DELI SERDANG, Sumutpos.jawapos.com-Upaya meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak sejak usia dini terus diperkuat. Tim dosen Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Medan menggelar program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Desa Kutalimbaru pada 13 Mei dan 17 Juni 2026 dengan fokus memperkuat kemampuan ibu balita dan kader kesehatan dalam mendeteksi serta menstimulasi perkembangan anak usia toddler.
Kegiatan ini dipimpin oleh Lusiana Gultom, SST., M.Kes, bersama Nilda Yulita Siregar, SST., M.Kes, Alfriane, SST., MKM, serta melibatkan mahasiswa Jurusan Kebidanan. Mengusung tema "Pendampingan Ibu dan Kader dalam Deteksi dan Stimulasi Perkembangan Motorik Anak Usia Toddler Menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)," program tersebut dirancang untuk membekali peserta dengan keterampilan praktis dalam memantau tumbuh kembang anak secara mandiri.
Selama kegiatan, para peserta memperoleh materi mengenai teknik stimulasi perkembangan sesuai tahapan usia, demonstrasi penggunaan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), praktik penilaian perkembangan balita, simulasi melalui bermain peran, diskusi interaktif, hingga pendampingan langsung.
Baca Juga: Pria Lebih Mudah Menangis di Dunia Olahraga, Riset Ungkap Pengaruh Stereotip Maskulinitas
Ketua Tim Pengabdian, Lusiana Gultom, menegaskan bahwa keluarga dan kader kesehatan merupakan garda terdepan dalam memastikan tumbuh kembang anak berlangsung optimal. Karena itu, keduanya perlu memiliki kemampuan mendeteksi tanda-tanda keterlambatan perkembangan sedini mungkin.
Sebagai bagian dari pembelajaran, tim juga memperkenalkan berbagai alat permainan edukatif yang dapat dimanfaatkan sebagai media stimulasi sekaligus membantu proses penilaian perkembangan anak menggunakan KPSP.
"Melalui kerja sama yang baik antara orang tua dan kader, keterlambatan pertumbuhan maupun perkembangan anak dapat dideteksi lebih awal sehingga penanganan dapat segera dilakukan," ujar Lusiana.
Suasana kegiatan berlangsung dinamis. Antusiasme peserta terlihat saat sesi diskusi, ketika seorang ibu balita mengajukan pertanyaan mengenai efektivitas stimulasi terhadap kemampuan tumbuh kembang anak.
Menanggapi hal tersebut, Lusiana menjelaskan bahwa masa balita merupakan golden period, yaitu fase emas ketika perkembangan otak berlangsung sangat cepat. Pada periode ini, anak sangat responsif terhadap berbagai rangsangan sehingga membutuhkan stimulasi yang diberikan secara rutin, konsisten, dan disesuaikan dengan tahap usianya.
Menurutnya, stimulasi yang tepat sejak dini mampu mengoptimalkan perkembangan motorik, kemampuan bahasa, interaksi sosial, hingga kemandirian anak. Sebaliknya, kurangnya stimulasi dapat meningkatkan risiko terjadinya keterlambatan perkembangan yang berpotensi menetap apabila tidak segera dikenali dan ditangani.
Baca Juga: FoodNeverComes, Aplikasi Korea yang Bikin Pengguna “Pesan Makanan” Tanpa Pernah Mendapat Kiriman
Melalui program pendampingan ini, Tim Pengabdian Poltekkes Kemenkes Medan berharap ibu balita semakin aktif memantau tumbuh kembang anak di rumah melalui aktivitas bermain yang edukatif dan menyenangkan.
Di sisi lain, kader kesehatan diharapkan mampu menjadi mitra strategis tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi sekaligus melakukan pemantauan perkembangan balita di lingkungan masyarakat.
Kolaborasi yang kuat antara tenaga kesehatan, kader, dan keluarga diyakini menjadi kunci dalam mempercepat deteksi dini gangguan tumbuh kembang. Dengan demikian, setiap anak memiliki kesempatan yang lebih besar untuk tumbuh sehat, berkembang optimal, dan menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas. (rel/han)
Editor : Johan Panjaitan