Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Merawat Tradisi dan Menyejahterakan Penenun: Inovasi Alat Tenun Sirat Ulos yang Ergonomis

Johan Panjaitan • Selasa, 23 September 2025 | 12:45 WIB
IT DEL: Kegiatan PKM perancangan ulang alat tenun sirat ulos di Desa Hutanamora oleh dosen dan mahasiswa IT Del. (ISTIMEWA/SUMUT POS)
IT DEL: Kegiatan PKM perancangan ulang alat tenun sirat ulos di Desa Hutanamora oleh dosen dan mahasiswa IT Del. (ISTIMEWA/SUMUT POS)

Sumutpos.jawapos.com-Institut Teknologi Del (IT Del) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelestarian budaya lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).

Pada 14-15 Agustus 2025, tim dosen dan mahasiswa IT Del melaksanakan pelatihan sekaligus menyerahkan alat tenun sirat ergonomis kepada kelompok penenun Gok Las Niroha di Desa Hutanamora, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba.

PKM ini berjudul: Perancangan Ulang Alat Tenun Sirat Ulos di Desa Hutanamora dengan metode Reverse Engineering dan Quality Function Deployment (QFD). Kegiatan ini didanai melalui hibah internal IT Del.

PKM diketuai Josua Boyke William Jawak, S.T., M.Ds., dengan anggota tim Dr. Fitriani Tupa R. Silalahi, M.Si., Dr. Mariana Simanjuntak, M.Sc., Iswanti Sihaloho, S.Si., M.Si., Elisa Harianja, S.T serta mahasiswa Erwin Faines Munthe.

Selama ini, penenun di Desa Hutanamora masih menggunakan alat tenun tradisional yang kurang
ergonomis. Posisi kerja membungkuk dalam waktu lama sering menyebabkan keluhan nyeri punggung, leher, dan kaki sehingga menurunkan produktivitas. Proses pembuatan sirat merupakan bagian paling rumit dalam ulos, juga membutuhkan waktu lama dan tenaga besar.

Melalui program ini, IT Del merancang ulang alat tenun sirat dengan memperhatikan prinsip ergonomi sehingga lebih nyaman digunakan.

Rancang ulang alat tenun sirat juga mengurangi risiko cedera akibat postur janggal dan mendukung
peningkatan produktivitas. Alat baru ini diuji langsung oleh penenun Gok Las Niroha. Mereka mengatakan bahwa alat baru ini dinilai lebih efektif dibandingkan alat lama.

“Dengan adanya alat tenun ergonomis ini, kami berharap para penenun dapat bekerja lebih sehat, nyaman dan produktif tanpa kehilangan nilai budaya yang melekat dalam proses pembuatan ulos,” jelas ketua tim PKM kepada Sumut Pos, Selasa (23/9).

Selain penyerahan alat, kata Josua Boyke William Jawak, S.T., M.Ds., tim juga memberi pelatihan mengenai prinsip ergonomi, teknik penggunaan alat dan diskusi evaluasi bersama penenun.

Para penenun menyampaikan apresiasi atas inovasi ini karena dapat membantu mereka menjaga tradisi sekaligus meningkatkan taraf ekonomi keluarga. Program ini diharapkan dapat menjadi contoh sinergi antara teknologi dan budaya, di mana inovasi teknik mampu melestarikan warisan budaya Batak sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat. (dmp)

Editor : Johan Panjaitan
#IT Del #pelestarian #PKM #budaya lokal