TAPANULI UTARA, Sumutpos.jawapos.com– Upaya menekan angka kematian ibu (AKI) terus diperkuat melalui pendekatan yang lebih komprehensif dan berbasis teknologi. Program Studi DIII Kebidanan Tapanuli Utara, Poltekkes Kemenkes Medan, berkolaborasi dengan Puskesmas Sipahutar menghadirkan program optimalisasi Antenatal Care (ANC) yang mengintegrasikan edukasi kesehatan, pemeriksaan kehamilan, Triple Elimination, hingga skrining digital faktor risiko bagi ibu hamil.
Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang berlangsung sepanjang Juni hingga Juli 2026 itu diikuti 40 ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat deteksi dini risiko kehamilan sekaligus meningkatkan kemandirian ibu dalam menjaga kesehatan diri dan janin.
Ketua Tim PkM Prodi DIII Kebidanan Tapanuli Utara Poltekkes Kemenkes Medan, Sulastry Pakpahan, SST., M.Keb, mengatakan, kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan, tetapi juga membangun kesadaran ibu hamil agar mampu mengenali tanda-tanda bahaya sejak dini.
Baca Juga: Gempa Tektonik Aceh Terasa hingga Medan dan Deliserdang
"Kami ingin para ibu hamil tidak hanya bergantung pada jadwal pemeriksaan rutin, tetapi juga memiliki kemampuan melakukan deteksi dini secara mandiri. Sistem skrining digital yang kami gunakan dirancang sederhana sehingga mudah dipahami oleh ibu hamil maupun keluarganya," ujar Sulastry.
Selain edukasi mengenai tanda bahaya kehamilan, peserta juga mendapatkan pemeriksaan antenatal secara menyeluruh. Pemeriksaan meliputi pengukuran tekanan darah, pemantauan berat badan, perkembangan janin, hingga pemeriksaan laboratorium sebagai bagian dari program Triple Elimination, yaitu skrining HIV, sifilis, dan hepatitis B.
Program tersebut bertujuan mencegah penularan tiga penyakit infeksi dari ibu kepada bayi sejak masa kehamilan, sehingga jika ditemukan indikasi medis, penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Menurut Sulastry, integrasi antara pelayanan antenatal, edukasi kesehatan, dan pemanfaatan teknologi digital menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak, khususnya di wilayah pedesaan.
"Kami berharap pendekatan ini mampu mempercepat deteksi faktor risiko sehingga komplikasi kehamilan dapat dicegah lebih awal. Semakin cepat risiko diketahui, semakin besar peluang keselamatan ibu dan bayi," katanya.
Baca Juga: Sinergi Perdana Kapolres Paluta dan PWI, AKBP Dhery Ajak Media Bersama Jaga Kamtibmas
Kepala Puskesmas Sipahutar, dr. Renold D.M. Situmorang, menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia menilai keterlibatan perguruan tinggi memberikan nilai tambah dalam memperkuat layanan kesehatan ibu hamil di tingkat puskesmas.
"Kami sangat mengapresiasi sinergi bersama Tim Dosen Prodi DIII Kebidanan Tapanuli Utara Poltekkes Kemenkes Medan. Integrasi edukasi, pemeriksaan antenatal, Triple Elimination, dan skrining digital memungkinkan risiko kehamilan dideteksi lebih cepat sebelum berkembang menjadi komplikasi," ujarnya.
Ia menambahkan, sistem skrining digital juga memudahkan tenaga kesehatan dan kader dalam mendata serta memantau kondisi ibu hamil secara real time. Data yang terdokumentasi dengan baik akan mempercepat proses pengambilan keputusan medis apabila ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan segera.
Salah satu inovasi yang menjadi perhatian dalam program ini adalah keterlibatan aktif ibu hamil melalui platform skrining digital. Dengan menggunakan gawai, para peserta diajarkan mengenali berbagai faktor risiko kehamilan secara mandiri, sehingga tidak hanya menjadi penerima layanan kesehatan, tetapi juga berperan aktif dalam memantau kondisi kesehatannya sendiri.
Pendekatan tersebut mendapat respons positif dari peserta. Salah seorang ibu hamil mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru, terutama mengenai pentingnya mengenali tanda bahaya kehamilan dan menjalani pemeriksaan Triple Elimination.
"Kegiatannya sangat bermanfaat. Dulu saya belum memahami tanda bahaya kehamilan maupun pentingnya tes Triple Elimination. Sekarang saya lebih mengerti cara memantau kondisi kesehatan sendiri dan janin melalui aplikasi digital yang diajarkan," tuturnya.
Melalui sinergi antara dunia akademik, fasilitas pelayanan kesehatan, dan partisipasi aktif masyarakat, Poltekkes Kemenkes Medan berharap program ini mampu memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak sekaligus menjadi model pemberdayaan ibu hamil berbasis teknologi di Kabupaten Tapanuli Utara.(rel/han)
Editor : Johan Panjaitan