ATLANTA, Sumutpos.jawapos.com – Laga antara Spanyol dan Arab Saudi di Atlanta Stadium malam nanti, Minggu (21/6) pukul 23.00 WIB, bukan sekadar pertandingan biasa. Lebih dari itu, duel ini menjadi panggung pembuktian sejauh mana kualitas Saudi Pro League (SPL) mampu bersaing di level tertinggi sepak bola dunia.
Dalam beberapa tahun terakhir, Arab Saudi memang menjelma menjadi salah satu pusat baru kekuatan sepak bola global. Transformasi besar dimulai sejak 2023, ketika SPL memasuki era baru dengan kedatangan deretan bintang top Eropa seperti Cristiano Ronaldo, Neymar Jr, Karim Benzema, Sadio Mané, hingga N’Golo Kanté.
Kehadiran para superstar tersebut tidak hanya mengangkat popularitas liga, tetapi juga meningkatkan standar kompetisi secara signifikan. Tak heran, SPL kini menjadi salah satu liga di luar Eropa yang paling banyak menyumbang pemain ke Piala Dunia 2026, dengan total 49 pemain yang tampil di turnamen tersebut.
Baca Juga: Lampu Biru Menyala di Sibuhuan, Polres Padang Lawas Cegah Potensi Konflik dan Kriminalitas Jalanan
Menariknya, Spanyol memiliki peran tidak langsung dalam perkembangan pesat ini. Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) telah menggelar Supercopa de España di Arab Saudi sejak 2022, sebuah langkah strategis yang turut meningkatkan eksposur dan antusiasme sepak bola di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, arus pemain dan pelatih Spanyol ke SPL juga terus meningkat. Tercatat ada 11 pemain asal Spanyol yang merumput di liga Arab Saudi pada musim 2025–2026, menjadikan Spanyol sebagai salah satu negara Eropa dengan kontribusi signifikan di kompetisi tersebut.
Di sisi lain, hubungan kedua negara juga terjalin melalui jalur yang lebih luas. Sejumlah pemain Arab Saudi pernah mencicipi atmosfer LaLiga, seperti Salem Al-Dawsari dan Jaber Issa di Villarreal, Fahad Al-Muwallad di Levante, hingga Yahya Al Shehri di Leganés. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kualitas pemain Arab Saudi di level internasional.
Tidak hanya itu, investasi besar dari Timur Tengah juga mengalir ke sepak bola Spanyol. Klub seperti Atlético Madrid mendapatkan dukungan sponsor dari Riyadh Air, sementara UD Almería sempat diakuisisi pengusaha Arab Saudi, Turki Al-Sheikh.
Pertemuan kedua tim kali ini pun sarat makna. Hampir seluruh pemain Arab Saudi di skuad Georgios Donis—25 dari 26 pemain—merupakan bagian dari klub-klub SPL. Kondisi ini menjadikan laga kontra Spanyol sebagai cermin nyata sejauh mana liga domestik mereka berkembang.
“Ini adalah kesempatan untuk membawa nama baik sepak bola Arab Saudi di hadapan Spanyol. Kami tidak gentar,” ujar gelandang Arab Saudi, Mohammed Kanno, dikutip dari Goal.
Dari kubu Spanyol, laga ini dipandang sebagai ujian konsistensi menghadapi tim yang kini diperkuat pemain-pemain berpengalaman dari liga yang semakin kompetitif. Dengan kualitas teknis dan kedalaman skuad yang dimiliki, La Roja tetap diunggulkan, namun Arab Saudi datang dengan motivasi besar untuk membuktikan bahwa SPL bukan sekadar liga investasi, melainkan juga kompetisi yang melahirkan daya saing nyata.
Lebih dari sekadar pertandingan, duel di Atlanta ini menjadi simbol pertemuan dua dunia sepak bola—tradisi kuat Eropa dan ambisi besar Asia yang tengah naik daun. Jika Arab Saudi mampu memberi perlawanan ketat, maka narasi tentang kebangkitan SPL akan semakin sulit untuk diabaikan.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan