PSG Bidik Sejarah Back-to-Back Liga Champions, Arsenal Siap Gagalkan Misi Les Parisiens

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Kamis, 28 Mei 2026 | 10:00 WIB
Skuad Paris Saint-Germain memamerkan trofi juara Liga Champions di hadapan para fans di Parc des Princes, Paris, musim lalu (1/6/2025).(liputan6)
Skuad Paris Saint-Germain memamerkan trofi juara Liga Champions di hadapan para fans di Parc des Princes, Paris, musim lalu (1/6/2025).(liputan6)

 

PARIS, Sumutpos.jawapos.com – Paris Saint-Germain berada di ambang sejarah baru Eropa. Setelah meraih gelar Liga Champions pertama mereka musim lalu, Les Parisiens kini berpeluang menjadi klub kedua yang mampu mempertahankan trofi di era modern Liga Champions sejak format kompetisi berubah pada 1992.

Sejauh ini, hanya Real Madrid yang mampu melakukannya. Bahkan, raksasa Spanyol itu mencatat dominasi luar biasa dengan menjuarai Liga Champions tiga musim beruntun pada 2015–2016, 2016–2017, dan 2017–2018.

Kesempatan PSG menyamai jejak Real terbuka lebar musim ini setelah mereka kembali melaju ke final Liga Champions 2025–2026. Di partai puncak yang digelar di Puskás Aréna, Budapest, Sabtu (30/5) malam, PSG akan menghadapi Arsenal yang tengah memburu kejayaan Eropa.

Baca Juga: Iran Pastikan Balas Serangan AS, Tuntut Dana Rp195 Triliun Dicairkan

Bek kanan PSG, Achraf Hakimi, menegaskan status juara bertahan justru menjadi energi tambahan bagi timnya.

“Status sebagai juara bertahan itu bukan tekanan, melainkan tanggung jawab dan motivasi,” ujar Hakimi seperti dikutip laman resmi UEFA.

Pelatih PSG Luis Enrique mengakui atmosfer juara musim lalu masih terasa kuat di ruang ganti timnya. Namun, menurut pelatih yang akrab disapa Lucho itu, PSG kini mengincar sesuatu yang lebih besar: menulis sejarah klub di level tertinggi Eropa.

“Bedanya, sekarang ini bukan lagi tentang memenangi Liga Champions, tetapi tentang menciptakan sejarah baru bagi klub,” katanya kepada L’Equipe.

Stabilitas skuad menjadi salah satu kekuatan utama PSG musim ini. Mayoritas pemain inti musim lalu tetap dipertahankan. Satu kehilangan besar hanyalah penjaga gawang Gianluigi Donnarumma yang hengkang ke Manchester City. Posisi di bawah mistar kemungkinan akan dipercayakan kepada kiper Rusia Matvey Safonov ketimbang rekrutan anyar Lucas Chevalier.

Di lini depan, sorotan kembali tertuju kepada Ousmane Dembélé. Penampilan impresifnya sepanjang musim membuat peluang meraih Ballon d’Or untuk kedua kali beruntun kembali terbuka.

Baca Juga: Bupati Fery Ajak Warga Teladani Keikhlasan Nabi Ibrahim Saat Shalat Iduladha di Labusel

Selepas pandemi Covid-19, belum ada pemain yang mampu memenangkan Ballon d’Or secara berturut-turut. Dembélé kini berpeluang mematahkan tren tersebut.

“Sejauh ini kondisiku sangat baik. Aku siap memenangi Liga Champions lagi,” ujar Dembélé kepada Foot Parisien.

Nama terakhir yang mampu merebut Ballon d’Or secara beruntun adalah Lionel Messi pada edisi 2019 dan 2021, dengan penghargaan 2020 ditiadakan akibat pandemi Covid-19.

Namun, ambisi PSG dipastikan tidak mudah. Arsenal datang ke final dengan kepercayaan diri tinggi setelah pelatih mereka, Mikel Arteta, dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik Premier League 2025–2026.

Penghargaan itu terasa spesial karena Arteta menjadi pelatih Arsenal pertama yang meraihnya sejak era Arsène Wenger pada musim 2003–2004.

Meski demikian, Arteta menegaskan penghargaan individu bukan tujuan akhirnya. Pelatih asal Spanyol itu kini memburu trofi terbesar dalam karier kepelatihannya.

“Aku ingin merasakan kesuksesan itu di Budapest,” tegas Arteta kepada Sky Sports.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
final budapest arsenal psg Liga Chammpions