MILAN, Sumutpos.jawapos.com-Arsenal berdiri sebagai satu-satunya tim dengan rekor sempurna dalam enam matchday fase liga Liga Champions musim ini. Enam kemenangan beruntun menempatkan klub London Utara itu di jalur nyaman menuju fase gugur. Namun, satu rintangan besar masih menghadang sebelum mereka menutup fase ini dengan jamuan melawan debutan FC Kairat Almaty pekan depan.
Ujian tersebut datang dini hari nanti, Rabu (21/1), saat The Gunners menantang pemuncak klasemen Serie A, Inter Milan, di Stadion Giuseppe Meazza (siaran langsung SCTV/beIN Sports/Vidio pukul 03.00 WIB).
Inter datang dengan kepercayaan diri tinggi. Nerazzurri mencatat dua kemenangan beruntun di Serie A tanpa kebobolan—masing-masing 1-0 atas Lecce dan Udinese. Rekor kandang mereka pada 2026 pun impresif: tiga laga, tiga kemenangan.
Namun, Arsenal juga membawa status menakutkan sebagai tim paling konsisten di Eropa saat ini. Bahkan pelatih Inter, Cristian Chivu, tak ragu melabeli Arsenal sebagai favorit juara Liga Champions musim ini, sejajar dengan Bayern Munchen.
“Bersama Bayern, Arsenal adalah tim terkuat di Eropa saat ini,” ujar Chivu kepada Rai Radio 1.
Meski demikian, Meazza bukan benteng absolut bagi Inter. Dalam laga-laga besar musim ini, Lautaro Martinez dan kolega gagal tampil dominan. Mereka ditahan Napoli, kalah dari AC Milan di Serie A, serta tumbang dari Liverpool di Liga Champions.
Di kubu tamu, Arsenal justru datang dengan tanda tanya pada lini depan. Produktivitas mereka macet dalam dua laga terakhir Premier League tanpa satu pun gol tercipta. Sorotan tajam mengarah ke Viktor Gyokeres yang baru mencetak satu gol sepanjang 2026.
Namun, Mikel Arteta menolak menyederhanakan masalah pada satu nama.
“Di level setinggi Liga Champions, striker nomor 9 pasti mendapat kawalan ketat. Itulah mengapa kontribusi gol datang dari lini lain, seperti Gabriel Martinelli,” tegas Arteta.
Secara matematis, Arsenal hanya membutuhkan satu poin untuk memastikan tiket otomatis ke babak 16 besar. Dengan keunggulan enam poin atas peringkat kesembilan dan dua laga tersisa, kekalahan pun belum tentu menggugurkan mereka.
Namun, menghadapi Inter di Meazza bukan sekadar soal angka. Ini adalah ujian mental, karakter, dan klaim Arsenal sebagai kekuatan dominan baru Eropa—apakah kesempurnaan itu bertahan, atau justru retak di jantung Italia.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan