LABUHANBATU, Sumutpos.jawapos.com-Di balik gencarnya slogan “Labuhanbatu Cerdas Bersinar” yang diusung Bupati Maya Hasmita dan Wakil Bupati Jamri, realitas di lapangan justru menunjukkan kontras yang mencolok. Slogan yang diharapkan menjadi semangat pemerataan pendidikan itu seakan kehilangan makna saat menilik kondisi sekolah-sekolah di wilayah pesisir.
Salah satu potret nyata terlihat di SD Negeri 22 Sei Siarti, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhanbatu. Bangunan sekolah yang menampung sekitar 140 siswa ini kondisinya sangat memprihatinkan. Sebagian besar ruang kelas beratap seng bocor dan berlantai semen pecah, jauh dari standar sekolah layak huni.
Mirisnya, empat ruang kelas dalam kondisi rusak berat, sementara sebagian siswa terpaksa mengikuti proses belajar di ruang UKS dan kantor guru yang disulap menjadi kelas darurat.
“Peserta didik harus belajar dengan kondisi sangat ironis. Ini menyayat hati. Anak-anak kita berhak mendapat lingkungan belajar yang layak dan aman,” ujar Edi S. Ritonga, pegiat sosial pesisir Labuhanbatu, Rabu (12/11/2025).
Kondisi ini kian menyedihkan ketika hujan turun. Atap bocor membuat siswa basah kuyup, sementara meubeler rusak dan tidak mencukupi. Beberapa siswa bahkan harus bergantian menggunakan kursi dan meja.
Menurut Edi, kondisi serupa sudah terjadi sejak 2019 tanpa penanganan berarti.
“Sudah lama sekolah ini seperti ini. Tapi sampai sekarang belum ada perbaikan,” tambahnya.
Sayangnya, upaya konfirmasi ke pihak sekolah tak membuahkan hasil. Kepala Sekolah SDN 22 Sei Siarti, Helti Samosir, belum dapat dihubungi karena nomor teleponnya tidak aktif.
Kondisi ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah yang mengusung visi pemerataan pendidikan. Jika tidak segera dibenahi, cita-cita Labuhanbatu Cerdas Bersinar akan sulit terwujud di tengah ketimpangan antara desa dan perkotaan.(fdh/han)
Editor : Johan Panjaitan