Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Saat Suporter Malah Mencari Calo Tiket

Admin-1 Sumut Pos • Jumat, 29 Juni 2018 | 13:06 WIB
Suporter antre tiket di luar stadion Moskow.
Suporter antre tiket di luar stadion Moskow.
Photo
Photo
Suporter antre tiket di luar stadion Moskow.

Laporan Langsung Wartawan Jawa Pos dari Rusia

Kawasan Zhitnaya Ulitsa hari-hari ini sangat ramai. Pada gedung bernomor empat di jalan tersebut, ribuan orang dari berbagai negara sejak pagi sudah berderet mengantre. Mereka beradu untung mendapatkan tiket di loket resmi FIFA sampai pintu gedung ditutup pada pukul 21.00 waktu setempat.


Para penggila sepak bola itu mencari peluang, meskipun mereka tahu bahwa kansnya sangat kecil. Di luar loket, masih banyak orang yang memegang karton bertulisan I Need Tickets. Saat Jawa Pos (grup Sumut Pos) bertanya sebetulnya mereka membutuhkan tiket apa, mereka malah balik bertanya. Nadanya sangat menyelidik pula. "Kamu punya tiket apa?"

Persaingan di dunia maya untuk mendapatkan tiket pertandingan agaknya jauh lebih sengit. Apalagi FIFA masih membuka loket untuk pembelian tiket babak 16-besar. Padahal, sampai awal Juni lalu, FIFA sudah mengalokasikan 2 juta lembar tiket Piala Dunia 2018.


Saat ini merupakan fase yang FIFA sebut sebagai last minute sale. Setiap hari, banyak orang yang memantau situs resmi FIFA, melihat kalau-kalau ada ada tiket yang dijual. Padahal sejatinya, stok tiket sudah sangat tipis atau bisa dikatakan telah habis.


Tidak setiap hari ada tiket yang dijual walaupun loket online masih buka. Namun, peluang sekecil apapun masih ada. Yakni menunggu kalau-kalau ada fans yang menjual kembali tiketnya ke FIFA. Padahal, Federasi Sepak Bola Internasional itu memberikan denda besar mencapai 25 persen jika ada orang yang melakukan aktivitas resell.


Nah, ketika ada tiket yang masuk, FIFA langsung melemparkan tiket itu kembali ke pasar. Jelas langsung ludes. Seperti berburu tiket kereta api di situs perjalanan di musim mudik lebaran. Situasi itu bahkan berlaku juga untuk pertandingan-pertandingan yang tidak menentukan. Seperti Arab Saudi melawan Mesir (25/6) atau Panama versus Tunisia (28/6) waktu setempat.


Menjelang babak 16 besar Piala Dunia 2018, harga tiket merangkak naik. Di situs resmi FIFA, untuk harga kategori 1, FIFA membanderol dengan harga RUB 14.700 (sekitar Rp 3,3 juta). Itu lebih mahal Rp 500 ribu dibandingkan kategori yang sama pada babak penyisihan grup.


Pada kategori 3, peningkatannya tidak banyak, hanya Rp 100 ribu. Sedangkan untuk kategori 2 di babak 16 besar, tiket menjadi lebih mahal Rp 200 ribu dibandingkan penyisihan grup.


Dengan fakta bahwa sulit sekali mendapatkan tiket, calo bisa memanfaatkan situasi. Bahkan sekarang situasinya adalah, penonton yang mencari calo. Meskipun, harga tiket di tangan mereka sudah melangit gila-gilaan. Fans Maroko Hassan Aloui kepada Jawa Pos curhat bahwa dia ditawari tiket nonton Belgia melawan Inggris dengan harga yang begitu tinggi.


Harga normal untuk menonton pertandingan tersebut sejatinya hanya Rp 2,8 juta untuk kategori 1. Namun, karena ini pertandingan sangat penting, penentu siapa juara Grup G, Aloui ditawari tiket seharga Rp 28,4 juta!

Padahal, laga itu digelar sangat jauh dari Moskow. Yakni di Kaliningrad Stadium, yang jaraknya 1.200 kilometer di sebelah barat ibu kota. Untuk sampai di kota tersebut, jika berangkat dari Moskow, Aloui harus melewati dua negara yakni Latvia dan Lithuania. "Ya saya tolak, harganya mahal sekali. Gila," katanya.


Tak semua fans seperti Aloui. Fakta bahwa calo berani menjual tiket sangat mahal menjadi bukti bahwa pasaranya tetap ada. Suporter negara yang lolos ke 16 besar, misalnya, pasti mbelani membeli tiket-tiket tersebut demi mendukung timnasnya.

Di Moskow, calo sangat sulit ditemui pada area sekitar stadion. Ini akibat dari sikap keras pemerintah Rusia terhadap mereka. Pengawasan juga ketat karena ratusan polisi terus berpatroli. Jangankan calo, polisi-polisi itu juga bisa mengendus pemuda-pemuda berpakaian rapi yang memiliki modus menjual air putih kemasan di area stadion. Padahal, mereka memasukkan minumannya tersebut di dalam tas yang bersih.


Namun di luar Moskow seperti di Sochi, Saransk, atau Nizhny Novgorod, calo lebih mudah terlihat. Namun mereka juga beroperasi secara sembunyi-sembunyi dan menawarkan barangnya dengan cara berbisik. Pelan sekali.


Pada Piala Dunia 2018 terdapat dua jenis calo. Pertama mereka yang memang membeli banyak tiket untuk mencari keuntungan. Dan yang kedua, adalah mereka yang sebetulnya ingin menonton pertandingan. Namun, mereka belakangan memutuskan menjual tiketnya karena tergiur selisih harga yang sangat besar.


Jawa Pos menemui tipe yang kedua. Pemuda yang tidak bersedia namanya disebut itu mengatakan bahwa dia biasanya mengambil keuntungan USD 100 sampai USD 150 dari setiap lembar tiketnya.


"Saya membeli empat tiket. Awalnya ingin menonton semua pertandingan. Namun, kemudian saya merasa bahwa nonton satu pertandingan saja cukup, jadi ya saya jual tiketnya," ungkap dia.


Cowok ini menjual tiket-tiket itu lewat jalur pertemanan, dari jaringan WhatsApp dan Line. "Kalau tidak laku, saya akan titipkan tiket itu ke teman-teman yang datang ke stadion. Meminta mereka untuk menjualkan tiket saya," imbuhnya.


Dia mengaku hanya memanfaatkan situasi saja. Jadi memang tidak benar-benar berniat menjadi calo. Berbeda dengan yang benar-benar profesional. "Saya punya tiga lembar tiket babak 16 besar. Pertandingan antara 1 F dan 2 E (juara grup F dan runner-up Grup E). Ada teman yang menitipkannya kepada saya. Kalau berminat, bisa kontak saya,"ucapnya berpromosi, lantas tersenyum. (*/na/jpc/don) Editor : Admin-1 Sumut Pos
#piala dunia rusia #piala dunia #piala dunia 2018