Saudi Pro League dan Super Lig Tak Kalah Elite, Aktif Datangkan Pemain Bintang

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:00 WIB
Striker Juventus Dusan Vlahovic (kiri) menjajal Super Lig Turki. (football-italia)
Striker Juventus Dusan Vlahovic (kiri) menjajal Super Lig Turki. (football-italia)

 

ISTANBUL, Sumutpos.jawapos.com – Super Lig Turki dan Saudi Pro League (SPL) memang belum masuk jajaran lima liga elite Eropa. Namun, geliat transfer kedua kompetisi tersebut pada musim panas ini menunjukkan ambisi yang semakin serius untuk menembus persaingan sepak bola papan atas dunia.

Keduanya tak lagi sekadar menjadi destinasi bagi pemain bintang yang memasuki penghujung karier. Sebaliknya, klub-klub di Turki dan Arab Saudi mulai agresif memburu pemain dengan kualitas, usia, dan nilai kompetitif yang masih tinggi.

Di Super Lig, Fenerbahçe menjadi salah satu klub yang paling mencuri perhatian. Mereka mendatangkan Romelu Lukaku dan Mason Greenwood, setelah sebelumnya merekrut N'Golo Kanté pada Februari lalu.

Baca Juga: 131 Titik Kemenangan: BRI KKB Expo 2026, Mobil Impian Bukan Sekadar Harapan

Sementara itu, Galatasaray telah memiliki sejumlah nama besar seperti Leroy Sané, İlkay Gündoğan, dan Victor Osimhen.

Persaingan semakin menarik setelah Dusan Vlahovic menyusul Leandro Trossard yang bergabung dengan Beşiktaş. Bahkan, nama Mohamed Salah sempat dikaitkan dengan sejumlah klub Saudi Pro League sebelum kapten timnas Mesir tersebut memilih menandatangani kontrak dua tahun bersama Trabzonspor.

Daya Tarik Finansial dan Kompetisi Eropa

Lantas, apa yang membuat Super Lig semakin menarik bagi pemain kelas dunia?

Salah satu faktornya adalah peluang tampil di kompetisi Eropa. Klub-klub Turki memiliki jalur untuk bersaing di Liga Champions, Liga Europa, maupun Liga Konferensi Eropa. Faktor tersebut memberikan nilai tambah yang tidak dimiliki banyak kompetisi di luar Eropa.

Selain faktor olahraga, aspek finansial juga menjadi magnet. Struktur pembayaran gaji di Turki memungkinkan klub menanggung kewajiban pajak pemain. Dengan skema tersebut, pendapatan bersih yang diterima pemain dapat menjadi sangat besar.

Baca Juga: Masuki Musim Hujan, Fauzi Ajak Masyarakat Jaga Kebersihan

Mohamed Salah, misalnya, disebut mendapatkan sedikitnya GBP 14,5 juta atau sekitar Rp349,4 miliar per musim secara bersih dari Trabzonspor. Angka tersebut belum termasuk bonus.

“Pada dasarnya, mereka menerima uangnya secara bersih. Tidak ada kewajiban pajak. Klub yang membayar pajaknya,” kata seorang agen Turki kepada The Telegraph.

Kombinasi antara prospek bermain di kompetisi Eropa dan keuntungan finansial membuat Super Lig semakin mampu menarik perhatian pemain top yang sebelumnya identik dengan klub-klub elite Eropa.

Saudi Pro League Mulai Berubah Strategi

Di Arab Saudi, perubahan strategi juga mulai terlihat. Saudi Pro League yang dalam beberapa tahun terakhir dikenal gemar mendatangkan superstar berusia lanjut kini mulai mengarahkan kebijakan transfer ke pemain yang masih berada dalam usia produktif.

Sejumlah klub tidak lagi semata-mata mengejar nama besar. Mereka mulai mempertimbangkan usia, performa, potensi perkembangan, hingga kemungkinan nilai jual kembali pemain.

Crysencio Summerville dan Tijjani Reijnders menjadi gambaran dari perubahan tersebut. Summerville yang berusia 24 tahun bergabung dengan Al-Hilal, sedangkan Reijnders yang berusia 28 tahun merapat ke Al-Qadsiah.

Baca Juga: Gempa di Simalungun Sumut Berkekuatan 6,4 Magnitudo

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa SPL mulai membangun fondasi jangka panjang. Jika sebelumnya kedatangan pemain seperti Cristiano Ronaldo menjadi simbol ambisi besar sepak bola Arab Saudi, kini klub-klub SPL mulai mengembangkan model yang lebih berorientasi pada keberlanjutan kompetisi.

Pergerakan Super Lig dan SPL pun menjadi sinyal bahwa peta kekuatan sepak bola global perlahan semakin dinamis. Uang memang tetap menjadi faktor penting, tetapi daya tarik kompetisi, ambisi klub, usia pemain, dan peluang membangun karier jangka panjang mulai menjadi pertimbangan yang sama kuatnya.

Bukan tidak mungkin, jika tren ini berlanjut, Super Lig Turki dan Saudi Pro League akan semakin sulit dipandang hanya sebagai kompetisi pelengkap di luar jajaran liga elite dunia.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
super lig turki pemain bintang split Saudi Pro League kompetisi