STABAT, Sumutpos.jawapos.com- Korban meninggal dunia akibat banjir di Langkat bertambah, Rabu (10/12/2025). Semula dilaporkan 11 orang meninggal dunia, kini sudah menjadi 13 orang.
Bahkan, beberapa titik rumah masyarakat pada dua kecamatan, Tanjungpura dan Hinai, masih diselimuti genangan banjir. Jumlah 13 orang meninggal dunia akibat banjir itu adalah hasil terbaru per Selasa (9/12/2025) pukul 15.00 WIB.
Dalam keterangan tertulis Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Langkat, Muhammad Ansyari, kondisi air mencapai 50 sampai 100 centimeter di Tanjungpura dan Hinai. Sejauh ini, Pemerintah Kabupaten Langkat terus berupaya meringankan beban korban masyarakat banjir.
Seperti memberi bantuan bahan pangan dan sandang hingga sembako. "Pemerintah juga sudah mendistribusikan air bersih, menyalurkan bantuan logistik melalui air dan darat, serta pemeriksaan di setiap posko pengungsian," kata Ansyari.
Bersama masyarakat, Pemkab Langkat juga melakukan gotong royong di Desa Mekarjaya, Kecamatan Wampu. Gotong royong itu dilakukan untuk menutup sementara tanggul Sungai Besilam yang jebol sepanjang 15 meter di Dusun X Mekarsari, Desa Mekarjaya.
"Status tanggap darurat bencana diperpanjang mulai sejak 3 Desember 2025 sampai 16 Desember 2025," kata Ansyari.
Berikut identitas masyarakat korban banjir yang meninggal dunia:
1. Kecamatan Babalan
a. Arfa Athallah Hamizan (5) warga Desa Securai Utara
b. Ayna Alfahira Yumna (2), warga Desa Securai Utara
c. Alifia Khalisa (5), warga Desa Securai Utara
d. Hartini (55), warga Kelurahan Pelawi Utara
e. Agus Suprayogi (63), warga Kelurahan Pelawi Utara
f. Mohon Manurung (50), warga Desa Teluk Meku
2. Kecamatan Tanjungpura
a. Masrum (70), warga Desa Pantaicermin
3. Kecamatan Besitang
a. Nazla Rahmadani (16), warga Desa Bukitmas
b. Wiji (62), warga Kelurahan Bukit Kubu
c. Jeni (22), warga Desa Sekoci
d. Sumisno (63), warga Kelurahan Kampung Lama
e. Rusli (63), warga Kelurahan Kampung Lama
f. Oloan Purba (61), warga Kelurahan Bukit Kubu.
Mereka yang meninggal dunia dengan beragam alasan. Mulai dari sakit, keletihan karena bencana banjir hingga terlepas dari genggaman saat menyelamatkan diri. (ted/han)
Editor : Johan Panjaitan