Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Masjid Raya Al Osmani yang Diarsiteki Warga Jerman, Alami Tujuh Kali Renovasi Sejak 1870

Admin SP • Sabtu, 23 Maret 2024 | 12:01 WIB
BERDIRI MEGAH: Masjid Raya Al-Mahsun,  berdiri megah di Jalan KL Yos Sudarso Km 19,5, Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan.
BERDIRI MEGAH: Masjid Raya Al-Mahsun, berdiri megah di Jalan KL Yos Sudarso Km 19,5, Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan.


Kerajaan Deli, dulunya terletak disekitar Masjid Raya Al-Osmani. Istananya pun tepat berada di depan masjd ini, sampai pada masa kesultanan yang ke delapan. Sedangkan masa Kesultanan yang kesembilan, barulah Istana Maimun dibangun dan sultan menetap di sana sekitar 1901 hingga generasinya yang sekarang.

Laporan: Ihsan Syahreza, Medan Utara


Diketahui, Masjid Raya Al-Osmani sudah mengalami tujuh kali renovasi sejak pertama berdiri. Diantaranya dilakukan pada zaman Sultan Osman, Sultan Mahmud, Perusahaan Tembakau Deli, Gubernur Sumut Marah Halim Harahap, Presiden Soeharto, Wali Kota Medan Bachtiar Ja’far, dan terakhir di tahun 2009 oleh Wali Kota Medan H Abdillah.

Masjid ini belum pernah mengalami kerusakan total akibat gejala alam, walaupun pernah terjadi gempa yang cukup dahsyat tahun 2004, masjid ini hanya mengalami sedikit keretakan. ”Namun sudah dipoles, sehingga kembali baik,” kata Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Raya Al-Osmani, H Ahmad Fachruni.

Beberapa renovasi yang pernah dilakukan hanyalah karena gejala alam, seperti pelapukan dan cat yang pudar. Beberapa bagian masjid yang masih asli diantaranya, mimbar khatib yang dipertahankan sejak 1870, cekungan tempat imam (mihrab), bentuk lengkukan langit-langit masjid walaupun papannya sudah dirubah namun bentuknya masih dipertahankan.

Beberapa kaca jendela dan kaca di atas pintu dipertahankan sejak 1870, walaupun ada beberapa yang sudah diganti sekitar tahun 1999, pintu sejak 1870. Bentuk kubah yang persegi delapan tetap dipertahankan walaupun bagian luarnya sudah direnovasi.

“Dulunya kubah ini terbuat dari tembaga dan kuningan sekarang sudah tidak itu lagi, karena mendapatkan tembaga dan kuningan cukup sulit,” ucapnya.

Di halaman belakang masjid terdapat dua bangunan, satu diantaranya merupakan sumbangan dari Walikota Medan Bachtiar Ja’far pada tahun 1999.
“Beliau ingin memberikan buah tangan berupa sebuah maket rumah adat melayu, agar anak-cucu yang bersuku melayu dimasa depan tidak buta tentang rumah adat melayu,” ucapnya.

Awalnya, bangunan ini difungsikan sebagai perpustakaan. Lambat laun, perpustakaan ini pun tidak berfungsi, dan referensi bukunya mulai berkurang hingga akhirnya bangunan itu dialih fungsikan sebagai tempat penyimpanan inventaris masjid, seperti sajadah dan karpet.

Tepat di sebelah bangunan tersebut, ada pula sebuah bangunan yang dulunya digunakan sebagai kantor Badan Kemakmuran Masjid (BKM), namun saat ini bangunan itu digunakan sebagai kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Medan Labuhan.
Tepat di depan, di samping kiri dan kanan masjid juga terdapat pemakaman yang terdiri dari dua golongan. Golongan pertama adalah keturunan kesultanan, sedangkan golongan kedua merupakan masyarakat biasa.

Untuk golongan kesultanan ditempatkan pada halaman depan. Ada juga yang ditempatkan pada bagian kiri dan kanan masjid namun tetap diletakkan di bagian depan. Sedangkan golongan masyarakat terletak disebelah masjid, meskipun ada beberapa golongan kesultanan yang dimakamkan di situ.

“Masyarakat yang bisa dimakamkan di sekitar masjid kita ini tentu masyarakat yang mendapat izin dari Kesultanan Deli, tidaklah serta merta masyarakat bebas masuk tanpa ada persetujuan,” imbuhnya.

Diceritakan pula, mengapa Kesultanan Deli mendirikan istananya di sekitar Masjid Raya Al-Osmani Kecamatan Medan Labuhan hingga berpindah ke Istana Maimun di Kecamatan Medan Maimun.

Awalnya, Kesultanan Deli memperhatikan prospek ekonomi yang bagus di sekitaran Kecamatan Medan Labuhan, karena dekat pelabuhan dan mata pencarian utama yang saat itu nelayan yang banyak bersumber dari hasil laut.

Saat masuknya Belanda ke daerah ini, Belanda melihat prospek ekonomi yang lebih menguntungkan sehingga mereka menyampaikan masukkan kepada kesultanan agar membuka perkebunan tembakau. Setelah mempertimbangkan prospek itu, Kesultanan pun tertarik hingga akhirnya pindah ke kawasan Kecamatan Maimun saat ini sambil membina perkebunan tembakau ini.
“Ternyata alhamdulillah, tembakau pun terkenal hingga ke mancanegara. Itulah beberapa faktor sehingga terjadinya perpindahan istana,” ucap Fachruni.

Masjid Raya Al-Osmani juga memiliki beberapa tradisi yang khas saat Ramadan, satu diantaranya adalah saat Hari Senin dan Hari Kamis selalu diadakan buka puasa bersama masyarakat umum dengan hidangan yang khas dan sudah turun-temurun, yakni bubur pedas khas Melayu Deli.

“Ini sudah menjadi menu tahunan dan bahkan pernah dilakukan oleh orang-orang tua kita terdahulu, InsyaAllah sampai hari ini masih kita pertahankan,” ucapnya.

Bubur pedas diadakan setiap dua kali seminggu. Selebihnya dari itu dihidangkan makanan biasa misalnya takzil berupa kue-kue maupun makanan ringan lainnya.
Untuk kegiatan sahur, pihak BKM Al Osmani meniadakan kegiatan tersebut untuk Bulan Ramadan tahun ini. Untuk kegiatan di Masjid Raya Al Osmani selama Bulan Ramadan pihak BKM telah membuat pengajian rutin harian yang dilakukan setiap hari setelah shalat ashar, maupun kuliah subuh yang kita laksanakan tiga kali dalam satu minggu yang diisi oleh beberapa penceramah diantaranya Ustad Ismail Harun, Ustad Ramdan Amir dan juga Ustad Muhammad Amin.
"Semua kita lakukan demi meningkatkan iman dan taqwa selama bulan suci Ramadan" ucapnya.

Untuk pelaksanaan salat tarawih berjamaah Masjid Raya Al Osmani tetap melaksanakan salat tarawih 23 rakaat beserta witir. Ia berharap kepada pihak pemerintah khususnya Wali Kota Medan agar lebih peduli dengan Masjid Raya Osmani, meskipun berbagai fasilitas sudah mumpuni disini, seperti jaringan listrik yang cukup memadai AC, Tempat Wudhu maupun Wifi yang diletakkan di beberapa titik disekitar Masjid.

"Yang kurang hanya pengecatan dinding, yang dilihat sudah ada beberapa yang kusam, di bagian dalam masjid, ucapnya.(habis/mag-1)

Editor : Redaksi