Dari Dairi ke Guangzhou, Daniel Menimba Ilmu dan Pengalaman di China

Redaksi • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 23:09 WIB
Daniel Fransiskus Simarmata.
Daniel Fransiskus Simarmata.

 

GUANGZHOU, SUMUT POS – Pukul 06.00 waktu setempat, aktivitas mulai terasa di sebuah asrama mahasiswa di Guangzhou, China. Di tengah kesibukan kota dan lingkungan kampus, Daniel Fransiskus Simarmata bersama lima mahasiswa asal Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, bersiap menjalani rutinitas sebagai mahasiswa di negeri orang.

Daniel merupakan penerima Beasiswa PT Dairi Prima Mineral (DPM) angkatan ketiga yang mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan di Guangdong Polytechnic of Industry and Commerce (GDPIC), China.

Jauh dari suasana kampung halaman, Daniel dan teman-temannya dituntut hidup mandiri. Mulai mengatur waktu, menyiapkan kebutuhan kuliah, mengelola uang saku hingga menyelesaikan tugas akademik menjadi bagian dari keseharian mereka.

“Di Guangzhou, biasanya saya bangun di asrama, mandi, lalu mempersiapkan diri untuk kelas. Kalau di Indonesia biasanya sarapan di rumah, sedangkan di China kami biasanya langsung ke kelas dengan berjalan kaki karena asrama masih berada di lingkungan kampus,” ujar Daniel.

Baca Juga: Asap Karhutla Tidak Sekadar Mengganggu Pernapasan, Ini Risiko Lainnya

Menurut Daniel, perbedaan budaya dan kebiasaan masyarakat menjadi salah satu pengalaman menarik selama tinggal di Guangzhou. Salah satunya sistem pembayaran yang hampir seluruhnya dilakukan secara digital.

“Hal yang pertama kali menarik perhatian saya ketika tiba di Guangzhou adalah melihat orang-orang China, kemudian sistem pembayaran yang semuanya serba online,” katanya.

Belajar Teknologi dan Disiplin Waktu

Perkuliahan dimulai pukul 08.00. Daniel mengambil bidang Machinery Manufacturing and Automation, yang memadukan pembelajaran teori dan praktik terkait mesin, teknologi, otomasi serta proses manufaktur.

Dari proses perkuliahan tersebut, ia juga merasakan perbedaan budaya belajar, terutama dalam hal kedisiplinan waktu.

Baca Juga: Dispora Medan Ambil Alih Kontingen Porprovsu 2026, Pertina Ancam Tak Berangkatkan Atlet

“Semua serba tepat waktu. Liburnya juga tergolong lebih sedikit dibanding Indonesia. Bahkan ada hari Minggu yang digunakan sebagai hari belajar untuk mengganti hari libur sebelumnya,” ungkapnya.

Selain teknologi, Daniel juga harus beradaptasi dengan bahasa Mandarin yang digunakan dalam berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari perkuliahan hingga berkomunikasi dengan masyarakat setempat.

Ia pernah mengalami kejadian lucu ketika seorang warga China menanyakan arah jalan di lingkungan kampus. Karena belum memahami bahasa Mandarin dengan baik, Daniel hanya bisa terdiam.

Pengalaman tersebut justru menjadi pemicu baginya untuk terus mempelajari bahasa Mandarin sedikit demi sedikit.

Rindu Masakan Rumah

Kesibukan kuliah tidak membuat Daniel melupakan kampung halaman. Jarak ribuan kilometer dari Dairi membuat masakan rumah menjadi salah satu hal yang paling dirindukannya.

Baca Juga: Sidang Prapid Doddy Tahir, Ghazali Persoalkan Surat Advokat sebagai Objek Pidana Bukan Pemalsuan Sur

“Kami selalu rindu masakan rumah, terutama masakan mama. Saya kangen semua masakan mamak, terutama ayam goreng bumbu,” katanya.

Di sela perkuliahan, Daniel dan teman-temannya menghabiskan waktu bersama mahasiswa Indonesia maupun mahasiswa China. Mereka terkadang makan malam bersama, bernyanyi atau sekadar berkumpul melepas penat setelah menjalani aktivitas akademik.

Malam hari biasanya kembali diisi dengan mengerjakan tugas dan mempersiapkan materi perkuliahan untuk keesokan harinya.

Di tengah kesibukan tersebut, komunikasi dengan keluarga menjadi pengobat rindu. Pertanyaan sederhana dari orang tua, seperti sudah makan, sehat atau bagaimana kuliah, terasa semakin berarti ketika berada jauh dari rumah.

Baca Juga: Percepat Listrik Perdesaan, Kementerian ESDM Bersama PLN dan Pemprovsu Sinkronkan Usulan Lokasi

“Ada rasa rindu karena jaraknya jauh, sedih karena tidak akan berjumpa selama tiga tahun, tetapi juga senang karena masih bisa berkomunikasi dan menceritakan pengalaman baru di China,” ujar Daniel.

Membawa Pulang Ilmu ke Dairi

Bagi Daniel, kesempatan belajar di China bukan sekadar memperoleh pendidikan di luar negeri. Ia ingin menguasai ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama berada di China untuk bekal masa depan.

Ia berharap dapat meningkatkan kemampuan berbahasa Mandarin sekaligus memperdalam keterampilan praktik di bidang mesin sesuai jurusan yang dipilihnya.

“Saya berharap bisa memaksimalkan segala hal yang saya pelajari di sini, termasuk ilmu dari jurusan dan kemampuan berbahasa Mandarin. Semoga kelak saya bisa bekerja di perusahaan tambang dengan membawa pengalaman dari China,” harapnya.

Baca Juga: Rocky Gerung Ungkap Alasan Masuk Lingkaran Istana

Program Beasiswa PT DPM telah berjalan sejak 2019 sebagai bagian dari program pengembangan masyarakat perusahaan. Bagi Daniel dan mahasiswa asal Dairi lainnya, kesempatan tersebut menjadi pintu untuk mengenal teknologi, budaya serta lingkungan pendidikan internasional.

Dari Guangzhou, mereka tidak sekadar mengejar ijazah. Mereka sedang mengumpulkan ilmu, pengalaman dan keterampilan yang diharapkan dapat dibawa pulang untuk membangun masa depan setelah kembali ke Indonesia. (rel/tri)

Editor : Redaksi
pendidikan guangzhou