Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Krisis BBM di Tebingtinggi: Harga Pertalite Eceran Melonjak hingga Rp30 Ribu, Warga Terjepit

Johan Panjaitan • Selasa, 2 Desember 2025 | 16:15 WIB
Dua botol Pertalite  yang di bandrol dengan harga Rp30 ribu.  (Azan Purba/ Sumut Pos)
Dua botol Pertalite yang di bandrol dengan harga Rp30 ribu. (Azan Purba/ Sumut Pos)

TEBINGTINGGI, Sumutpos.jawapos.com-Kota Tebingtinggi tengah menghadapi krisis BBM yang kian memukul aktivitas masyarakat. Dalam beberapa hari terakhir, pasokan Pertalite dan Pertamax di sejumlah SPBU tidak stabil, memicu antrean panjang hingga ratusan meter. Warga harus menunggu berjam-jam hanya untuk mendapatkan beberapa liter bahan bakar.

Kondisi ini langsung dimanfaatkan pedagang eceran. Harga Pertalite dalam botol melonjak drastis menjadi Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per botol, membuat warga terpaksa merogoh kocek lebih dalam di tengah ketidakpastian suplai BBM.

“Dapatkannya susah om, harus antre berjam-jam. Jadi kalau naik harganya, anggap saja upah capek ngantri sampai lima jam,” ujar seorang pedagang eceran, Selasa (2/12/2025).

Di media sosial, postingan penjualan Pertalite eceran dengan harga selangit bertebaran. Banyak warga mengaku tak punya pilihan lain.
Adan, warga Peristiakan, mengatakan ia membeli Pertalite eceran demi kebutuhan antar anak sekolah. “Mau tak mau beli. Daripada mogok di jalan,” ucapnya.

Hingga berita ini dimuat, tidak ada penjelasan resmi dari SPBU, Pertamina, maupun instansi pemerintah terkait. Ketiadaan informasi ini memperbesar keresahan publik dan memunculkan pertanyaan serius soal koordinasi distribusi energi di wilayah Tebingtinggi.

Krisis BBM ini dikhawatirkan menimbulkan efek berantai: lonjakan biaya transportasi, potensi naiknya harga pangan, terhambatnya aktivitas ekonomi, hingga tersendatnya proses pemulihan pascabencana di beberapa titik kota.

Pemerintah pusat diminta segera turun tangan untuk menstabilkan pasokan, mengevaluasi rantai distribusi, serta menindak tegas jika ditemukan indikasi penyimpangan alokasi.

Ketersediaan BBM adalah urat nadi mobilitas. Ketika distribusi macet, dampaknya bukan hanya antrean panjang—melainkan potensi disrupsi ekonomi yang jauh lebih luas. Pemerintah dituntut bergerak cepat sebelum krisis ini menjalar dan mengganggu layanan energi di daerah lain.(mag-3/han)

Editor : Johan Panjaitan
#spbu #kota tebingtinggi #eceran #bbm #antrean #pertalite