EAST RUTHERFORD, Sumutpos.jawapos.com – Final Piala Dunia 2026 menjadi malam yang ingin segera dilupakan Enzo Fernandez. Gelandang Argentina itu tak hanya gagal membawa timnya mempertahankan gelar juara, tetapi juga mencatatkan namanya dalam sejarah dengan cara yang tidak diinginkan.
Enzo menjadi pemain keenam yang menerima kartu merah di partai final Piala Dunia, bergabung dalam daftar kelam atau hall of shame bersama Pedro Monzon, Gustavo Dezotti, Marcel Desailly, Zinedine Zidane, dan John Heitinga.
Pemain berusia 25 tahun tersebut diusir wasit pada masa injury time, tepatnya menit ke-90+3, setelah menerima kartu kuning kedua akibat pelanggaran terhadap bek muda Spanyol, Pau Cubarsi, yang sedang berusaha mengamankan bola.
Kartu merah itu menjadi titik balik yang semakin menyulitkan langkah Argentina.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Sumbagut Perkuat Monitoring Distribusi BBM di Aceh, Riau, dan Kepri
Selain menambah beban tim pada penghujung laga, pengusiran Enzo juga membuat Argentina mencatat rekor yang kurang membanggakan sebagai negara dengan jumlah kartu merah terbanyak dalam sejarah final Piala Dunia.
Sebelum Enzo, dua pemain Argentina lainnya, Pedro Monzon dan Gustavo Dezotti, juga pernah diusir dari lapangan dalam laga final.
Bermain dengan hanya 10 pemain membuat Argentina semakin kesulitan mengimbangi dominasi Spanyol. Tekanan yang terus dilancarkan La Roja akhirnya berbuah gol kemenangan pada babak perpanjangan waktu, sekaligus mengakhiri harapan Albiceleste mempertahankan mahkota juara dunia.
Meski demikian, pelatih Argentina Lionel Scaloni menolak menjadikan kartu merah Enzo sebagai penyebab utama kekalahan timnya.
Baca Juga: Tiada Lagi Keajaiban Messi, Argentina Kehabisan Magi di Final Piala Dunia 2026
Menurut Scaloni, keputusan wasit yang memberikan kartu kuning pertama kepada Enzo masih layak diperdebatkan.
"Saya pikir kartu kuning pertama Enzo seharusnya tidak diberikan oleh wasit. Tetapi, itu sudah terjadi," ujar Scaloni seperti dikutip TyC Sports.
Bagi Enzo Fernandez, malam di MetLife Stadium akan selalu dikenang sebagai salah satu episode paling pahit dalam karier internasionalnya. Di tengah upaya Argentina mempertahankan gelar juara dunia, satu kartu merah justru mengantarkannya masuk ke dalam catatan sejarah yang tidak diharapkan oleh siapa pun.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan