TAPSEL, Sumutpos.jawapos.com– Musim tanam padi yang seharusnya dimulai Januari 2026 berubah menjadi mimpi buruk bagi ribuan petani di Kabupaten Tapanuli Selatan. Hingga kini, ratusan hektare sawah masih tertimbun pasir, batu, kayu, dan material sisa banjir bandang Sungai Batang Angkola, membuat petani tak mampu mengolah lahannya.
Hasil tinjauan Sumutpos.jawapos.com, Jumat (9/1/2026), menunjukkan kondisi terparah berada di wilayah hilir Sungai Batang Angkola, terutama Kecamatan Batang Angkola dan Sayur Matinggi. Areal persawahan masih tertutup pasir, sirtu, bebatuan, hingga batang kayu berukuran besar dengan ketebalan mencapai beberapa meter.
Di kawasan persawahan Saba Tonga, Desa Tolang Julu, Kecamatan Sayur Matinggi, sedikitnya 25 hektare sawah warga dipastikan gagal tanam. Material banjir yang menumpuk tebal membuat lahan mustahil dibajak secara manual. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya sistem irigasi.
“Bendungan dan saluran bagi rusak berat, tertutup kayu-kayu besar. Banyak saluran irigasi jebol dan retak,” ungkap warga setempat.
Kholid Daulay (62), petani Desa Tolang Julu, hanya bisa pasrah melihat sawah dan kolamnya tak lagi bisa dimanfaatkan. Ia memiliki satu lungguk sawah (sekitar 1/6 hektare) serta kolam ikan seluas 1 hektare yang kini tertimbun material banjir.
“Sawah dan kolam saya tertimbun pasir, batu, dan kayu. Tebalnya hampir tiga meter. Bagaimana saya bisa membajaknya? Padahal ini sudah masuk musim tanam,” keluh Kholid dengan nada putus asa.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Tapanuli Selatan, total 536 hektare sawah terdampak dan tidak bisa disawahi akibat tertimbun material banjir. Lahan tersebut tersebar di empat kecamatan dan 36 desa/kelurahan, yakni Kecamatan Batangtoru, Sipirok, Batang Angkola, dan Sayur Matinggi. Kecamatan Sipirok menjadi wilayah terdampak terluas dengan 249 hektare sawah rusak.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Tapanuli Selatan, Taufik Batubara, mengakui keterbatasan daerah dalam menangani persoalan tersebut. Menurutnya, penanganan material banjir membutuhkan alat berat yang tidak dimiliki pemerintah daerah.
“Upaya kita saat ini hanya bisa melaporkan ke Kementerian Pertanian. Pihak kementerian sudah turun langsung meninjau, diwakili Pak Jamil Harahap. Karena untuk pengerukan, dibutuhkan alat berat dan kita tidak punya,” ujar Taufik saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Jumat (9/1/2026).
Sementara laporan dan harapan terus dikirim ke pemerintah pusat, ribuan petani di Tapanuli Selatan masih menunggu kepastian. Waktu tanam terus berjalan, namun sawah tetap terkunci di bawah pasir dan lumpur—menyisakan jerit sunyi di tengah ancaman gagal panen dan krisis penghidupan.(mag-11/han)
Editor : Johan Panjaitan