LONDON, Sumutpos.jawapos.com – Chelsea kembali menunjukkan bahwa mereka belum berniat menginjak rem di bursa transfer musim panas. Hingga kemarin (3/8), total belanja The Blues telah menembus EUR 400 juta atau sekitar Rp 8,3 triliun, menjadikan klub London Barat itu sebagai tim paling agresif di pasar transfer musim panas 2026.
Dua nama terbaru yang merapat adalah striker veteran Danny Welbeck dan pemain serbabisa asal Argentina Valentin Barco. Welbeck, yang kini berusia 35 tahun, didatangkan dari Brighton & Hove Albion untuk menambah pengalaman di lini depan. Sementara itu, Barco direkrut dari klub afiliasi Chelsea, RC Strasbourg.
Nama Barco sempat menjadi sorotan dunia setelah insiden pada semifinal Piala Dunia 2026. Bek berusia 22 tahun itu merupakan pemain Argentina yang dipukul di bagian belakang kepala oleh gelandang Inggris, Jude Bellingham, seusai laga di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, 16 Juli lalu.
Baca Juga: Infantino Gagal Kantongi Gaji Setara Haaland, Proyek FIFA Forward Enterprise Mandek
Chelsea dikabarkan menggelontorkan dana sekitar EUR 40 juta (Rp 830,15 miliar) untuk mengamankan tanda tangan Barco. Nilai tersebut menjadikannya pembelian termahal kelima Chelsea musim panas ini, di belakang Morgan Rogers (EUR 138 juta), Maxence Lacroix (EUR 61 juta), Marco Palestra (EUR 57 juta), dan Geovany Quenda (EUR 50 juta).
Meski sudah menghabiskan dana fantastis, aktivitas transfer Chelsea diyakini belum berakhir. Pelatih Xabi Alonso masih menginginkan tambahan sosok berpengalaman di lini tengah dan menjadikan gelandang Brentford, Jordan Henderson, sebagai target utama. Di sektor kiri pertahanan, Pep Chavarria dari Rayo Vallecano juga masuk radar untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Marc Cucurella setelah hijrah ke Real Madrid.
Belanja Besar, Risiko Pun Membesar
Di balik agresivitas tersebut, Chelsea juga menghadapi konsekuensi yang tidak kecil. Mantan penasihat finansial Manchester City, Stefan Borson, menilai kebijakan transfer The Blues berpotensi berbenturan dengan regulasi finansial apabila pengeluaran klub tidak sebanding dengan pemasukan.
Menurut Borson, skenario terburuk yang bisa dihadapi Chelsea adalah larangan tampil di kompetisi Eropa. Namun, jika pelanggaran yang terjadi tidak tergolong berat, sanksi kemungkinan hanya berupa hukuman finansial.
"Mereka sudah berkali-kali menunjukkan siap membayar denda dan tetap menjalankan model bisnis mereka," ujar Borson kepada Football Insider.
Chelsea sendiri masih memiliki ruang lebih longgar dibanding peserta kompetisi Eropa. Karena tidak bermain di ajang UEFA musim ini, klub diperbolehkan menggunakan hingga 85 persen pendapatannya untuk biaya skuad sesuai aturan Squad Cost Ratio (SCR) Premier League. Angka tersebut lebih tinggi 15 persen dibanding klub yang tampil di kompetisi UEFA.
Baca Juga: Ingin Tubuh Lebih Bugar? Pilih 5 Jus Buah Ini Saat Sarapan
Laporan The Athletic pada November tahun lalu bahkan memperkirakan rasio SCR Chelsea masih berada di kisaran 76 persen, meski angka itu diperkirakan akan meningkat setelah derasnya aktivitas transfer musim panas ini.
Lolos dari Ancaman Larangan Transfer
Di tengah derasnya belanja pemain, Chelsea juga baru menutup satu persoalan hukum yang sempat mengancam masa depan klub.
The Blues akhirnya terhindar dari sanksi larangan mendaftarkan pemain selama dua jendela transfer maupun pengurangan enam poin setelah mengajukan banding atas kasus pelanggaran pembayaran kepada agen. Sebagai gantinya, klub hanya diwajibkan membayar denda sebesar GBP 10 juta atau sekitar Rp 243 miliar.
Kasus tersebut berawal ketika konsorsium BlueCo, yang dipimpin Todd Boehly dan Clearlake Capital, mengambil alih Chelsea pada Mei 2022. Pemilik baru kemudian secara sukarela melaporkan 74 dugaan pelanggaran aturan kepada Federasi Sepak Bola Inggris (FA), termasuk dugaan pembayaran rahasia senilai GBP 47 juta kepada agen yang tidak terdaftar dan pihak ketiga sepanjang periode 2011–2018.
Baca Juga: Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3, Posisi Garuda di Grup A Piala AFF 2026 Terancam
FA awalnya menjatuhkan denda sebesar GBP 26 juta, tetapi nilai itu kemudian dipangkas karena Chelsea dinilai kooperatif selama proses investigasi.
"Kini kasus di FA telah selesai dan seluruh proses regulasi terhadap klub telah berakhir," demikian pernyataan resmi Chelsea.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan