Tiada Lagi Keajaiban Messi, Argentina Kehabisan Magi di Final Piala Dunia 2026

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 10:05 WIB
Lionel Messi lakukan  seleberasi.  (REUTERS/Kai Pfaffenbach)
Lionel Messi lakukan seleberasi. (REUTERS/Kai Pfaffenbach)

 

EAST RUTHERFORD, Sumutpos.jawapos.com – Selama perjalanan Argentina di Piala Dunia 2026, selalu ada satu kepastian: ketika tim mengalami kebuntuan, Lionel Messi akan menemukan cara untuk mengubah keadaan. Entah melalui gol, umpan matang, atau momen magis yang hanya bisa dilakukan pemain sekelasnya.

Namun, keajaiban itu akhirnya berhenti di panggung terbesar.

Pada final Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, Senin (20/7/2026) dini hari WIB, Argentina takluk 0-1 dari Spanyol. Untuk pertama kalinya sejak fase grup, Messi gagal mencatatkan gol maupun assist. Di laga yang paling menentukan, sang kapten tak mampu menghadirkan penyelamat yang selama ini menjadi ciri khasnya.

Sebelum partai puncak, Messi selalu tampil menentukan. Salah satu penampilan terbaiknya hadir di semifinal saat Argentina membalikkan keadaan dan mengalahkan Inggris 2-1. Dua assist yang ia ciptakan dalam sepuluh menit terakhir menjadi bukti bahwa magi La Pulga masih hidup, bahkan di usia yang tak lagi muda.

Namun, final menghadirkan cerita berbeda.

Baca Juga: Terduga Pembobol Rumah Rp55 Juta Diduga Kabur Sehari Setelah Ditangkap, Ratusan Warga Geruduk Polres Tebingtinggi

Spanyol Matikan Messi

Sejak menit awal, Spanyol tampil dengan rencana yang sangat jelas: memutus pengaruh Messi terhadap permainan Argentina.

Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, mengakui bahwa menghentikan pergerakan sang megabintang menjadi prioritas utama timnya.

"Ide pertama kami adalah menjaga Messi tetap terkendali," ujar De la Fuente seperti dikutip ESPN.

Strategi itu berjalan nyaris sempurna.

Messi hanya menyentuh bola sebanyak 15 kali sepanjang babak pertama, menjadi jumlah sentuhan terendahnya dalam pertandingan Piala Dunia selama tiga edisi terakhir. Hingga laga usai, ia hanya membukukan 54 sentuhan, jauh di bawah rata-rata penampilannya sepanjang turnamen.

Dengan ruang gerak Messi yang dibatasi, kreativitas Argentina ikut menghilang.

Argentina Nyaris Tanpa Perlawanan

Statistik pertandingan menggambarkan betapa dominannya Spanyol.

La Roja melepaskan 20 tembakan, sementara Argentina hanya mampu menciptakan dua percobaan sepanjang pertandingan.

Lebih mencengangkan lagi, Argentina tidak mampu melepaskan satu pun tembakan selama 90 menit waktu normal, sebuah catatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah final Piala Dunia.

Baca Juga: Kemendikdasmen Luncurkan Sekolah Nasional Terintegrasi di 17 Lokasi, Pakar Ingatkan Potensi Kastanisasi Pendidikan

Tembakan pertama yang mengarah ke gawang baru tercipta pada menit ke-116 di babak perpanjangan waktu, ketika peluang demi peluang sudah lebih dulu menjadi milik Spanyol.

Dominasi itu menjadi bukti bahwa Argentina kehilangan sumber inspirasi ketika Messi berhasil dikunci.

Air Mata di Penghujung Perjalanan

Sesaat setelah peluit panjang berbunyi, Messi memilih diam.

Ia duduk di atas rumput Stadion MetLife sambil melepas sepatu Adidas edisi khusus bertajuk "Last Tango". Momen itu terasa simbolis, seolah menjadi penanda berakhirnya sebuah perjalanan panjang yang telah ia tempuh bersama Argentina di pentas Piala Dunia.

Emosi Messi akhirnya pecah ketika menerima medali perak.

Di hadapan ribuan pendukung Argentina yang memenuhi tribun stadion, pemain berusia 39 tahun itu tampak menitikkan air mata, menyadari bahwa kesempatan kembali tampil di final Piala Dunia mungkin tidak akan datang lagi.

Baca Juga: PSMS Kenalkan Jersey Baru di Piala Presiden 2026

Kekalahan dari Spanyol memunculkan kembali pertanyaan yang telah lama mengiringi karier Messi: apakah ini menjadi pertandingan terakhirnya bersama Argentina di Piala Dunia?

Pelatih Lionel Scaloni belum memberikan jawaban pasti.

"Dia sekarang berusia 39 tahun. Dia akan bermain sampai dia memutuskan untuk tidak bermain lagi," ujar Scaloni, seperti dikutip Reuters.

Terlepas dari kegagalan mempertahankan gelar juara dunia, Scaloni meminta publik tidak melupakan warisan yang telah ditinggalkan sang kapten.

"Saya berharap semua orang bangga terhadap apa yang telah dia capai, karena dia adalah pemain sepak bola terbaik yang pernah menginjakkan kaki di lapangan," katanya.

Final Piala Dunia 2026 memang tidak menghadirkan akhir yang diimpikan Messi dan Argentina. Namun, satu pertandingan tidak akan menghapus jejak luar biasa yang telah ditorehkannya selama hampir dua dekade membela Albiceleste.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
lioenl messi assist cetak gol final piala dunia 2026