Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Ambar dan Beru Situtung Dilepasliarkan ke TNGL

Johan Panjaitan • Kamis, 7 Maret 2024 | 20:09 WIB
SAKSIKAN: Sekda Langkat, Amril (kiri) menyaksikan harimau sumatera dibawa menggunakan helikopter untuk dilakukan pelepasliaran ke TNGL.
SAKSIKAN: Sekda Langkat, Amril (kiri) menyaksikan harimau sumatera dibawa menggunakan helikopter untuk dilakukan pelepasliaran ke TNGL.

STABAT, SUMUTPOS.CO- Dua ekor harimau sumatera berjenis kelamin betina masing-masing bernama Ambar dan Beru Situtung, dilepasliarkan ke kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Rabu (6/3/2024). Pelepasliaran tersebut disaksikan Sekretaris Daerah Langkat, Amril dari Pangkalan TNI AU Lanud Soewondo.


Ambar merupakan harimau betina dengan usia yang diperkirakan 5 sampai 6 tahun, ditangkap Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumut menggunakan kandang pasang di Dusun Arus Napal, Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang. Sementara Beru Situtung berusia ditaksir berusia 3 sampai 4 tahun, diselamatkan dari kawasan hutan lindung sungai tengah, Aceh Selatan.


Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk upaya penyelamatan satwa liar dari konflik satwa dan manusia yang telah melalui proses realisasi, untuk mengembalikan ke habitat aslinya di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Pelepasliaran Harimau Sumatera menggunakan 3 Helikopter dari TNI Angkatan Udara dan Polda Sumatera Utara.


Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE), Setyawan Pudyatmoko menjelaskan, dipilihnya hutan TNGL sebagai lokasi pelepasliaran karena jauh dari aktivitas masyarakat. Juga keasrian hutannya masih terjaga.

"Ditambah lagi banyaknya mangsa buruan seperti rusa dan babi hutan. Ini juga mengantisipasi kepunahan dari satwa tersebut," kata dia.


Kegiatan ini dilakukan dalam upaya mencegah kehilangan keanekaragaman hayati dalam pembangunan berkelanjutan untuk memperkuat kondisi sosial budaya dan ekonomi. Hal tersebut merupakan salah satu program untuk melakukan upaya-upaya konservasi, baik ekosistem maupun spesiesnya, demi mencegah kehilangan keanekaragaman hayati.

"Keanekaragaman hayati adalah modalitas yang berguna untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia," tukasnya. (ted/han)

Editor : Redaksi
#tngl