JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com – Konflik antara UEFA dan FIFA memasuki fase yang semakin panas. Sikap Presiden FIFA Gianni Infantino yang tetap bertahan di tengah tekanan untuk mundur membuat ancaman boikot dari UEFA kembali mengemuka.
Alih-alih membuka jalan kompromi, Infantino justru mempertegas posisinya. Setelah pertemuan krisis selama sekitar tujuh jam di Maroko, FIFA menyatakan bahwa sang presiden masih mendapat "dukungan penuh".
Pernyataan tersebut tidak serta-merta meredakan ketegangan. UEFA justru menegaskan bahwa dukungan terhadap Infantino tidak mengubah tuntutan mereka.
Perselisihan ini berawal dari penolakan terhadap rencana FIFA terkait masuknya investasi swasta dan usulan penjualan hak atas kompetisi-kompetisi utama. UEFA menilai langkah tersebut berpotensi mengubah struktur dan tata kelola kompetisi secara mendasar.
Baca Juga: Emosi Ditegur Soal Wanita Lain, Suami di Sibuhuan Hantam Kepala Istri Pakai Batu
FIFA sendiri menyatakan tidak akan lagi menoleransi serangan terhadap integritas, tata kelola, maupun prosedur organisasi. Namun, UEFA tetap bersikukuh bahwa tuntutan mereka belum dipenuhi.
UEFA Tegaskan Syarat Boikot
Menurut laporan The Sun, UEFA menilai dukungan FIFA terhadap Infantino tidak mengubah situasi. Ancaman untuk memboikot turnamen FIFA pun tetap berada di atas meja.
"Asosiasi-asosiasi anggota UEFA telah menyatakan dengan sangat jelas mengenai syarat-syarat terkait partisipasi dalam kompetisi FIFA," demikian pernyataan UEFA.
Ada dua tuntutan utama yang disorot UEFA.
Pertama, usulan penjualan hak atas kompetisi utama harus ditarik. Kedua, harus ada jaminan bahwa upaya yang dinilai dapat merusak esensi permainan tidak akan kembali dilakukan.
Baca Juga: Semarakkan HUT ke-81 RI, dr Dimas Ajak Warga Medan Kibarkan Merah Putih di Setiap Rumah
Masalahnya, kedua syarat tersebut hingga kini belum dipenuhi.
Situasi ini membuat turnamen-turnamen FIFA dalam beberapa bulan ke depan berada dalam bayang-bayang konflik politik sepak bola antara dua organisasi terbesar di dunia.
5 Turnamen FIFA Terancam
Jika konflik tidak menemukan jalan keluar, sedikitnya lima turnamen FIFA berpotensi terdampak sikap UEFA.
1. Piala Dunia Wanita U-20 2026 – Polandia
Turnamen ini dijadwalkan berlangsung pada September 2026 dan menjadi agenda FIFA terdekat yang berpotensi terdampak apabila ancaman boikot benar-benar direalisasikan.
2. Piala Dunia Wanita U-17 2026 – Maroko
Berikutnya adalah Piala Dunia Wanita U-17 yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Sumbagut Raih 7 Penghargaan ISRA 2026, Program Gampong Berdikari Sabet Platinu
3. Piala Dunia U-17 2026 – Qatar
Kompetisi kelompok usia putra ini dijadwalkan berlangsung pada November hingga Desember 2026.
4. Piala Champions Wanita 2027 – Miami
Kompetisi tersebut dijadwalkan berlangsung pada Januari 2027 dan berada dalam periode ketika tensi menuju pemilihan presiden FIFA semakin tinggi.
5. Piala Dunia Wanita 2027 – Brasil
Turnamen terbesar sepak bola wanita dunia ini dijadwalkan berlangsung pada Juni-Juli 2027. Jika konflik berlarut hingga periode tersebut, dampaknya bisa menjadi yang paling serius.
Bukan Hanya UEFA yang Bersikap Keras
Tekanan terhadap Infantino tidak hanya datang dari Eropa.
Serikat pemain global FIFPRO turut mengecam apa yang mereka sebut sebagai penyalahgunaan kekuasaan presiden. Sementara itu, CONMEBOL, yang selama ini kerap menjadi sekutu Infantino, juga mengkritik tindakan sepihak yang dinilai dilakukan tanpa dialog.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan yang dihadapi FIFA tidak semata-mata merupakan perselisihan dengan UEFA. Ada keresahan lebih luas terkait arah tata kelola dan pengambilan keputusan di tubuh organisasi sepak bola dunia tersebut.
Di sisi lain, dukungan terhadap Infantino belum sepenuhnya runtuh.
Baca Juga: Gagal Total di Piala AFF 2026, John Herdman Ungkap Target Baru Timnas Indonesia
CAF menyatakan dukungan bulat kepada Infantino pada Kamis. Konfederasi sepak bola Afrika itu sekaligus menegaskan komitmen terhadap praktik terbaik dalam tata kelola dan transparansi.
Dukungan untuk Infantino Mulai Retak?
Di tengah konflik tersebut, posisi Infantino menjelang pemilihan presiden FIFA pada Maret 2027 mulai menjadi sorotan.
Sebelumnya, Infantino diperkirakan dapat melaju menuju masa jabatan keempat tanpa pesaing berarti. Namun, perkembangan terbaru berpotensi mengubah peta dukungan.
Sejumlah federasi anggota UEFA dilaporkan telah menarik kembali surat dukungan mereka terhadap pencalonan Infantino. Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) disebut termasuk yang secara resmi mencabut dukungannya.
Bahkan, sejumlah tokoh penting FIFA mulai mengambil jarak. The Guardian melaporkan bahwa Arsene Wenger, kepala pengembangan global FIFA, tidak hadir dalam pertemuan di Maroko.
Sikap tersebut menambah kesan bahwa tidak semua orang di lingkaran FIFA berada dalam satu barisan dengan Infantino.
Konflik yang Bisa Mengubah Peta Sepak Bola Dunia
Persoalan semakin rumit setelah Presiden Asosiasi Sepak Bola Yordania, Pangeran Ali bin al-Hussein, tetap mempertahankan sikap kritisnya meski FIFA telah membayarkan bonus yang sebelumnya tertunggak kepada tim nasional Yordania dari Piala Arab.
Ia bahkan memandang pembayaran tersebut sebagai bagian dari dinamika tekanan menjelang pemilihan presiden FIFA.
Kini, pertarungan antara UEFA dan FIFA bukan lagi sekadar perbedaan pendapat mengenai kebijakan kompetisi. Konflik tersebut berpotensi merembet ke lapangan hijau dan memengaruhi keikutsertaan sejumlah negara dalam turnamen internasional.
Jika kompromi tidak tercapai, lima turnamen FIFA bisa menjadi panggung pertama dari pertarungan kekuasaan tersebut.(jpc/han)
Dan apabila boikot benar-benar terjadi, dampaknya bukan hanya soal siapa yang hadir atau absen di sebuah turnamen. Ini bisa menjadi ujian terbesar bagi keseimbangan kekuasaan dalam sepak bola dunia menjelang pemilihan presiden FIFA 2027.
Editor : Johan Panjaitan