Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Warga Bhutan Umumnya Hidup Bahagia, Apa Rahasianya?

Admin-1 Sumut Pos • Senin, 22 Juni 2015 | 16:21 WIB
Photo
Photo
Para siswa mengenakan pakaian tradisional Bhutan.

SUMUTPOS.CO - Bhutan, sebuah kerajaan di Himalaya, terkenal karena kebijakan Kebahagiaan Nasionalnya yang inovatif; ini merupakan bumi di mana kebahagiaan berkuasa dan kesedihan dilarang masuk.

Bhutan memang tempat yang istimewa (dan Ura, direktur Pusat Kajian Bhutan, merupakan orang yang istimewa) tetapi keistimewaan itu berbeda, dan jujur saja, tidak secerah gambaran tentang Shangri-La yang kita bayangkan.

Dalam budaya Bhutan, orang diharapkan memikirkan tentang kematian lima kali sehari. Ini hal yang menakjubkan untuk dilakukan untuk orang mana pun, tetapi tentunya lebih istimewa lagi karena ini dilakukan di negara yang dianggap negara terbahagia seperti Bhutan.

Ataukah diam-diam negara ini merupakan negara kegelapan dan keputusasaan?
Tidak tentu juga. Sejumlah penelitian baru-baru ini menyebutkan bahwa dengan begitu sering memikirkan tentang kematian, warga Bhutan mungkin mencapai sesuatu.


Photo
Photo
Thimphu, ibu kota Bhutan.

Dalam studi tahun 2007, psikolog dari Universitas Kentucky, Nathan DeWall dan Roy Baumesiter, membagi beberapa puluh murid mereka ke dalam dua kelompok.

Satu kelompok disuruh memikirkan bagaimana mengalami rasa sakit ketika pergi ke dokter gigi, sementara kelompok lainnya diinstruksikan untuk berkontemplasi mengenai kematian mereka.

Kedua kelompok kemudian diminta melengkapi kata-kata, seperti “jo_”.

Kelompok kedua – yang sudah memikirkan tentang kematian – lebih mungkin membuat kata yang positif, misalnya “jo_” menjadi “joy” (bahagia).

Hal ini membuat kedua peneliti menyimpulkan bahwa “kematian merupakan fakta yang mengancam secara psikologis, tetapi ketika orang merenungkannya, kelihatannya sistem otomatis mulai mencari pikiran-pikiran yang membahagiakan”.

KEMATIAN BAGIAN DARI KEHIDUPAN
Tidak seperti kebanyakan orang di negara-negara Barat, orang Bhutan tidak mengucilkan kematian.

Kematian – dan gambar-gambar tentang kematian – ada di mana-mana, terutama di ikonografi Buddhis.

Di sana kita akan melihat ilustrasi berwarna-warni yang mengerikan, Tidak ada seorang pun, bahkan anak-anak pun, yang dilindungi dari gambar-gambar ini, atau dari tari-tarian ritual yang menggambarkan kematian.

Ritual memberikan tempat untuk berduka, dan di Bhutan tempat itu ada dan diperuntukkan untuk semua orang di komunitas.

Setelah seseorang meninggal, ada periode 49 hari berkabung, yang menyertakan ritual-ritual yang diatur dengan sangat terperinci dan hati-hati.

“Ini lebih baik dari obat antidepresi,” kata Tshewang Dendup, seorang aktor Bhutan.

Orang Bhutan mungkin kelihatannya tidak terlalu peduli pada saat-saat ini. Tetapi sebenarnya tidak, mereka berkabung melalui ritual ini.


Photo
Photo
Biara Peringatan Chorten di Thimphu.

Mengapa sikap mereka begitu berbeda tentang kematian? Salah satu alasan orang Bhutan begitu sering memikirkan tentang kematian karena semua itu ada di sekeliling mereka.

Untuk negara kecil ini, ada banyak cara untuk meninggal. Mereka bisa meninggal di jalan sempit berkelok-kelok yang berbahaya. Mereka bisa diterkam beruang atau makan jamur beracun.

Penjelasan lainnya adalah karena keyakinan agama Buddha yang begitu dalam di negara itu, khususnya mengenai reinkarnasi.

Jika Anda mengetahui kita bisa mendapatkan kehidupan lagi suatu masa, Anda mungkin akan kurang takut bahwa kehidupan yang sekarang ini akan berakhir. Seperti dikatakan para penganut agama Buddha, ketakutan Anda akan kematian tidak boleh lebih besar daripada ketakutan Anda membuang baju tua.

Hal ini tentunya tidak bisa dijadikan kesimpulan untuk bahwa orang Bhutan tidak merasa takut atau sedih.

Mereka tentu merasakannya. Namun, seperti kata Leaming kepada saya, mereka tidak melarikan diri dari emosi-emosi itu.

“Di negara-negara Barat, jika kita sedih, kita ingin mengobatinya,” katanya. “Kita takut akan rasa sedih. Jika sedih, harus diatasi, diobati. Di Bhutan, orang lebih menerima bahwa itu bagian dari hidup.” (BBC) Editor : Admin-1 Sumut Pos
#Rahasia bahagia #bhutan