MEDAN – Upaya memperkuat potensi ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis budaya Batak terus dilakukan melalui pemanfaatan teknologi digital. Tim dosen Universitas Pembinaan Masyarakat Indonesia (UPMI) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat melalui program Pemberdayaan Masyarakat melalui Pelatihan English for Ecotourism Berbasis Aplikasi ThingLink dan Odoo untuk Komersialisasi Desa Wisata Batak Warisan Dunia. Program tersebut merupakan hibah dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026.
Kegiatan ini menyasar Oky Ulos Kerajinan Tangan Khas Batak, yang beralamat di Jalan Pertahanan No. 43 A, Timbang Deli, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan. Program difokuskan pada dua persoalan utama yang dihadapi usaha, yakni aspek manajemen pembukuan usaha serta aspek pemasaran melalui digital branding dan promosi.
Tim pelaksana terdiri atas Margaret Stevani, S.Pd., M.Pd. dari Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris, Nurmayana, S.Pd., M.Li. dari Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris, serta Dr. Sabaruddin Chaniago, S.E., M.M. dari Program Studi Manajemen dan Ilmu Ekonomi UPMI.
Baca Juga: Kacabdis Wil XIII Nias Dorong Ketua Komite Sekolah dari Orang Tua, Bukan Pejabat
Margaret Stevani menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk membantu pelaku usaha tidak hanya memasarkan produk secara lebih luas, tetapi juga meningkatkan kemampuan komunikasi dengan wisatawan dan konsumen mancanegara.
“Pelatihan English for Ecotourism kami arahkan agar pelaku usaha mampu memperkenalkan produk, menjelaskan nilai budaya Batak, memberikan informasi harga, serta berkomunikasi dengan wisatawan menggunakan bahasa Inggris. Kami juga mengintegrasikan Bahasa Batak, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris agar identitas budaya tetap menjadi kekuatan utama dalam pemasaran,” ujar Margaret.
Menurutnya, penggunaan ThingLink memungkinkan informasi mengenai produk dan budaya Batak dikemas secara lebih interaktif dan menarik. Produk tidak sekadar ditampilkan sebagai barang dagangan, tetapi juga dilengkapi narasi yang membantu calon pembeli memahami nilai budaya di balik kerajinan tersebut.
Baca Juga: Bupati Batu Bara Dorong Ekspor Produk UMKM dan Hasil Pertanian, Target Realisasi Akhir 2026
Nurmayana menambahkan, kemampuan bahasa menjadi bagian penting dalam pengembangan promosi wisata dan produk kerajinan. Karena itu, peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga praktik penyusunan informasi produk dalam tiga bahasa.
“Kami memberikan pendampingan dalam membuat deskripsi produk yang sederhana, komunikatif, dan mudah dipahami. Bahasa Batak digunakan untuk memperkuat identitas lokal, Bahasa Indonesia untuk pasar nasional, sedangkan Bahasa Inggris diarahkan untuk wisatawan dan konsumen internasional,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, tim juga membantu pengembangan e-katalog dan brosur digital yang memuat produk Oky Ulos. Katalog tersebut dirancang secara bilingual dan trilingual sehingga dapat digunakan sebagai media promosi sekaligus sarana memperkenalkan kerajinan khas Batak kepada masyarakat yang lebih luas.
Baca Juga: Arsenal vs Coventry City: Beban Juara Bertahan dan Ancaman Sang Penantang
Dari sisi manajemen usaha, Dr. Sabaruddin Chaniago mengatakan bahwa digitalisasi pembukuan menjadi salah satu komponen penting dalam program tersebut. Pelaku usaha diberikan pendampingan untuk melakukan pencatatan transaksi secara digital sehingga data penjualan dapat terdokumentasi dengan lebih teratur.
“Pembukuan yang baik sangat penting untuk mengetahui arus transaksi, perkembangan penjualan, dan kondisi usaha. Melalui sistem pencatatan transaksi digital, pelaku usaha diharapkan tidak lagi bergantung pada pencatatan manual yang berisiko tercecer atau sulit direkap,” jelas Sabaruddin.
Pemanfaatan Odoo menjadi bagian dari solusi digital yang diperkenalkan dalam program ini. Sistem tersebut diarahkan untuk mendukung pengelolaan transaksi dan administrasi usaha secara lebih terstruktur, sedangkan ThingLink digunakan untuk memperkuat penyajian informasi produk dan pengalaman promosi digital.
Baca Juga: Trump Klaim Korut Punya 57 Senjata Nuklir, Tegaskan Tak Akan Membiarkannya
Pemilik Oky Ulos menyambut positif kegiatan pendampingan tersebut. Menurutnya, pelatihan memberikan pengalaman baru dalam mengelola dan mempromosikan produk kerajinan Batak.
“Selama ini kami lebih banyak mengandalkan penjualan secara langsung dan media sosial. Dengan adanya pelatihan ini, kami mendapatkan pengetahuan baru tentang katalog digital, promosi menggunakan teknologi, pencatatan transaksi, serta bagaimana menjelaskan produk kepada konsumen menggunakan Bahasa Indonesia, Bahasa Batak, dan Bahasa Inggris,” ungkapnya.
Ia berharap penerapan teknologi tersebut dapat membantu Oky Ulos memperluas pasar dan meningkatkan daya saing produk kerajinan khas Batak.
“Kami berharap produk Oky Ulos semakin dikenal, bukan hanya oleh masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan dari berbagai daerah dan mancanegara. Kami ingin kerajinan Batak tetap memiliki nilai budaya sekaligus mampu memberikan nilai ekonomi bagi usaha,” tambahnya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Tren, Ini Manfaat Yoga bagi Kesehatan Tubuh
Melalui program hibah pengabdian kepada masyarakat Tahun 2026 tersebut, UPMI mendorong penguatan kapasitas pelaku usaha melalui integrasi bahasa, budaya, manajemen, dan teknologi digital. Pengembangan e-katalog, brosur, digital branding, ThingLink, Odoo, serta pencatatan transaksi digital diharapkan dapat menjadi langkah konkret menuju komersialisasi produk budaya Batak yang lebih profesional dan berkelanjutan.
Program ini sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan transformasi digital. Kerajinan Batak tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga dikembangkan menjadi produk kreatif yang mampu dipromosikan kepada pasar nasional dan internasional dengan tetap mempertahankan identitas lokal. (rel)
Editor : Redaksi