Kenali Pasangan yang Suka Playing Victim, Ini Cirinya

Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 07:36 WIB
ilustrasi, orang yang suka playing victim bisa dilihat dengan ciri tertentu. (pexels.com)
ilustrasi, orang yang suka playing victim bisa dilihat dengan ciri tertentu. (pexels.com)

 

sumutpos.jawapos.com - Kata manipulatif mungkin pas untuk orang yang suka playing victim dan pola laku itu sekarang semakin banyak.

Tidak hanya dalam dunia kerja, organisasi, maupun pertemanan. Playing victim bahkan menyentuh hubungan orang yang berpasangan, baik menikah maupun pacaran.

Melansir Codependency, Rabu (19/8/2026), playing victim kerap muncul secara halus sehingga sulit dikenali, baik dalam hubungan asmara, pertemanan, lingkungan kerja, maupun keluarga.

Secara umum, playing victim merujuk pada sikap seseorang yang terus-menerus menempatkan diri sebagai korban, meski dalam situasi tertentu justru ikut berperan dalam munculnya masalah. 

Baca Juga: Wamenhaj Tegaskan akan Cabut Izin Hanania Travel

Tujuannya bisa beragam, mulai dari mencari simpati, menghindari tanggung jawab, hingga memengaruhi emosi orang lain. 

Perilaku ini juga bisa berkaitan dengan mekanisme pertahanan diri. Ada yang melakukannya secara sadar demi mendapatkan perhatian, tetapi ada pula yang tidak menyadari bahwa pola tersebut sudah terbentuk sejak lama.

Berikut ciri-ciri orang yang suka playing victim:

1. Sulit mengakui kesalahan
Salah satu tanda paling umum adalah tidak mau bertanggung jawab atas tindakan sendiri. 

Mereka cenderung mencari kambing hitam dan menyalahkan keadaan, orang lain, atau lingkungan sekitar.

Ketika menghadapi kegagalan dalam pekerjaan atau konflik dalam hubungan, mereka lebih fokus mencari siapa yang salah dibanding melakukan introspeksi diri.

2. Selalu ingin dikasihani
Orang yang suka playing victim umumnya haus simpati. Mereka kerap menceritakan kesulitan hidup secara berulang dengan harapan mendapat perhatian dan belas kasihan dari orang lain.

Baca Juga: Konsulat Jenderal India di Medan Gelar Perayaan Hari Kemerdekaan ke-80 India

Alih-alih mencari solusi, fokus mereka sering kali hanya pada bagaimana agar orang lain merasa iba terhadap situasi yang dialami.

3. Sering membuat orang lain merasa bersalah
Perilaku ini juga dapat menjadi bentuk manipulasi emosional. Mereka menggunakan rasa bersalah untuk memengaruhi keputusan atau tindakan orang lain.

Misalnya, ketika keinginannya tidak dipenuhi, mereka akan bertindak seolah paling tersakiti agar orang lain merasa bersalah dan akhirnya mengalah.

4. Menganggap hidup selalu tidak adil
Kalimat seperti 'Kenapa ini selalu terjadi padaku?' atau 'Semua orang jahat kepadaku' sering keluar dari mereka yang memiliki mentalitas korban.

Baca Juga: Wali Kota Ikut Lomba Mancing, Ketua TP PKK Pematangsiantar Raih Juara 4

Pola pikir ini membuat seseorang terus berada dalam lingkaran negatif dan merasa tidak punya kendali atas hidupnya sendiri.

5. Kurang empati terhadap orang lain
Meski menuntut perhatian dan empati, orang yang playing victim sering kali kurang peduli pada perasaan orang lain. Fokus mereka hanya pada penderitaan pribadi. 

Akibatnya, hubungan menjadi tidak seimbang karena komunikasi berpusat pada kebutuhan emosional mereka saja.

6. Gemar membesar-besarkan masalah
Masalah kecil bisa terdengar sangat dramatis ketika diceritakan oleh pelaku playing victim. 

Mereka cenderung memperbesar situasi agar terlihat lebih menyedihkan dan memancing perhatian lebih banyak orang.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa membuat lingkungan sekitar merasa lelah secara emosional.

7. Sulit menerima kritik
Orang dengan mentalitas korban biasanya mudah tersinggung ketika mendapat kritik atau masukan. 

Mereka menganggap kritik sebagai serangan pribadi, bukan bentuk evaluasi. 

Tak jarang, mereka langsung membalikkan keadaan dan menempatkan diri sebagai pihak yang paling disakiti.

8. Lebih suka mengeluh daripada mencari solusi
Alih-alih mengambil langkah untuk memperbaiki keadaan, mereka lebih nyaman terus mengeluh. 

Energi lebih banyak dihabiskan untuk meratapi keadaan dibanding mencari jalan keluar.

Kebiasaan ini dapat menghambat perkembangan diri dan membuat masalah terus berulang.

Kebiasaan terus-menerus memosisikan diri sebagai korban dapat berdampak buruk, baik bagi diri sendiri maupun orang di sekitar. (lin)

Editor : Redaksi
Playing Victim Hubungan Sehat Pasangan Toksik Manipulasi Emosi psikologi hubungan