ZURICH, Sumutpos.jawapos.com – FIFA bersama IFAB (International Football Association Board) resmi memperkenalkan sejumlah perubahan regulasi yang akan mulai diterapkan pada Piala Dunia 2026. Salah satu aturan yang paling menyita perhatian adalah pembatasan praktik blokir pemain dalam situasi bola mati, baik saat sepak pojok maupun tendangan bebas.
Aturan tersebut langsung memunculkan istilah populer “aturan anti-Arsenal” karena taktik menghalangi pergerakan pemain bertahan ketika set piece kerap diasosiasikan dengan permainan klub asal London tersebut. Dengan regulasi baru ini, pemain yang sengaja menghambat atau menutup ruang gerak lawan akan dianggap melakukan pelanggaran.
IFAB menilai pola tersebut semakin sering digunakan untuk menciptakan ruang bagi rekan setim dalam skema bola mati. Konsepnya bahkan disebut menyerupai screen yang lazim digunakan dalam permainan bola basket.
Perhatian terhadap praktik tersebut menguat setelah gol yang dicetak Inggris ke gawang Uruguay dalam laga uji coba internasional pada Maret lalu. Dalam prosesnya, Ben White—bek yang juga memperkuat Arsenal—dinilai melakukan blok terhadap pemain lawan sehingga membuka ruang bagi terciptanya gol.
Baca Juga: Ini Ragam Makanan yang Jadi Pantangan bagi Penderita Penyakit Hati
Ketua Komite Perwasitan FIFA, Pierluigi Collina, menegaskan bahwa perubahan aturan ini tidak ditujukan kepada klub atau tim tertentu. Menurutnya, FIFA hanya ingin memastikan gol tercipta melalui permainan yang sah, bukan dari tindakan yang masuk kategori pelanggaran.
“Kami berusaha menyelesaikan masalah ini. Tidak ada yang ingin melihat gol tercipta dari situasi yang sebenarnya berawal dari sebuah pelanggaran,” ujar Collina, seperti dikutip dari situs resmi IFAB.
Membuat Permainan Lebih Bersih dan Mengalir
Perubahan aturan tersebut merupakan bagian dari upaya FIFA untuk meningkatkan kualitas pertandingan sekaligus mengurangi praktik-praktik yang dianggap merusak jalannya permainan. Dalam beberapa laga uji coba internasional, sejumlah regulasi baru bahkan sudah mulai diuji coba.
FIFA menargetkan pertandingan menjadi lebih mengalir, minim gangguan, dan terbebas dari berbagai taktik yang bertujuan mengulur waktu maupun mengeksploitasi celah aturan.
Selain soal blokir pemain, IFAB juga mengaku mengambil pelajaran dari beberapa insiden kontroversial yang terjadi dalam sepak bola internasional.
Baca Juga: Kementan Kawal Sentra Produksi Pangan Merauke, Perkuat Antisipasi Dampak Dinamika Iklim
Salah satunya adalah kasus yang melibatkan pemain Benfica, Gianluca Prestianni, yang menutupi mulutnya saat melontarkan hinaan bernuansa rasial kepada bintang Real Madrid, Vinicius Junior. Insiden tersebut mendorong FIFA memperkuat mekanisme penanganan pelanggaran diskriminatif di lapangan.
Inspirasi lainnya datang dari kontroversi final Piala Afrika antara Senegal dan Maroko. Saat itu, skuad Senegal sempat melakukan walkout sebagai bentuk protes terhadap kepemimpinan wasit sebelum akhirnya kembali melanjutkan pertandingan dan keluar sebagai pemenang di lapangan. Namun, dua bulan kemudian, Badan Arbitrase Olahraga memutuskan Maroko sebagai juara yang sah.
Rangkaian kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi FIFA dalam menyusun regulasi baru yang diharapkan mampu menjaga integritas pertandingan sekaligus memperkuat kewenangan perangkat pertandingan.
Dengan penerapan aturan anyar ini pada Piala Dunia 2026, FIFA mengirim pesan tegas: sepak bola harus tetap mengedepankan sportivitas, keadilan, dan permainan yang bersih. Tim-tim yang selama ini mengandalkan celah dalam situasi bola mati pun dipaksa beradaptasi jika ingin tetap kompetitif di level tertinggi.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan