Studi 300 Ribu Orang Ungkap Rahasia Kebahagiaan Kaum Single

Redaksi • Dipublikasikan Rabu, 28 Oktober 2026 | 22:06 WIB
Ilustrasi. Studi terhadap 300 ribu orang di 32 negara Eropa mengungkap faktor kebahagiaan kaum single.(Instagram @cretivox)
Ilustrasi. Studi terhadap 300 ribu orang di 32 negara Eropa mengungkap faktor kebahagiaan kaum single.(Instagram @cretivox)

sumutpos.jawapos.com - Status lajang atau single tidak selalu identik dengan kesepian dan ketidakbahagiaan. Sebuah analisis yang melibatkan sekitar 300 ribu orang dari 32 negara di Eropa menemukan bahwa orang yang tidak memiliki pasangan romantis tetap bisa menikmati kehidupan yang memuaskan, terutama ketika masih berusia 20-an.

Melansir Instagram @cretivox, Selasa (27/10/3926), salah satu faktor yang membuat kaum single merasa lebih nyaman adalah minimnya tekanan sosial untuk segera menikah. Pada usia tersebut, mereka cenderung belum terlalu sering menghadapi desakan dari kerabat maupun tetangga mengenai kapan akan memiliki pasangan atau membangun rumah tangga.

Selain itu, orang yang tidak memiliki pasangan juga cenderung lebih sering bersosialisasi dengan teman, kerabat, dan rekan kerja dibandingkan mereka yang sudah menikah. Interaksi sosial ini dapat menjadi sumber dukungan emosional sekaligus membantu mereka merasa terhubung dengan lingkungan sekitar.

Baca Juga: Sumpah Pemuda ke-98, Wali Kota Tebingtinggi Tekankan Patriotisme dan Kepedulian Sosial

Meski demikian, penelitian tersebut menunjukkan bahwa tidak semua orang yang berstatus lajang memiliki tingkat kebahagiaan yang sama. Cara seseorang memandang kehidupan tanpa pasangan turut memengaruhi kepuasan hidupnya.

Orang yang percaya bahwa kebahagiaan hanya bisa diperoleh melalui hubungan romantis cenderung merasa tidak nyaman ketika menjalani hidup sendirian. Pandangan tersebut dapat membuat mereka lebih sulit menikmati status lajang dan berpotensi menurunkan kepuasan hidup.

Sebaliknya, kaum single yang aktif memelihara hubungan pertemanan cenderung memiliki pengalaman yang lebih positif. Mereka dapat merasa diterima oleh lingkungan, memiliki harga diri yang lebih tinggi, serta lebih nyaman dengan status hubungan mereka.

Baca Juga: Barantin Dorong Pembentukan Politeknik Karantina, Siapkan SDM Profesional Jaga Keamanan Hayati

Temuan ini memperlihatkan bahwa kebahagiaan tidak semata-mata ditentukan oleh ada atau tidaknya pasangan. Kualitas hubungan sosial, penerimaan terhadap diri sendiri, dan cara seseorang memaknai kehidupannya juga berperan penting.

Bagi orang yang masih melajang, membangun pertemanan yang sehat dan menjaga hubungan dengan keluarga dapat menjadi salah satu cara untuk memperoleh dukungan emosional. Mereka juga tidak harus terburu-buru menjalin hubungan romantis hanya karena tuntutan atau ekspektasi sosial.

Pada akhirnya, menikah maupun melajang merupakan pilihan dan kondisi kehidupan yang dapat menghadirkan pengalaman berbeda bagi setiap orang. Kebahagiaan tidak memiliki satu ukuran yang berlaku bagi semua orang, tetapi dapat tumbuh melalui hubungan yang bermakna, penerimaan diri, dan kemampuan menikmati kehidupan yang sedang dijalani.(lin)

Editor : Redaksi
single Lajang psikologi Kesehatan Mental kebahagiaan