SERGAI, SUMUTPOS.CO - Rekonstruksi kasus penembakan yang menewaskan seorang pelajar Muhammad Alfath Arrisky(13) korban anak di bawah umur, digelar di Mapolres Serdang Bedagai, Kamis (21/11/2024). Dalam rekonstruksi tersebut, Polres Sergai memperagakan sebanyak 28 adegan yang menggambarkan kronologi kejadian.
Rekonstruksi dilakukan untuk memperjelas jalannya peristiwa dan memperkuat proses penyelidikan. Setiap adegan disusun secara rinci untuk menunjukkan bagaimana peristiwa terjadi, mulai dari awal interaksi hingga saat korban mengalami penembakan.
Dikesempatan ini, Feber Andro Robert Sirait, kuasa hukum korban, menilai ada beberapa kejanggalan dalam proses rekonstruksi tersebut.
Selain itu, Feber juga menyayangkan ketidakhadiran oknum TNI yang diduga terlibat dalam kasus ini.
"Ketidakhadiran oknum TNI ini sangat disayangkan karena ada rangkaian peristiwa yang belum terungkap,"ungkapnya pada awak media ,kamis ( 21/11/2024).
Peristiwa penembakan terhadap Muhammad Alfath terjadi pada 1 September 2024 di depan Pabrik PT Adolina, Kecamatan Perbaungan. Korban tewas akibat luka tembak di bagian dada. Kasus ini kemudian menjadi sorotan publik karena dugaan keterlibatan oknum TNI.
Feber berharap semua saksi, termasuk oknum TNI, dapat dihadirkan di persidangan. "Kami berharap mereka dihadirkan di pengadilan nanti. Jika tidak di sini, mungkin ada alasan teknis atau sistem yang menghambat, namun kami tetap berpikir positif,"harapnya.
Sementara itu Kasatreskrim Polres Sergai, AKP Doni Pance Simatupang didampingi Kanit Reskrim IPDA Ibnu Irsyady, S.Tr.K dan Plt Kasi Humas IPDA Ardika J. Napitupulu mengatakan, rekonstruksi digelar untuk mengetahui rangakaian kejadian tersebut seraya mendapat titik terang mengenai peran masing-masing.
"Rekonstruksi hari ini dihadiri, pihak keluarga, Penasehat Hukum Korban serta didampingi JPU. Adapun kita laksanakan rekonstruksi hari ini bertujuan untuk mengetahui rangakaian kejadian tersebut, supaya mendapat titik terang mengenai peran masing-masing," ujarnya.
Ia melanjutkan, rekonstruksi ini dilaksanakan dengan 28 adegan yang masing - masing diperagakan oleh 4 orang pelaku sipil yang sudah diamankan, dan 2 orang oknum TNI dengan peran pengganti.
Terkait dengan ketidak hadiran pelaku penembakan, yakni oknum TNI, Ia menjelaskan bahwa pihaknya hanya memproses 4 pelaku sipil, sedangkan yang bersangkutan langsung diproses di POMDAM.
"Kalo untuk sipil kita yang proses tapi kalau untuk yang itu kita serahkan ke pihak POMDAM, dan kami tidak dapat menjelaskan apa peran kedua oknum ini, karena memang kami memproses yang sipil saja, itu kita serahkan ke mereka,"ucapnya.
Sedangkan terkait dengan informasi terbaru dari pihak keluarga dan Penasehat Hukum korban mengenai security Rumah Sakit Sawit Indah, ia menegaskan akan melakukan apa tindakan1secepatnya.
"Untuk itu kita baru dapat informasi pihak keluarga dan akan kami tindaklanjuti segera," pungkasnya.
Dalam kesempatan itu pula, ibu korban yang menyaksikan rekonstruksi histeris, melihat para korban yang melakukan pembunuhan terhadap anak mereka, dan mengganggap apa yang dilakukan tidak manusiawi. (fad/han)
Editor : Redaksi