BATUBARA, SUMUTPOS.CO - Terkait matinya ribuan ikan nila milik peternak ikan akibat limbah tercemar limba dari PKS PT Gunung Bayu, diklaim Rahyumi Arsa selaku Manager Pabrik PTPN IV Regional II Unit PKS Gunung Bayu, dikarenakan adanya erosi pada lereng penampungan kolam penampungan limbah Crude Palm Oil (CPO).
"Saat air hujan deras, air danau naik, lereng jurangan kolam erosi sehingga mengakibatkan rembesan," Rahyumi Arsa didampingi Hamdani Damanik, Maskep Pabrik ketika dikonfirmasi wartawan, di Kompleks PTPN IV Pabrik Gunung Bayu, Sabtu(11/1/2025).
Rahyumi Arsa menjelaskan, bocornya kolam penampungan limbah itu terjadi pada salah satu dinding kolam penampungan limbah 1 atau kolam pertama yang mengalami erosi hingga longsor.
Menurut Rahyumi, jebolnya tanggul Limbah PKS Gunung Bayu tidak seperti apa yang dibayangkan sebagai banjir bandang, karena yang terjadi hanya campuran air hujan yang mengalir pada dinding tanggul sehingga mengakibatkan terkikisnya tanggul.
"Kolam penampung itu bukan penuh atau Over kapasitas debit limbahnya. Namun, akibat erosi di lereng tanggul penampungan,"imbuhnya.
Dikatakan Rahyumi, saat ini pihaknya melakukan perbaikan dengan pemasangan Bronjong, agar limbah tidak merembes lagi.
Dijelaskan Hamdani, Pabrik PT Gunung Bayu yang mengelola 30 ton TBS per jamnya, tentunya dalam pembangunan pabrik sesuai dengan perizinan DLH. Bahkan setiap 3 bulan sekali dilakukan pengontrolan dari DLH. Begitu juga dalam hal pengelolaan limbah.
"Kondisi ini adalah murni karena bencana atau Force Major. Setelah terjadi longsor yang mengakibatkan rembesan di aliran air, kami juga bisa menilai walaupun secara visual rembesan itu tidaklah terlalu banyak,"sebutnya.
Menurut Manajer Pabrik Gunung Bayu Rahyudi, kejadian tersebut tidak ada dilakukan unsur kesengajan. Namun murni dikarenakan bencana atau Force Major. "Kami taat hukum, kooperatif dan komunikatif dengan semua pihak,"pungkasnya.(mag-3/han)
Editor : Redaksi