LANGKAT, Sumutpos.jawapos.com – Edukasi kesehatan lingkungan untuk anak usia dini tak lagi harus berlangsung lewat metode konvensional. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) memadukan edukasi kesehatan, teknologi digital, dan pengelolaan sampah dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Raudhatul Athfal (RA) Amanah, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, Sabtu (22/8/2026).
Sebanyak 40 siswa RA Amanah bersama para guru mengikuti kegiatan yang menjadi bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi tersebut.
Program itu dirancang untuk menanamkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sekaligus meningkatkan literasi digital anak melalui pendekatan yang dekat dengan dunia mereka: bermain, mencoba, dan berinteraksi langsung dengan teknologi.
Baca Juga: Lima Ruko di Jalan Bandung Pematangsiantar Ludes Terbakar, Kerugian Ditaksir Miliaran
Kegiatan tersebut mengusung program Model Edukasi Kesehatan Lingkungan Berbasis Game Scratch, Robot Tong Sampah Pintar, dan Pengolahan Eco-Enzyme untuk Meningkatkan PHBS serta Literasi Digital Anak Usia Dini di RA Amanah.
Belajar Memilah Sampah Lewat Permainan
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah game edukasi digital berbasis Scratch. Melalui permainan tersebut, anak-anak diperkenalkan pada perbedaan sampah organik dan anorganik dengan tampilan visual serta interaksi sederhana.
Metode ini membuat konsep yang sebelumnya bersifat abstrak menjadi lebih mudah dipahami. Anak tidak sekadar mendengar penjelasan mengenai jenis sampah, tetapi diajak mengenal dan menentukan tempat yang tepat bagi setiap jenis sampah melalui permainan.
Pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan praktik menggunakan robot tong sampah pintar berbasis Arduino Uno.
Baca Juga: HUT ke-27 Serikat Pekerja PLN Diisi Aksi Donor Darah
Perangkat tersebut memiliki dua kompartemen untuk sampah organik dan anorganik. Dilengkapi sensor ultrasonik dan motor servo, tutup tong dapat terbuka secara otomatis ketika digunakan.
Teknologi sederhana itu menjadi media belajar yang menarik sekaligus memperlihatkan kepada anak bahwa teknologi dapat dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan hidup sehat dan peduli lingkungan.
Sampah Organik Diubah Menjadi Eco-Enzyme
Tak berhenti pada pemilahan, siswa dan guru juga diperkenalkan dengan pemanfaatan sampah organik melalui pengolahan eco-enzyme.
Kulit buah dan sisa sayuran diperkenalkan sebagai bahan yang masih memiliki nilai guna. Melalui proses pengolahan, sampah organik tersebut dapat dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari pembelajaran mengenai daur ulang dan pengelolaan lingkungan.
Dalam program tersebut, eco-enzyme yang dihasilkan direncanakan dapat dimanfaatkan sebagai pembersih lantai sekolah dan pupuk tanaman.
Pendekatan ini sekaligus mengenalkan konsep ekonomi sirkular dalam bentuk yang sederhana dan sesuai dengan usia anak. Sampah tidak selalu berakhir di tempat pembuangan, tetapi dapat diolah dan memiliki manfaat baru.
Guru Jadi Kunci Keberlanjutan Program
Tim FK USU juga memberikan perhatian pada peran guru. Edukasi tidak berhenti setelah kegiatan pengabdian selesai, tetapi diharapkan dapat diteruskan melalui aktivitas pembelajaran sehari-hari.
Para guru diperkenalkan dengan penggunaan Game Scratch, pengoperasian tong sampah pintar, hingga proses pembuatan eco-enzyme. Dengan bekal tersebut, sekolah diharapkan dapat mengembangkan metode yang telah diperkenalkan menjadi kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.
Baca Juga: Russell dan Piastri Bertahan, Bursa Transfer F1 2026 Makin Tenang
Pembiasaan sejak usia dini dinilai penting karena sekolah merupakan salah satu ruang utama pembentukan karakter anak. Kebiasaan memilah sampah, menjaga kebersihan dan menerapkan PHBS diharapkan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga terbawa ke rumah dan lingkungan sekitar.
Dorong Pembelajaran yang Lebih Kontekstual
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat FK USU, dr Hendri Wijaya M.Ked(Ped) Sp.A(K), menekankan pentingnya memberikan edukasi kesehatan lingkungan dengan metode yang sesuai karakteristik anak usia dini.
Menurutnya, pengenalan PHBS dan pemilahan sampah akan lebih bermakna apabila anak mendapatkan pengalaman secara langsung.
Pendekatan praktik membuat anak tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi ikut terlibat dalam proses belajar. Mereka dapat melihat, mencoba, dan memahami manfaat dari kebiasaan yang diperkenalkan.
Sementara itu, Prof Dr dr Rina Amelia MARS SpKKLP Subsp FOMC mengatakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat menjadi bentuk kontribusi akademisi dalam menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Pendekatan yang digunakan, kata dia, juga sejalan dengan upaya membangun lingkungan sekolah yang sehat melalui langkah promotif dan preventif.
Baca Juga: Bikin Boomer Tak Berkutik, 8 Prinsip Gen Z Ini Ternyata Penting untuk Kehidupan Modern
Program tersebut turut mendukung sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, SDGs 4 mengenai pendidikan berkualitas, serta SDGs 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Kolaborasi Akademisi dan Sekolah
Tim pengabdian FK USU dipimpin dr Hendri Wijaya M.Ked(Ped) SpA(K), dengan anggota Prof Dr dr Rina Amelia MARS SpKKLP Subsp FOMC dan dr Yuki Yunanda MKes.
Materi mengenai eco-enzyme disampaikan Dr rer medic dr M Ichwan MSc SpKKLP Subsp FOMC. Kegiatan juga mendapat dukungan dari dokter muda Teshalonyka Octaviani Nababan, Muhammad Muazzam, Dwi Adinda Putri Siregar, dan Ajith Kumar.
Kolaborasi tersebut mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan praktis di lingkungan sekolah.
Lebih dari sekadar mengenalkan teknologi, kegiatan ini berupaya membangun kebiasaan. Game Scratch menjadi pintu masuk literasi digital, tong sampah pintar menjadi media praktik, sementara eco-enzyme memperkenalkan pemanfaatan sampah organik secara nyata.(dwi/han)
Editor : Johan Panjaitan