LONDON, Ssumutpos.jawapos.com-Arsenal berhasil merebut kembali puncak klasemen dari Manchester City pada matchweek ke-34, usai kemenangan tipis 1-0 atas Newcastle United di Emirates Stadium, Minggu (26/4) WIB.
Namun, posisi itu belum sepenuhnya aman. The Gunners masih menyimpan satu laga lebih banyak dibanding rival terdekatnya, yang berarti ancaman tergeser tetap nyata. Dalam lanskap persaingan yang semakin rapat, keunggulan tipis tak lagi cukup—yang dibutuhkan Arsenal saat ini adalah dominasi yang lebih tegas, terutama dalam produktivitas gol.
Pandangan itu disuarakan Gary Neville, mantan bek kanan Manchester United yang kini menjadi analis di Sky Sports. Ia menilai Arsenal seharusnya tidak sekadar mengejar kemenangan, tetapi juga membangun margin gol yang signifikan.
Baca Juga: AdNI Gelar Rapat Pleno Reshuffle Pengurus, Muhardi Terpilih sebagai Sekjen
“Gol mereka memang datang dari situasi bola mati. Tapi sulit memahami bagaimana peluang dari permainan terbuka tidak bisa dimaksimalkan,” ujarnya.
Statistik memperkuat kegelisahan itu. Sejak kemenangan atas Bayer Leverkusen di leg kedua 16 besar Liga Champions pada 18 Maret lalu, Arsenal tak pernah mencetak lebih dari satu gol dalam satu pertandingan. Sebuah ironi bagi tim yang sempat dipuji karena fluiditas dan agresivitas serangannya di awal musim.
Dalam perebutan gelar yang ditentukan oleh detail kecil, selisih gol bisa menjadi penentu akhir. Jika poin Arsenal dan City berakhir sama, keunggulan produktivitas akan membawa City kembali ke singgasana.
Pelatih Mikel Arteta memahami tekanan tersebut. Ia mengklaim telah mencoba pendekatan yang lebih ofensif, terutama setelah menghadapi City. Namun, ia tetap menegaskan keyakinannya terhadap kapasitas tim saat ini.
Baca Juga: Manchester United vs Brentford: Ujian Penting Menuju Liga Champions
“Kami percaya dengan kemampuan yang kami miliki,” ujar Arteta.
Keyakinan itu kini diuji oleh realitas. Di fase krusial musim, Arsenal tidak hanya dituntut untuk menang—tetapi menang dengan cara yang meyakinkan.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan