 Juni 1955 di Limapuluh Batubara. Saat ini, suami Sri Zuwefa SPd MM berdomisili di Jalan Pasie Mas Tabekgodang Pekanbaru.
Orangtua dari Wijaya Kusuma Harefa ST (bekerja pada perkrbunan nasional di Kalimantan) dan dr Asri Yunita Harefa (dokter di Sumbar) menyelesaikan pendidikan tinggi dibidang pertanian dengan spesialisasi proteksi tanaman dan meraih gelar sarjana pertanian pada tahun 1984 dari UISU. Kemudian gelar magister pertanian dalam bidang agribisnis dari UMA (2022).
Jadwal kuliah, ujian, tugas maupun tugas kuliah dikerjakan. Taslim Harefa yang pernah memilih resign perusahaan ternama dari Jerman dan menjadi konsultan bidang pertanian, perkebunan dan kehutanan sejak tahun 2005 ini tetap berupaya melakukan semua proses perkuliahan.
"Saya ingin memotivasi orang muda bahwa kuliah dan belajar itu tidak ada batasnya dari lahir hingga liang lahat. Berbuatlah dan bermanfaatlah untuk masyarakat," pesan Taslim Harafe yang rutin jogging tiap pagi.
Taslim Harefa mulai bekerja dalam bidang pertanian dan pengabdian masyarakat tahun 1980-1982 bekerja pada PT Rolimex Corporation (agromomist), 1982-1992 bekerja di Hoeschst Company (agromomist), 1992-1997 bekerja di Agrevo Company (area manager), 1997-2000 bekerja di Aventis Cropscience (area manager) dan terakhir 2000-2004 bekerja di Buyer Cropscience Indonesia.
Tak ada 'perlakuan dan keringanan khusus' yang diterima sebagai mahasiswa paling tua dikampusnya. Semua mendapat tugas dan kewajiban sama tanpa memandang usia tua atau muda.
Taslim Harefa tercatat sebagai pemegang Paten IDP 0000555565 (Metode Pengendalian Penyakit Ganoderma Boninense pada Tanaman Kelapa Sawit) dan penerima program penelitian kelapa sawit dari LLDikti Wilayah I (Model Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan).
Apa kesan Taslim Harefa pada UMA? Mahasiswa berusia 70 tahun yang tampil bugar dan suka bernyanyi ini mengatakan bahwa UMA memberikan kesempurnaan akademi. "Support dari kampus untuk dapat menyelesaikan sangat dirasakan. Rahasianya semangat dan niat," katanya.
Setelah S3, Taslim Harefa semakin mantap untuk pengembangan pertanian, perkebunan dan kehutanan. "Ketergantungan pada pupuk kimia kita kurangi dengan pemanfaatan pupuk organik dari limbah kelapa sawit untuk kelestarian lingkungan. Kedepan, negara dengan ketahanan panganlah yang bisa bertahan" katanya.
Ia berbahagia karena dua anaknya termotivasi untuk meneruskan jenjang pendidikan. "Dua anak saat ini kuliah S2. Istripun saat ini sedang kuliah S3," ujarnya.
Membanggakan
Semangat dan kegigihan Taslim Harefa untuk menyelesaikan pendidikan doktor ini mendapat apresiasi dari Ketua Program Studi S3 Pertanian UMA Prof Ir Zulkarnain Lubis MS PhD. Taslim Harefa pun dinilainya sangat menginspirasi.
"Begitu selesai program magister UMA, esoknya daftar program doktor UMA. Beliau masuk program doktor saat berumur 67 tahun. Tamat dengan kualitas yang bagus. Kemarin sudah ujian tertutup. Disertasi memiliki kontribusi yang besar pada dunia perkebunan," kata tokoh pendidikan yang pernah menjadi rektor UMA tersebut.
Prof Ir Zulkarnain Lubis MS PhD merinci bahwa mahasiswanya yang berusia lebih delapan tahun ini aktif dalam perkuliahan dan aktif dalam kegiatan akademik. "Selalu hadir dalam acara-acara UMA dan tamat dengan nilai yang bagus. Bayangkan dalam usia 70 tahun, dapat menyelesaikan program doktor," puji ketua program studi.
Ia menunjukkan kebanggaan terhadap dedikasi, semangat dan komitmen dari mahasiswa paling senior di UMA. "Sejak program doktor ada di UMA, Pak Taslim Harefa yang paling tua. Mahasiswa S3 UMA kebanyakan berusia 30-40 tahun. Diatas 50 tahun jarang. Semoga Pak Taslim Harefa senantiasa mampu menginspirasi dan berbuat yang terbaik terhadap dunia perkebunan," pesan guru besar UMA tersebut.
Ketua program studi menambahkan bahwa Taslim Harefa selanjutnya setidaknya September akan mengikuti sidang terbuka doktor. Lalu beliau diwisuda.
Prof Ir Zulkarnain Lubis MS PhD menambahkan bahwa belajarlah sepanjang hayat. Karenanya, ia menegaskan bahwa UMA terbuka kepada siapapun dan berusia berapapun termasuk para Lansia yang ingin melanjutkan jenjang pendidikannya.
"Kita juga rangsang mahasiswa agar belajar dengan hati, ketulusan dan keikhlasan sehingga bisa kuliah dengan sebaik-baiknya," ungkap Prof Ir Zulkarnain Lubis MS PhD.
"Pendidikan itu tak mengenal usia. Paling tidak setuju apabila orang mengatakan bahwa saya sudah tua. Tua itu ngak masalah. Tua itu indah. Usia itu hanyalah angka. Yang terpenting bagaimana karya, produktivitas, kontribusi serta sumbangan kita kepada bangsa dan negara kita," ujar dosen yang senantiasa mengajar dengan hati tersebut.
Adapun susunan panitia ujian tertutup UMA yang menguji Taslim Harefa terdiri dari Prof Ir Zulkarnain Lubis MS PhD (ketua sidang), Dr Ir Zulheri Noer MP (sekretaris), Prof Dr Ir Retna Astuti K MS (perwakilan pascasarjana), Dr Ir Syahbudin Hasibuan MSi (perwakilan program studi), Prof Dr Ir Try Koryati MP (penguji I), Prof Dr Ir Siti Mardiana MSi (penguji II), Prof Dr Ir Yusniar Lubis MMA (promotor) dan Prof Dr Ir Tri Martial MP (co-promotor).
Pelaksanaan ujian tertutup Taslim Harefa, Selasa (5/8) ini dipantau dan dievaluasi Lembaga Penjaminan Mutu melalui kegiatan pemantauan yang dilakukan oleh Gugus Kendali Mutu (GKM) dan dievaluasi setiap semester melalui proses Audit Mutu Internal (AMI) kinerja pembelajaran dan luar. (dmp/han)
Editor : Johan Panjaitan