STABAT, Sumutpos.jawapos.com – Bencana banjir tidak berhenti ketika air surut. Bagi anak-anak yang mengalaminya, ingatan tentang air bah, kepanikan saat evakuasi, hingga kehilangan barang-barang pribadi dapat meninggalkan persoalan yang jauh lebih panjang: gangguan kesehatan dan ketahanan psikologis.
Kondisi itulah yang menjadi perhatian Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) bersama The University of Kitakyushu, Jepang. Kedua institusi tersebut berkolaborasi melakukan pengabdian masyarakat di Pondok Pesantren Al-Ikhwan Assalam, Desa Serapuh ABC, Kecamatan Padangtualang, Kabupaten Langkat.
Kegiatan yang berlangsung sejak 26 Agustus hingga 2 September 2026 itu tidak sekadar menyasar pemulihan kesehatan anak-anak yang terdampak banjir. Program juga diarahkan untuk membangun kesadaran mitigasi bencana sekaligus memperkuat kesiapsiagaan sekolah menghadapi kemungkinan bencana berikutnya.
Baca Juga: Tren Hidup Sehat Makin Kuat, Industri Alkohol Mulai Kehilangan Peminum Muda
Dr. T. Kemala Intan M. Biomed selaku pemimpin kegiatan mengatakan, dampak bencana terhadap anak tidak selalu terlihat secara fisik. Kecemasan, rasa takut, perubahan perilaku hingga kesulitan mengekspresikan emosi dapat muncul setelah bencana berlalu.
Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak hanya melalui edukasi kesehatan, tetapi juga pelatihan mitigasi dan simulasi evakuasi yang melibatkan siswa serta guru.
“Selain workshop, juga ada pelatihan mitigasi bencana yang diikuti sebanyak 100 siswa dan 20 guru pesantren yang terbagi dalam lima kelompok,” ujar Kemala, didampingi dr. M. Ichwan dan Dr. Fitriani Lumongga dari FK USU, Jumat (4/9/2026).
Kolaborasi tersebut juga melibatkan Fumitoshi Murae, Associate Professor The University of Kitakyushu, serta Indriyani Rachman PhD yang memiliki kepakaran di bidang pendidikan lingkungan dan mitigasi bencana.
Menurut Kemala, kegiatan ini sekaligus melahirkan kelompok Environment Leader and Health (ELH). Kelompok tersebut diharapkan dapat menjadi training of trainers (TOT) bagi siswa lainnya sehingga pengetahuan mengenai kesehatan dan mitigasi bencana tidak berhenti pada peserta pelatihan.
Baca Juga: Turnamen Catur SIWO PWI Sumut-STOK Bina Guna Dorong Lahirnya Pecatur Berprestasi
Workshop untuk guru dan siswa dirancang dengan mengadaptasi pengalaman Jepang ke dalam konteks lokal pesantren di Langkat. Materinya dikemas melalui kuliah singkat, aktivitas berbasis gerak, diskusi kelompok hingga pembuatan cerita bergambar.
“Melalui kombinasi kuliah singkat, aktivitas berbasis gerak, diskusi kelompok, serta pembuatan cerita bergambar, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga pengalaman praktis yang dapat langsung diterapkan,” jelasnya.
Banjir 2025 Jadi Pelajaran Berharga
Program tersebut berangkat dari pengalaman pahit yang dialami Pesantren Al-Ikhwan Assalam ketika banjir melanda Langkat pada pekan ketiga November 2025.
Saat itu, kawasan pesantren terendam air bercampur lumpur hingga mencapai sekitar 1,5 meter. Para siswa harus dievakuasi secara bertahap menggunakan sampan dan perahu dengan bantuan masyarakat sekitar.
Situasi semakin sulit karena bantuan belum tiba di lokasi ketika proses evakuasi berlangsung.
“Peralatan sekolah dan barang pribadi umumnya tidak dapat digunakan kembali,” kata Kemala.
Sejumlah siswa juga sempat mengalami gangguan kesehatan. Namun, kondisi tersebut tidak seluruhnya terpantau oleh pihak guru karena penanganan anak dilakukan langsung oleh keluarga masing-masing.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa dampak bencana tidak sebatas kerusakan bangunan dan kehilangan barang. Lingkungan pendidikan yang dihuni ratusan anak selama hampir 24 jam sehari juga membutuhkan sistem kesiapsiagaan yang lebih terstruktur.
Pesantren Al-Ikhwan Assalam sendiri menampung sekitar 500 siswa tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).
“Permasalahan banjir tidak hanya berdampak terhadap fisik guru dan siswa, tetapi juga terhadap ketahanan mental untuk dapat bertahan dan mengerti bahwa mereka hidup dan berkarya dalam lingkungan yang rawan bencana alam,” ujarnya.
Kemala menilai keterbatasan pengalaman dalam menghadapi bencana membuat pembekalan harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Tidak hanya siswa dan guru, tetapi juga orang tua serta masyarakat sekitar perlu memiliki pemahaman yang sama tentang langkah penyelamatan ketika bencana kembali terjadi.
Dari Simulasi hingga Cerita Bergambar
Hal menarik terlihat ketika simulasi evakuasi dilakukan. Kemala menyebut, sebelumnya pengetahuan guru dan siswa mengenai mitigasi serta prosedur evakuasi masih sangat terbatas.
Namun, ketika simulasi dimulai, para siswa justru menunjukkan antusiasme tinggi.
Salah satu metode yang digunakan adalah Kamishibai, seni bercerita tradisional Jepang yang memanfaatkan lembaran kartu bergambar. Metode sederhana ini dipilih karena mudah dipahami dan dapat diterapkan tanpa teknologi yang rumit.
“Metode ini disebut low technology, namun mudah untuk dimengerti dan diimplementasikan. Metode ini juga sesuai dengan sosial budaya setempat dan pemahaman secara religi, di mana kondisi pesantren erat dengan cerita sejarah Melayu dan berhubungan dengan ajaran agama Islam,” terang Kemala.
Dalam praktiknya, siswa dibagi ke dalam kelompok. Mereka menyusun cerita berdasarkan ide masing-masing, kemudian menuangkannya dalam bentuk gambar.
Proses tersebut bukan sekadar kegiatan kreatif. Di dalamnya terdapat pembelajaran tentang komunikasi, kerja sama dan penghargaan terhadap pendapat orang lain.
Dengan cara sederhana itu, siswa tidak hanya diajak memahami apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi juga diberi ruang untuk mengolah pengalaman dan gagasan mereka sendiri.
Mitigasi Harus Masuk Kurikulum Pesantren
Dari rangkaian kegiatan tersebut, FK USU dan The University of Kitakyushu mendorong agar kesiapsiagaan bencana tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Kemala menilai edukasi kesehatan dan mitigasi bencana perlu menjadi bagian dari sistem pendidikan pesantren. Terlebih, pesantren merupakan lingkungan pendidikan yang aktivitasnya berlangsung sepanjang hari.
“Dari kegiatan yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa edukasi dalam meningkatkan kualitas pos kesehatan pesantren sangat penting ditingkatkan, disebabkan pesantren menjalankan kegiatan selama 24 jam sehari,” katanya.
Ia juga menekankan perlunya penyediaan peralatan kesehatan dasar sebagai bagian dari pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), disertai pelatihan penanganan cedera bagi guru maupun siswa.
Ke depan, materi mitigasi bencana juga didorong untuk masuk ke dalam kurikulum pesantren sehingga kesiapsiagaan tidak hanya diajarkan ketika bencana terjadi, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Program ini sekaligus diarahkan untuk memperkuat ketahanan masyarakat lokal terhadap banjir maupun ancaman bencana lainnya, termasuk gempa bumi.
Kolaborasi FK USU dan The University of Kitakyushu juga sejalan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan, SDG 4 mengenai pendidikan berkualitas, SDG 11 tentang permukiman berkelanjutan, serta SDG 17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan.
Bagi para siswa Pesantren Al-Ikhwan Assalam, pengalaman banjir 2025 bukan sekadar catatan masa lalu. Ia menjadi pelajaran bahwa kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana datang.
Sebab ketika air kembali naik, keselamatan tidak cukup hanya mengandalkan bantuan yang datang. Pengetahuan, kesiapan dan kemampuan untuk menyelamatkan diri harus sudah dimiliki sejak awal.(ted/han)
Editor : Johan Panjaitan