Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Bencana di Tapsel: 4.220 Jiwa Warga Masih Bertahan di Pengungsian, Menanti Hunian Sementara

Johan Panjaitan • Selasa, 6 Januari 2026 | 07:00 WIB
Lokasi pengungsian warga Pulo Lubang Desa Hapesong Baru di Kebun PTPN IV. (SUBANTA RAMPANG AYU/SUMUT POS)
Lokasi pengungsian warga Pulo Lubang Desa Hapesong Baru di Kebun PTPN IV. (SUBANTA RAMPANG AYU/SUMUT POS)

TAPSEL, Sumutpos.Jawapos.com-Bencana banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan gerakan tanah yang melanda Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) masih menyisakan penderitaan mendalam. Hingga kini, ribuan warga dari 13 kecamatan terdampak masih bertahan di pengungsian, setelah rumah dan kampung halaman mereka rusak parah bahkan hilang terseret arus.

Sebagian besar pengungsi merupakan warga yang kehilangan tempat tinggal akibat diterjang banjir bandang dan longsor. Tak sedikit pula yang terpaksa meninggalkan kampung karena kondisi wilayah yang dinilai tidak lagi layak huni—berada di tepi sungai, di bawah bukit terjal, atau di atas tanah yang telah retak dan berpotensi longsor susulan.

Di lokasi pengungsian Batu Hula, misalnya, mayoritas pengungsi berasal dari Desa Garoga. Seluruh desa tersebut luluh lantak dihantam banjir bandang. Sementara di area perkebunan PTPN IV Simarpinggan, sebanyak 187 kepala keluarga (KK) warga Desa Tandihat mengungsi setelah tanah tapak kampung mereka mengalami retakan serius.

Nasib serupa dialami warga Kampung Taman Sari yang kini menempati perumahan perkebunan PTPN IV Hapesong. Kampung mereka yang berada tepat di tepi Sungai Batangtoru hampir seluruhnya berubah menjadi alur sungai akibat terjangan banjir bandang.

“Kami terpaksa bertahan di barak-barak ini sementara waktu sampai hunian sementara (huntara) dibangun di Hapesong. Kami takut kembali ke kampung,” ujar Misdi (65), warga Dusun Pulo Lubang, kepada Sumutpos.Jawapos.com, Senin (5/1/2026).

Pantauan Sumutpos di sejumlah lokasi pengungsian, khususnya di wilayah Batangtoru—kawasan paling parah terdampak karena diterjang banjir bandang dua sungai sekaligus, Sungai Garoga dan Sungai Batangtoru—menunjukkan warga masih bertahan di pengungsian dengan keterbatasan fasilitas.

Kondisi paling memprihatinkan terlihat di lokasi pengungsian 27 KK warga Pulo Lubang, Desa Hapesong Baru. Mereka tinggal di lahan kebun PTPN IV dengan bangunan pondok-pondok darurat yang berjejer, tanpa perlindungan bangunan permanen dari beton.

Berdasarkan data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapsel, jumlah pengungsi saat ini mencapai 4.220 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.192 jiwa atau 1.073 KK berada di pengungsian terpusat, sementara 28 jiwa mengungsi secara mandiri dan tersebar di 15 lokasi berbeda.

“Kami berharap jumlah pengungsi terus berkurang seiring realisasi pembangunan hunian sementara. Namun demikian, kami tetap melakukan pemantauan harian, terutama untuk memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Tapsel, Julkarnaen Siregar.

Bencana ini tak hanya merenggut harta benda, tetapi juga rasa aman ribuan warga Tapsel yang kini menggantungkan harapan pada percepatan pembangunan hunian layak dan penanganan pascabencana yang berkelanjutan.(mag-11/han)

Editor : Johan Panjaitan
#tapanuli selatan #Bertahan #mengungsi #banjir bandang #longsor