BINJAI, SUMUTPOS.CO- Kejaksaan Negeri Binjai memberi perhatian khusus terkait kubah Masjid Al-Fatih yang diduga tidak sesuai dokumen rencana anggaran biaya (RAB), Kamis (27/6/2024). Pasalnya, pembangunan Masjid Al-Fatih yang mengucurkan anggaran puluhan miliar ini diduga sarat dengan korupsi, kolusi dan nepotisme.
Informasi dirangkum, kubah Masjid Al-Fatih menggunakan bahan membran dengan luas 580 meter persegi. Selain itu, juga ada material spandek yang digunakan dengan luas 121 meter persegi.
Untuk kubah ini saja, dianggarkan senilai Rp1,3 miliar. Namun belakangan, hasilnya kurang memuaskan dan bahkan menimbulkan polemik.
Buntutnya, persoalan ini menyita perhatian Korps Adhyaksa di Kota Binjai. Kajari Binjai, Jufri menyebut, proyek pembangunan Masjid Al-Fatih masih dalam masa pemeliharaan.
"Jika ada pekerjaan yang kurang sempurna seperti pada kubah Masjid Al-Fatih, pekerjaan tersebut masih dalam masa pemeliharaan dan menjadi tanggung jawab pelaksana pekerjaan," terang Jufri.
Disoal apakah dapat dilakukan penundaan bayar oleh Pemko Binjai karena ada retensi atau masa pemeliharaan sisa 5 persen lantaran proyek menimbulkan polemik, dia menjawab sah-sah saja. Artinya, sisa 5 persen yang belum dibayarkan oleh Pemko Binjai disebut sebagai jaminan pemeliharaan.
“Setiap proyek selalu ada retensi 5 persen sebagai jaminan pemeliharaan. Retensi 5 persen tersebut dapat dicairkan dengan memberikan garansi sebagai penggantinya," kata Jufri.
"Bila ada pekerjaan yang tidak sempurna, baik karena rusak maupun hal lainnya, dan rekanan tidak memperbaiki pekerjaan tersebut, maka garansi tersebut dapat diklaim sebagai pengganti perbaikan pekerjaan yang kurang baik," sambung mantan Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi Jambi tersebut.
Dengan demikian, Pemko Binjai atau Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah sejatinya harus meneliti proyek tersebut dengan teliti serta benar. Jangan dibayarkan sisa termin 5 persen jika terdapat kesalahan atau tidak sesuai RAB dalam pengerjaannya.
Kubah Masjid Al-Fatih Binjai memang terlihat berbeda dari masjid umumnya. Adalah terdapat perbedaan lengkungan pada kubah masjid yang megah tersebut.
Adapun perbedaannya yakni, lengkungannya masuk ke dalam. Umumnya kubah masjid memiliki lengkungan keluar.
Karenanya, penampakan kubah masjid ini menjadi perhatian. Selain itu, memunculkan kekhawatiran terkait kualitas bangunannya.
Namun begitu, Kepala Bidang Bina Marga, Ridho Indah Purnama saat dikonfirmasi mengklaim, perbedaan lengkungan tersebut adalah inovasi terbaru. "Contohnya kayak JIS (Jakarta International Stadium)," ujar Ridho melalui layanan pesan singkat WhatsApp.
Ridho tidak secara gamblang memberi penjelasan terkait lengkungan ke dalam pada kubah Masjid Al-Fatih Binjai. Dia hanya mengirimkan sejumlah gambar terkait inovasi kubah terbaru tersebut.
"Mungkin gambar-gambar ini bisa menjelaskan. Membran (material kubah)," tambah Ridho yang bertindak sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam mega proyek tersebut.
Masjid Al-Fatih terletak di Jalan Soekarno-Hatta KM 17, Kelurahan Tunggurono, Binjai Timur, diresmikan sekitar awal Maret 2024 lalu. Bahkan masjid yang didominasi warna putih dan mampu menampung 2.000 jamaah ini, juga sudah dilaksanakan Salat Tarawih pada Senin (11/3/2024) lalu.
Masjid yang berdiri di pintu masuk kota rambutan ini diharap menjadi ikon baru dan dapat digunakan sebagai lokasi wisata religi sekaligus tempat persinggahan para perantau. Masjid Al Fatih berdiri di atas lahan seluas 1 hektar yang dibangun dengan dana sebesar Rp47 miliar, bersumber dari APBD Kota Binjai tahun 2022 dan 2023.
Usai diresmikan, terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. Yakni, motor jamaah yang menunaikan Salat Isya hilang, Minggu (9/6/2024). Ini terjadi diduga karena minimnya penjagaan di masjid tersebut. (ted/han)
Editor : Redaksi