DELI SERDANG, Sumutpos.jawapos.com – Upaya percepatan eliminasi Tuberkulosis (TBC) tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat. Berangkat dari semangat tersebut, tim dosen Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Medan menggelar pelatihan bagi kader kesehatan dan relawan di Desa Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, guna memperkuat peran masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian TBC.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, yang berfokus pada peningkatan kapasitas kader kesehatan desa sebagai garda terdepan dalam mendukung program eliminasi TBC.
Tim pengabdian dipimpin Dr. Efendi Sianturi, SKM., M.Kes, bersama Dr. Elisabeth Surbakti, SKM., M.Kes, Maida Pardosi, SKM., M.Kes, serta melibatkan mahasiswa sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pengabdian.
Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Desa Kutalimbaru, perangkat desa, serta tenaga kesehatan setempat.
Kepala Desa Kutalimbaru, Suria Tarigan, S.Pt, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Poltekkes Kemenkes Medan yang dinilainya mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai bahaya TBC sekaligus memperkuat langkah pencegahan di tingkat desa.
Menurutnya, edukasi yang berkelanjutan menjadi salah satu kunci untuk memutus rantai penularan penyakit menular yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat.
Selama pelatihan, para peserta dibekali berbagai materi penting, mulai dari pengenalan Tuberkulosis, mekanisme penularan, gejala, langkah pencegahan, pentingnya deteksi dini, hingga kepatuhan menjalani pengobatan sampai tuntas.
Selain aspek medis, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya menghilangkan stigma terhadap penderita TBC yang selama ini masih menjadi salah satu hambatan dalam penanganan penyakit tersebut.
Materi pelatihan turut menekankan peran strategis kader dan relawan sebagai ujung tombak edukasi kesehatan di tengah masyarakat. Mereka didorong untuk aktif mengidentifikasi warga yang memiliki gejala TBC, memberikan penyuluhan kepada keluarga, mengarahkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, serta mendampingi pasien selama menjalani pengobatan.
Baca Juga: OJK Ungkap 2,8 Juta Calon Nasabah Ditolak Buka Rekening karena Terindikasi Judi Online
Kader juga diharapkan mampu menyampaikan informasi yang benar mengenai TBC agar tidak lagi muncul kesalahpahaman maupun diskriminasi terhadap penderita.
Proses penyampaian materi berlangsung secara interaktif melalui diskusi, penyuluhan, sesi tanya jawab, serta penggunaan media edukasi berupa buku saku yang dapat dijadikan pedoman dalam menjalankan tugas di lapangan.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan, terutama saat sesi diskusi yang membahas berbagai persoalan nyata yang kerap dihadapi kader ketika memberikan edukasi kepada masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, tim pengabdian membentuk kelompok penggerak "Kader dan Relawan Hebat, Bersama Eliminasi TBC" sebagai wadah kolaborasi masyarakat dalam mendukung program eliminasi Tuberkulosis di Desa Kutalimbaru.
Pembentukan kelompok tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan, sekaligus membangun jejaring kerja sama antara pemerintah desa, fasilitas kesehatan, kader, relawan, dan masyarakat.
Tim Poltekkes Kemenkes Medan menegaskan bahwa eliminasi TBC hanya dapat terwujud melalui sinergi semua pihak. Dengan kader dan relawan yang memiliki pengetahuan serta keterampilan memadai, diharapkan deteksi dini, edukasi kesehatan, dan pendampingan pasien dapat berjalan lebih efektif sehingga target eliminasi TBC dapat tercapai secara berkelanjutan.(rel/han)
Editor : Johan Panjaitan