Sumutpos.jawapos.com-Juara bertahan Argentina menghadapi ujian sesungguhnya di Grup J Piala Dunia 2026 saat berjumpa Austria di AT&T Stadium, Arlington, Selasa (23/6) dini hari WIB. Dibandingkan Aljazair dan Yordania, Austria diprediksi menjadi lawan paling berat bagi La Albiceleste pada fase grup.
Bukan hanya karena Austria berada di peringkat FIFA yang lebih baik, tetapi juga lantaran tim besutan Ralf Rangnick memiliki identitas permainan yang sangat jelas: pressing agresif dan intensitas tinggi sejak kehilangan bola.
Rangnick bukan nama sembarangan dalam dunia kepelatihan modern. Pelatih berusia 67 tahun itu bahkan dijuluki “Godfather of Gegenpressing”, berkat pengaruh besarnya dalam mempopulerkan filosofi menekan lawan secara agresif di sepak bola Eropa.
Statistik sepanjang kualifikasi Piala Dunia 2026 menunjukkan betapa efektif pendekatan tersebut. Austria mencatat angka PPDA (passes per defensive action) terendah di antara seluruh peserta turnamen. Semakin rendah angka PPDA, semakin agresif sebuah tim melakukan tekanan terhadap lawan.
Namun, Argentina memiliki modal yang membuat mereka tidak mudah diganggu oleh pola permainan seperti itu.
Baca Juga: Kabur dari Tahanan Imigrasi, WN Malaysia Ditemukan Bersembunyi di Pinggir Sungai Bahilang
Berdasarkan data Opta, skuad asuhan Lionel Scaloni menjadi tim dengan kemampuan terbaik dalam mempertahankan sirkulasi bola saat mendapat tekanan tinggi. La Albiceleste mampu menyelesaikan 89 persen operan ketika berada di bawah high-intensity pressure, tertinggi di antara seluruh kontestan Piala Dunia 2026.
“Argentina dan Austria sama-sama memenangkan pertandingan pertama. Kemenangan kedua akan sangat berarti untuk mengamankan tiket ke fase gugur. Mereka tentu akan berusaha mempertahankan skema permainan terbaiknya,” ujar Scaloni seperti dikutip TyC Sports.
Pada laga pembuka, Argentina tampil meyakinkan dengan mengalahkan Aljazair 3-0. Di sisi lain, Austria menunjukkan kualitasnya lewat kemenangan 3-1 atas Yordania.
Ancaman Bola Mati Austria
Kekuatan Austria tidak hanya terletak pada pressing. Das Team juga memiliki senjata berbahaya dalam situasi bola mati.
Sosok yang patut diwaspadai adalah striker jangkung Sasa Kalajdzic. Dengan tinggi mencapai dua meter, penyerang tersebut menjadi target ideal dalam duel udara maupun skema tendangan bebas dan sepak pojok.
Kehadirannya mengingatkan Argentina pada pengalaman menghadapi penyerang Belanda Wout Weghorst di perempat final Piala Dunia 2022. Saat itu, Weghorst yang memiliki tinggi 1,97 meter mencetak dua gol dan hampir menggagalkan langkah Argentina menuju semifinal.
Meski demikian, Kalajdzic belum tentu menjadi starter. Saat Austria menundukkan Yordania, penyerang LASK tersebut hanya bermain sepanjang babak pertama sebelum digantikan striker senior Marko Arnautovic.
Baca Juga: Selandia Baru Vs Mesir: Pivot Point The Pharaohs
“Aku akan menentukan siapa yang bermain berdasarkan kondisi terakhir para pemain,” kata Rangnick kepada laman resmi OFB.
Scaloni Siapkan Perubahan
Argentina juga diperkirakan melakukan sejumlah perubahan dalam susunan pemain.
Bek kanan Gonzalo Montiel hampir pasti absen setelah mengalami cedera otot paha saat menghadapi Aljazair. Pemain River Plate itu hanya tampil selama 45 menit sebelum ditarik keluar.
Posisinya kemungkinan besar akan diisi Nahuel Molina yang lebih berpengalaman dalam sistem permainan Scaloni.
Perubahan komposisi tim sejatinya bukan hal baru bagi Argentina. Sejak menangani La Albiceleste pada 2018, Scaloni dikenal fleksibel dan jarang mempertahankan susunan pemain yang sama dalam dua pertandingan beruntun. Ia kerap menyesuaikan strategi berdasarkan karakteristik lawan yang dihadapi.
Di lini tengah, Thiago Almada berpotensi kehilangan tempatnya dan digantikan Nicolas Gonzalez. Sementara di lini depan, Scaloni masih memiliki pilihan menarik untuk mendampingi Lionel Messi.
Persaingan mengerucut kepada Lautaro Martinez dan Julian Alvarez. Keduanya menawarkan karakter berbeda.
Baca Juga: Warga Medan Marelan Minta Mapel PMP Dikembalikan
“Martinez adalah finisher yang luar biasa. Sementara Julian memiliki kemampuan mencetak gol yang baik, tetapi juga lebih aktif bergerak dan bekerja di luar kotak penalti,” ujar mantan striker Argentina Sergio Aguero kepada Clarin.
Dengan tiket ke babak knockout yang hampir terbuka bagi pemenang laga ini, duel Argentina kontra Austria dipastikan menjadi pertarungan menarik antara penguasaan bola kelas dunia melawan pressing agresif ala Rangnick. Pertanyaannya, apakah mesin gegenpressing Austria mampu mengganggu ritme sang juara bertahan, atau justru Argentina kembali menunjukkan mengapa mereka masih menjadi salah satu favorit utama di Piala Dunia 2026?(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan