SUMUTPOS.CO - Konflik Harimau dan manusia, beberapa tahun belakang ini terus terjadi di sejumlah daerah di Sumatera Utara (Sumut). Hal ini, dikarenakan habitat dan populasi hewan dengan bahasa latin, Panthera tigris sumatrae ini kepunahannya terus terancam.
Terakhir konflik harimau dan manusia, terjadi di Desa Bangkelang, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Minggu (4/3). Seekor harimau harus mati dengan tragis, setelah ditombak masyarakat dan ditembak polisi.
Pagi hari, sekitar Pukul 08.00 WIB. Seekor harimau masuk kawasan pemukiman warga, persisnya di kolong rumah panggung milik Sofi warga Desa Bangkelang. Keberadaan hewan yang dijuluki Sibelang itupun membuat panik seisi rumah dan warga sekitarnya.
Oleh warga, keberadaan harimau itupun dilaporkan kepada Kepala Desa setempat hingga ke Polsek Batang Natal.
Dalam hitungan menit, warga yang sudah berkerumun, langsung menghujamkan tombaknya berkali-kali ke tubuh harimau hingga mati dan terkapar.
Ironisnya lagi, petugas Polsek Batang Natal yang tiba di lokasi, tak mau ketinggalan. Sibelang pun ditembak hingga dipastikan sudah mati. Oleh warga, harimau itupun diikat di sebuah tiang dan menjadi tontotan warga.
"Iya benar ada harimau mati, tapi untuk data selengkapnya kita akan lakukan konfrensi pers besok (hari ini,red)," ungkap Humas Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut), Evansus Manalu saat dikonfirmasi Sumut Pos, kemarin siang.
Evansus tidak bisa memberikan keterangan secara detail. Karena pihaknya masih melakukan pendataan atas konflik tersebut. Namun, pihak BBKSDA Sumut melakukan kordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengevakuasi bangkai harimau tersebut.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Rina Sari Ginting mengatakan sudah menerjunkan personel untuk mengamankan lokasi konflik tersebut. Termasuk mengamankan bangkai harimau tersebut.
"Atas laporan tersebut, pihak Polsek Batang Natal menurunkan beberapa personel ke TKP guna membantu warga mengamankan harimau tersebut. Tiba di TKP, personel Polsek melihat seekor harimau yang sudah dikepung oleh warga setempat. Lantas untuk mengantisipasi adanya penyerangan oleh harimau, pihak Polsek Batang Natal menghubungi petugas TNBG dan BKSDA Kabupaten Madina," jelas Rina kepada wartawan, kemarin sore.
Namun, sebelum petugas BKSDA tiba, harimau keluar dari kolong rumah tersebut. Dikatakan Rina, warga yang melihat harimau keluar dari kolong rumah, langsung ditombak sampai mati.
"Tiba-tiba harimau keluar dari kolong rumah warga sehingga terjadi penombakan oleh masyarakat mengakibatkan harimau warga desa, mengakibatkan harimau melakukan pengejaran dan penyerangan terhadap warga namun warga masy tetap melakukan penombakan berkali-kali arah tubuh harimau sehingga mati," tutur Rina.
Miris yang dialami harimau yang kini dihambang kepenuhan. Aparat kepolisian malah menembak Harimau tidak berdaya setelah ditombak berulang kali oleh warga sekitar.
"Untuk memastikan harimau mati maka personel Polsek Batang Natal melakukan penembakan satu kali ke arah tubuh harimau, kemudian harimau yang telah mati diserahkan kepada petugas TNBG dan BKSDA Kabupaten Madina," ujar perwira melati tiga itu.
Kemudian, bangkai harimau itu dievakuasi ke Mako untuk dilaksanakan outopsi dan pemusnahan yang dilakukan oleh BKSDA berkordinasi dengan Polres Mandailing Natal.
Warga 'Dihantui' Siluman Harimau
Konflik ini sudah mengakibat seorang warga mengalami luka digigit harimau. Hal inilah yang membuat warga di Kecamatan Batang Natal, digemparkan dengan isu harimau kepala manusia, atau disebut dengan Siluman Harimau.
Rina mengatakan, isu beredar di tengah masyarakat ada Siluman Harimau berwajah manusia. Dengan itu, sekitar 50 orang warga dari Desa Hutalobu, Desa bangkelang dan Desa Tambang Kaluang, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal.
Namun pada saat pencarian, warga menemukan lubang atau gua yg dicurigai sebagai tempat persembunyian dan warga memasuki gua untuk memeriksa dan tiba-tiba muncul Harimau di gua tersebut. "Sehingga menggigit masyarakat yang sedang melakukan pencarian tersebut sebanyak 1 orang," kata Rina.
"Perlu kami laporkan juga, bahwa pada Jumat 16 Febuari 2018. Harimau tersebut telah menggigit warga setempat, sehingga mengakibatkan 1 orang penduduk terluka, saat ini situasi telah aman dan kondusif," kata Rina.
Sementara itu, Humas BBKSDA Sumut Evansus Manalu mengungkapkan pihak tetap terus melakukan pencegahan dan menekan angka konflik harimau dengan manusia dengan memberikan edukasi dan pemahamanan terhadap mengatasi serangan harimau masuk ke dalam pemukiman warga.
"Kami mengimbau kepada masyarakat dengan cara penyuluhan dan membatasi daerah-daerah yang rawan, serta memberikan edukasi mengusir satwa liar seperti harimau ini," tutur Evansus kembali.
Pihak BBKSDA Sumut juga sudah memberikan pemahaman dan batasan untuk tidak melakukan aktivitas, dengan lokasi populasi satwa liar buas itu.
"Tidak mengganggu dari daerah yang dikuasi harimau, harus melihat itu. Kita memberikan pemahaman itu kepada masyarakat," tandasnya.
Terpisah, pengamat lingkungan hidup, Rasyid Assaf Dongoran, mengatakan konfilik ini jangan pernah menyalahkan masyarakat sekitar sendiri. Begitu juga dengan saling menyalahi. "Saat ini saya berada di lokasi. Kita di sini jangan saling menyalahi, karena masyarakat juga takut dengan keberadaan harimau. Begitu juga populasi dan habitatnya harimau sendiri juga terancam," ucap Rasyid kepada Sumut Pos, kemarin petang.
Dengan adanya konflik ini, lanjut Rasyid, seharusnya pemerintah turun dan hadir menyelesaikan konflik ini. Karena konflik manusia dan harimau tidak akan berakhir.
"Harusnya pemerintah mengkaji ulang dari keseluruhan izin pengelola hutan dari Madina, Taput, dan Tapteng. Karena di sini konflik itu terus terjadi," tutur Rasyid dari Sumatra Rainforest Institute (SRI).
Dia juga mengatakan, warga di Kecamatan Batang Natal sudah memberikan pemahaman lebih maju untuk mengatasi konflik dengan harimau. Namun karena kebuasan dan ketakutan, membuat warga membunuh harimau tersebut.
"Kenapa Harimau itu digantung masyarakat, untuk mencegah Harimau itu dimutilasi dan dagingnya dibagi-bagi warga. Nah, di situ ada kemajuan pemahamanan warga dari sebelumnya memutilasi hingga dagingnya dibagi-bagikan," pungkasnya.(gus/han)
Editor : Admin-1 Sumut Pos