MEDAN, SUMUTPOS.CO – Terletak di Kampung Kesawan, Jalan Masjid Medan, dibangun sejak tahun 1874-an nama kesohor Masjid Lama Gang Bengkok barangkali sudah ke mana-mana. Masjid yang dibangun oleh Tjong Afie ini menjadi saksi hidup perkembangan islam di Tanah Melayu dan menjadi bukti kerukunan agama yang terbangun sejak lama.
Masjid ini disebut-sebut menjadi yang tertua kedua setelah Masjid Al Osmani atau Masjid Kuning, di JL Kol Yos Sudarso, Km 19, 5, Medan Labuhan yang berdiri sekitar tahun 1854. Sejak tahun 1970-an masjid ini terus direnovasi seiring bertambahnya jamaah. Warga sekitar maupun musafir tiap tahun terus meramaikan
Masjid ini. Tak cuma keberadaan masjid, takjil berbuka yang disiapkan di sini juga menjadi perhatian, Bubur Anyang.
Bubur Anyang ini sebenarnya juga disediakan dua masjid tertua di Medan lainnya diantaranya Masjid Kuning dan Masjid Raya. Demikian terjadi karena Bubur Anyang ini merupakan makanan yang menjadi ciri khas etnis Melayu.
“Kalau di Masjid Kuning saya tidak tahu persisnya bagaimana Bubur Anyang ini, kalau di Masjid Raya buburnya lebih pedas makanya disebut Bubur Pedas, kalau Bubur Anyang versi Masjid Lama Gang Bengkok lebih lembut rasanya,” ujar salahseorang pengurus masjid, Silmi Tanjung ketika diwawancarai Sumut Pos, Minggu (5/6).
Bahan baku Bubur Anyang itu sendiri merupakan beras, rempah-rempah seperti cengkeh, lengkuas serai dan jahe. “Kemudian rencah daging lembu yang ditabur di atas sup bubur.” Sehari-harinya pengurus masjid menyediakan 100 –an lebih porsi Bubur Anyang, tiap tahun jumlahnya meningkat sesuai permintaan.
Silmi menceritakan masjid ini menyimpan sejumlah cerita kebiasaan pejabat dan mantan pejabat, mulai dari gubernur, walikota dan wakil rakyat. Yang menarik adalah kebiasaan mantan Gubernur Sumut, Gatot Pujo Nugroho. “Beliau sering ke sini bahkan ketika belum menjabat. Letak duduknya juga selalu sama, saya masih ingat tempatnya,” ujar Silmi sembari menunjuk salahsatu tiang pilar yang masjid tersebut.
Gatot katanya juga kerap datang mengikuti pengajian sore selama Ramadan yang digelar Senin hingga Kamis. “Wali Kota Medan juga, Dzulmi Eldin, dari kecil-kecilnya sering main ke sini dibawa orangtuanya. Setidaknya itu cerita yang saya tahu,” ungkapnya.
Sebagaimana dikisahkan, Masjid Lama Gang Bengkok berdiri di atas tanah wakaf dari Haji Muhammad Ali yang dikenal sebagai Datuk Kesawan oleh masyarakat sekitar. Masjid Lama Gang Bengkok Pembangunannya diperkirakan pada tahun 1874, terhitung sudah 142 tahun masjid Lama Gang Bengkok begitu tenar sebagai kompilasi budaya di Medan yakni paduan budaya Melayu, Tiongkok serta Eropa.
Seluruh pembiayaan pembangunan Masjid Lama Gang Bengkok datang dari tokoh etnis Tioghoa non muslim Kota Medan, Tjong A. Fie. Terkait perbedaan agama tersebut, pembangunan Masjid Lama Gang Bengkok sempat mendapat penolakan masyarakat.
Namun akhirnya atas Sultan Deli Makmun Ar-Rasyid yang pada masa itu sudah berpindah pusat pemerintahan Sultan dari wilayah pelabuhan, yakni sekitar Masjid Al-Osmani ke Istana Maimun, maka pembangunan Masjid Lama Gang Bengkok pun segera dilakukan. Lebih-kurang selama 61 tahun, Tjong A. Fie tercatat sebagai penanggung seluruh biaya Masjid Lama Gang Bengkok sejak tahun 1860-1921.
Sebelum dilakukan renovasi sehingga menjadi bentuk sekarang ini, masih terdapat taman kecil di depan masjid. Selain sebagi tempat peribadatan umat muslim, Masjid Lama Gang Bengkok juga terdapat aktivitas lainnya yakni pengajian yang rutin diadakan. Masjid Lama yang memiliki daya tampung 2000 orang ini juga menyediakan fasilitas perpustakaan di dalamnya. (dvs) Editor : Admin-1 Sumut Pos