Tanoto Foundation Dorong Penguatan Pengasuhan Sejak Kehamilan di KIARA Sumut 2026

Redaksi • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 17:31 WIB
Kelas Inspirasi Antar-Penggerak Sumatera Utara 2026 bertema “Asuh Berpadu, Anak Melaju” yang digelar Tanoto Foundation di Hotel Hermes Medan.
Kelas Inspirasi Antar-Penggerak Sumatera Utara 2026 bertema “Asuh Berpadu, Anak Melaju” yang digelar Tanoto Foundation di Hotel Hermes Medan.

 

MEDAN - Tanoto Foundation terus mendorong penguatan pengasuhan anak sejak masa kehamilan sebagai bagian penting dalam membangun fondasi tumbuh kembang anak yang optimal. 

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Talkshow KIARA (Kelas Inspirasi Antar Penggerak) Sumatra Utara 2026 bertajuk “Asuh Berpadu, Anak Melaju” yang digelar di Medan, Kamis (20/8/2026).

Psikolog sekaligus Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara (USU), Rahma Yurliani, M.Psi., mengatakan perkembangan psikologis anak tidak baru dimulai setelah kelahiran. Hubungan emosional antara ibu dan anak telah mulai terbentuk sejak masa kehamilan.

Baca Juga: Serie A 2026–2027 Bergulir Akhir Pekan Ini, Derby Della Madonnina Jadi Panggung Allenatore Asing

“Kalau dari perspektif psikologi, perkembangan anak sebenarnya bukan dimulai dari nol ketika dia lahir. Sejak dalam kandungan, attachment itu sudah terbentuk,” ujar Rahma.

Menurut Rahma, respons ibu terhadap gerakan bayi, perhatian, serta kondisi emosional selama kehamilan menjadi bagian dari proses membangun kelekatan dengan anak. Hubungan tersebut kemudian berlanjut setelah kelahiran melalui interaksi anak dengan orang tua, keluarga dan lingkungan.

Karena itu, kondisi psikologis ibu selama kehamilan perlu mendapat perhatian. Pengasuhan sejak masa kehamilan dinilai menjadi salah satu fondasi penting bagi perkembangan sosial dan emosional anak.

Baca Juga: Soal PPPK Guru, Binjai dan Langkat Masih Menunggu Aturan Turunan Pemerintah Pusat

Sementara itu, Penyuluh KB Ahli Madya, Rilmawati Br Tarigan, SKM, MKM, mengatakan pemerintah terus memperkuat edukasi pengasuhan melalui berbagai program, salah satunya Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak).

Program tersebut memberikan edukasi kepada para pengasuh mengenai pola pengasuhan dan pemenuhan kebutuhan anak berdasarkan tahapan usia, termasuk kebutuhan gizi.

“Tidak semuanya paham bagaimana pengasuhan yang baik sesuai dengan umurnya. Termasuk pola makan yang terkadang disamaratakan,” katanya.

Baca Juga: KUA-PPAS P-APBD 2026 Proyeksikan Penambahan Anggaran Dinas SDABMBK Medan hingga Rp1 Triliun Lebih

Rilmawati menegaskan, pengasuhan bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu. Ayah, nenek dan anggota keluarga lainnya juga memiliki peran penting dengan memahami kebutuhan anak sesuai tahapan perkembangannya.

Pemerintah juga mendorong keterlibatan ayah melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia, termasuk sejak masa kehamilan.

“Ayah juga harus berperan, mulai dari saat kehamilan. Mendampingi istrinya melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan dan mendukung istrinya memberikan ASI eksklusif,” ujarnya.

Dari sisi pemenuhan gizi, Wakil Ketua sekaligus Breastfeeding Counselor AIMI Sumatera Utara, Miranda Agustien, mengatakan persoalan gizi ibu dan anak masih ditemukan di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Medan Utara.

Baca Juga: Jojo Pastikan Tiket 16 Besar Kejuaraan Dunia, Taklukkan Jason Teh dalam Tiga Gim

Menurutnya, kondisi di lapangan terkadang tidak sepenuhnya menggambarkan data yang tersedia. Karena itu, edukasi mengenai pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga periode pertumbuhan anak masih perlu terus diperkuat.

“Mulai dari gizi ibu, gizi calon bayi, bayi itu sendiri sampai anak yang berada di golden age, kita harapkan bisa bertumbuh dengan baik. Bukan hanya dari nutrisi, tetapi juga perkembangan sosial, emosional dan lainnya,” jelas Miranda.

Miranda menilai pemenuhan kebutuhan gizi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas dan organisasi masyarakat. AIMI Sumatera Utara juga terus memperluas pendampingan menyusui di berbagai daerah.

Baca Juga: MA Ketok Palu! Jaksa Dilarang Banding dan Kasasi atas Putusan Bebas

Sementara itu, Regional Lead Tanoto Foundation, Medi Yusva, menekankan pentingnya memperkuat fondasi pendidikan anak sejak usia dini, terutama kemampuan literasi dan numerasi.

Menurut Medi, tingginya angka partisipasi sekolah dan rasio guru belum otomatis menjamin kualitas hasil belajar. Kemampuan dasar anak perlu dibangun sejak pendidikan anak usia dini dan diperkuat pada kelas awal sekolah dasar.

“Kalau kelas 1, kelas 2 itu sudah tertanam dengan baik literasi-numerasi, guru SD lebih enak untuk mengajarkan sesuatu, dengan memfasilitasi pembelajaran. Siswa bisa belajar sendiri,” ungkapnya. 

Medi mengatakan peningkatan kualitas pendidikan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, keluarga dan berbagai pihak lainnya.

Baca Juga: Jangan Salah Sangka, 12 Zodiak Ini Diam-Diam Iri Melihat Orang Lain Sukses

Melalui KIARA Sumut 2026, Tanoto Foundation mendorong penguatan pengasuhan agar tidak berjalan sendiri, melainkan terhubung dengan pemenuhan gizi, keterlibatan keluarga dan penguatan pendidikan. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membangun fondasi tumbuh kembang anak yang kuat dan berkelanjutan sejak masa kehamilan hingga usia sekolah. (sih/tri)

Editor : Redaksi
tanoto foundation