Siswa SMA 3, SMA 5, SMA 7, dan SMA 9 Terindikasi Terlibat Geng Motor

Juli Rambe • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 23:00 WIB
Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Alexander Sinulingga.(Dok : Ihsan Syahreza/Sumut Pos)
Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Alexander Sinulingga.(Dok : Ihsan Syahreza/Sumut Pos)

 

MEDAN, SUMUT POS- Dinas Pendidikan Sumatera Utara (Disdik Sumut) menegaskan akan mengambil tindakan tegas terhadap siswa SMA/SMK yang terbukti terlibat dalam aktivitas geng motor. 

Langkah tersebut dilakukan menyusul terungkapnya keterlibatan sejumlah pelajar di Kota Medan dalam kelompok geng motor yang belakangan kerap melakukan konvoi dan membawa senjata tajam.

Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Alexander Sinulingga, mengatakan pihaknya telah menerima informasi mengenai adanya siswa dari sejumlah sekolah yang diduga terlibat dalam aktivitas geng motor.

Baca Juga: Pertamina EP Pangkalan Susu Periksa Mata Gratis untuk Anak SD

Alexander menyebut beberapa sekolah yang siswanya terindikasi terlibat di antaranya SMA Negeri 7 Medan, SMA Negeri 3 Medan, SMA Negeri 5 Medan, serta SMA Negeri 9 Medan.

Menurutnya, pihak sekolah akan melakukan pembinaan terhadap siswa yang terlibat. Namun, apabila keterlibatan tersebut terbukti, Disdik Sumut tidak akan ragu memberikan sanksi tegas.

"Tim yang kita terima adalah keterlibatan siswa kita. Kita tahu kemarin ada SMA 7, SMA 3, SMA 5, dan SMA 9," kata Alex saat memberikan keterangan di Gedung DPRD Sumut, Jumat (14/8/2026).

Ia menjelaskan, penanganan terhadap siswa yang terlibat tidak hanya dilakukan melalui pendekatan pembinaan di sekolah. Para siswa juga akan dikembalikan kepada orang tua apabila terbukti terlibat dalam aktivitas geng motor.

"Yang terbukti terlibat, ini tentu akan kita berikan sanksi tegas dengan dikembalikan kembali kepada orang tua," ujarnya.

Alexander menegaskan, Disdik Sumut sebelumnya telah mengeluarkan surat edaran kepada sekolah agar meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas siswa, khususnya di luar lingkungan sekolah.

Surat edaran tersebut menjadi salah satu bentuk pencegahan agar para pelajar tidak terjerumus dalam berbagai aktivitas yang berpotensi membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

"Kita memang sudah pernah membuat surat edaran. Bahwasannya ada larangan anak-anak kita terlibat dalam kegiatan di luar yang tidak berkaitan dengan pendidikan," katanya.

Ia menambahkan, pengawasan terhadap siswa akan semakin diperketat. Pihaknya juga telah meminta sekolah untuk memetakan kondisi dan potensi kerawanan yang ada di lingkungan masing-masing.

"Pengawasan kepada sekolah akan diperketat. Kami sudah membuat pemetaan untuk sekolah-sekolah mana yang rawan dan sudah saya sampaikan di awal," ujar Alexander.

Sebelumnya Polrestabes Medan mengungkap kelompok geng motor Born To Be OK atau yang dikenal dengan nama Bornox. Kelompok tersebut belakangan menjadi sorotan setelah sejumlah video konvoi mereka beredar di media sosial dengan memperlihatkan anggota membawa senjata.

Dari hasil pemeriksaan terhadap sejumlah anggota yang telah diamankan, polisi menemukan bahwa kelompok tersebut diikuti oleh pelajar dari beberapa sekolah di Kota Medan.

Kanit Resmob Polrestabes Medan, Iptu Ramadhani Bimo Setiadi, mengatakan anggota Bornox yang diperiksa mengaku berasal dari tiga sekolah, yakni SMK Negeri 7 Medan, SMA Negeri 7 Medan, dan SMA Negeri 3 Medan.

"Mereka mengaku dari tiga sekolah tersebut. Basecamp mereka di Jalan Karya Celincing, Medan Barat," ungkap Bimo.

Temuan tersebut menjadi perhatian serius karena keterlibatan pelajar dalam kelompok geng motor dinilai dapat membawa mereka pada aktivitas yang berpotensi mengarah pada tindak kekerasan maupun tindak pidana.

Disdik Sumut pun memastikan akan berkoordinasi dengan pihak sekolah dan aparat penegak hukum untuk menindaklanjuti informasi mengenai siswa yang diduga terlibat.

Alexander mengatakan, berdasarkan data awal yang diterima pihaknya, terdapat sejumlah pelajar yang diamankan dalam penindakan yang dilakukan aparat.

"Kalau dilihat data-data yang terlibat, kemarin yang diamankan oleh APH itu ada satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan," katanya.

Meski demikian, Disdik Sumut masih melakukan pendataan dan verifikasi untuk memastikan identitas serta status sekolah dari seluruh pelajar yang terlibat.

Alexander menegaskan, pihaknya tidak ingin persoalan geng motor berkembang menjadi masalah yang lebih besar di kalangan pelajar. Karena itu, pengawasan akan dilakukan secara berkelanjutan, baik oleh sekolah maupun orang tua.

Menurutnya, upaya pencegahan tidak cukup hanya dilakukan setelah terjadi penindakan. Sekolah harus aktif mengawasi pergaulan siswa dan memberikan pemahaman mengenai konsekuensi dari keterlibatan dalam kelompok geng motor.

"Kita akan terus melakukan pengawasan dan pembinaan. Tetapi kalau sudah terbukti terlibat, tentu ada sanksi tegas," tegas Alexander.

Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan efek jera sekaligus menjadi peringatan bagi siswa lainnya agar tidak ikut terlibat dalam kelompok geng motor maupun kegiatan yang dapat membahayakan keselamatan dan masa depan mereka. (san/ram)

Editor : Juli Rambe
sekolah terindikasi geng motor Alexander Sinulingga Disdik Sumut