HOUSTON, Sumutpos.jawapos.com – Portugal kembali dihadapkan pada pertanyaan lama yang kini terasa semakin mendesak: seberapa jauh tim ini bisa bergantung pada Cristiano Ronaldo di fase krusial turnamen?
Sorotan itu kembali mengemuka setelah A Selecao hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Republik Demokratik Kongo pada laga pembuka Grup K, Rabu (17/6). Dalam pertandingan tersebut, Ronaldo—yang kini berusia 41 tahun—menjadi pusat perhatian, namun gagal memberikan kontribusi gol maupun tembakan tepat sasaran.
Lebih dari sekadar statistik, performa sang kapten memantik diskusi tajam di luar lapangan. Legenda Prancis, Thierry Henry, menjadi salah satu yang paling vokal mengkritik dinamika permainan Portugal saat Ronaldo berada di lapangan.
Dalam analisisnya di Fox Sports, Henry menyoroti sebuah momen ketika pergerakan Ronaldo dianggap justru menghambat peluang rekan setimnya, Bruno Fernandes.
“Tim yang harus mencetak gol. Bukan Anda yang harus mencetak gol,” tegas Henry, menggarisbawahi pentingnya kolektivitas dalam situasi krusial.
Baca Juga: Silaturahim Mursyid Naqsyabandiyah se-Labuhanbatu Raya
Meski kritik menguat, pelatih Portugal Roberto Martinez tetap memberikan pembelaan. Ia menilai mengesampingkan Ronaldo justru bukan pilihan realistis, mengingat kontribusinya sepanjang kualifikasi Piala Dunia 2026.
“Tidak masuk akal untuk mengeluarkan pencetak gol terbaik di dunia dalam pertandingan yang membutuhkan gol,” ujar Martinez kepada ESPN.
Sepanjang fase kualifikasi, Ronaldo masih menunjukkan ketajamannya dengan torehan lima gol dari lima pertandingan, menjadikannya top skor tim sekaligus tumpuan utama di lini depan.
Namun tantangan Portugal bukan sekadar soal keberadaan Ronaldo, melainkan bagaimana tim mampu tetap efektif ketika sang megabintang dikunci lawan.
Situasi itu terlihat jelas saat menghadapi Kongo. Meski mendominasi penguasaan bola hingga 75 persen, Portugal kesulitan membongkar pertahanan rapat lawan dan minim menciptakan peluang bersih.
Pola serupa diperkirakan kembali terjadi saat menghadapi Uzbekistan di NRG Stadium, Houston, Rabu (24/6) dini hari WIB. Lawan asal Asia itu diyakini akan mengadopsi pendekatan defensif dengan blok rendah dan organisasi pertahanan yang rapat, mirip dengan yang diterapkan Kongo.
Tantangan Taktis Portugal
Masalah utama Portugal bukan pada penguasaan bola, melainkan efektivitas dalam menyerang ruang sempit. Ketika lawan menumpuk pemain di area pertahanan, aliran bola Portugal kerap kehilangan arah dan tempo.
Pelatih asal Portugal, Pedro Moreira, yang pernah menangani klub Uzbekistan Pakhtakor, menilai A Selecao harus mengubah pendekatan jika ingin menghindari kebuntuan serupa.
Baca Juga: Marquez Kembali Hidupkan Persaingan Gelar, Raih Kemenangan Beruntun di Hungaria dan Ceko
“Portugal harus lebih mampu menyerang ruang di belakang pertahanan dan merebut bola dengan cepat,” ujarnya kepada Lusa.
Menurutnya, Uzbekistan bukan lawan yang bisa diremehkan dalam aspek disiplin bertahan. Mereka memiliki struktur pertahanan yang rapi dan mampu meminimalkan ruang gerak lawan, terutama di sepertiga akhir lapangan.
Suasana Internal Tetap Tenang
Di tengah kritik eksternal, suasana di dalam skuad Portugal dikabarkan tetap kondusif. Bek Manchester United, Diogo Dalot, menegaskan bahwa tim sudah mempersiapkan diri menghadapi tekanan sejak sebelum turnamen dimulai.
“Kami sudah membicarakan hal ini bahkan sebelum tiba di Piala Dunia. Kami tahu semua ini akan datang,” ujar Dalot kepada O Jogo.
Ia menambahkan bahwa kehadiran Ronaldo secara alami membuat Portugal selalu menjadi sorotan, baik saat menang maupun ketika gagal meraih hasil maksimal.
“Kami tahu akan menghadapi kritik. Kadang tidak adil, kadang berlebihan, tapi itu bagian dari sepak bola,” tambahnya.
Baca Juga: Inggris Vs Ghana: Ujian Konsistensi The Three Lions
Laga Penentu Arah Portugal
Pertandingan melawan Uzbekistan kini menjadi ujian penting bagi Portugal: bukan hanya soal tiga poin, tetapi juga tentang identitas permainan mereka.
Apakah A Selecao tetap bertumpu pada ketajaman Ronaldo, atau mulai menemukan solusi kolektif ketika sang legenda dijaga ketat? (jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan