DAIRI, Sumutpos.jawapos.com-Sebanyak 19 warga Desa Parbuluan 6, Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi, yang sebelumnya diamankan usai kericuhan di Mapolres Dairi, akhirnya dipulangkan pada Jumat (14/11/2025). Pemulangan ini dibenarkan pendamping Pejuang Tani Bersama Alam (Petabal) dari Yayasan Petrasa, Duat Sihombing.
“Benar, 19 orang dipulangkan tadi pagi. Keyakinan kita, mereka tidak terbukti melakukan tindak pidana,” ujar Duat kepada wartawan.
Beberapa nama yang dipulangkan antara lain Lenny Sihotang, Parulian Naibaho, dan Erwin Lumban Gaol. Duat menyebut warga tersebut bukanlah kelompok anarkis, melainkan masyarakat yang memperjuangkan hak hidup mereka. Ia menjelaskan, hadirnya PT Gunung Raya Utama Timber Industries (PT GRUTI) menyebabkan debit air di desa menurun drastis akibat pembabatan hutan.
“Air di kampung telah kering. Mereka melawan, mengadu ke bupati, tapi tak ada kepastian. Kemarahan itu pelampiasan karena tekanan yang tak tertahankan,” ujar Duat.
Sebelumnya, kepolisian mengamankan 34 orang termasuk Ketua Petabal, Pangihutan Sijabat, yang ditangkap di Desa Parbuluan 6 pada Rabu (12/11/2025). Namun, menurut Kasi Humas Polres Dairi, Ipda Rinkon Manik, dari 33 orang yang diamankan saat kericuhan, 19 sudah dipulangkan dan 14 lainnya masih dalam pemeriksaan.
Di sisi lain, sebanyak 70 warga Desa Parbuluan 6 yang sempat mengungsi ke Mapolres dan kemudian ke GOR Sidikalang sejak Sabtu (8/11/2025), juga telah kembali ke kampung halaman pada Jumat (14/11/2025). Hal ini dibenarkan Kepala Desa Parbuluan 6, Parasian Nadeak.
“Benar, kami sudah pulang. Polisi mengatakan kondisi di kampung sudah aman,” ujarnya.
Terkait aktivitas pemerintahan desa yang sebelumnya dipindahkan ke Kantor Camat Parbuluan, Parasian menyebut pihaknya masih menunggu situasi sebelum kembali ke kantor desa.
Wakil Bupati Dairi, Wahyu Daniel Sagala, bersama Sekda Dairi Surung Charles Lamhot Bantjin, turut memantau pemulangan warga. Wahyu mengatakan pihaknya bersyukur warga telah bersedia kembali ke desa, meski menyayangkan dampak kerugian yang muncul dari konflik tersebut.
“Permasalahan ini merugikan banyak pihak. Warga terdampak secara ekonomi dan anak-anak sampai tidak bersekolah karena mengungsi. Kami meminta semua pihak menahan diri dan tidak saling menyalahkan,” kata Wahyu.
Pemerintah Kabupaten Dairi bersama kepolisian dan tokoh masyarakat berkomitmen terus meredam ketegangan dan memastikan kondisi tetap aman bagi seluruh warga Parbuluan 6.(rud/han)
Editor : Johan Panjaitan