TAPSEL, Sumutpos.jawapos.com-Sudah 45 hari pascabencana banjir, banjir bandang, longsor, dan tanah bergerak yang melanda Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), ratusan anak usia sekolah dasar masih harus menjalani proses belajar mengajar di tenda-tenda darurat pengungsian.
Bencana yang terjadi sejak akhir November 2025 itu menyebabkan sejumlah sekolah dasar rusak berat hingga hilang tersapu banjir. Beberapa sekolah bahkan hingga kini belum dapat digunakan karena tertimbun material longsor, terendam air sungai, atau berada di zona retakan tanah yang berbahaya.
Sejumlah sekolah terdampak parah antara lain SDN 100714 Garoga yang nyaris rata dengan tanah akibat banjir bandang, SDN 100704 Huta Godang yang tertimbun material banjir dan belum sepenuhnya dibersihkan, SDN Lobu Uhom yang hanya menyisakan empat ruang kelas dengan kondisi retak berat, serta SDN 100207 Tandihat yang berada di area pergerakan tanah dan mengalami kerusakan struktural serius. Sementara itu, SDN 101305 Bandar Tarutung, Kecamatan Angkola Sangkunur, hingga kini masih terendam air Sungai Batangtoru.
Pantauan Sumutpos.jawapos.com, Sabtu (10/1/2026), kondisi di lapangan menunjukkan belum adanya perubahan signifikan. Di SDN Garoga, bangunan sekolah kini hanya menyisakan satu dinding berdiri. SDN Huta Godang pun masih dipenuhi sisa lumpur dan material banjir sehingga belum layak digunakan.
Sebanyak 111 siswa SDN Garoga dari total 127 siswa, serta 97 siswa SDN Huta Godang, terpaksa menumpang belajar di SD Batu Hula dengan sistem pergantian shift. Kondisi belajar pun jauh dari ideal.
Situasi paling memprihatinkan terlihat di SDN Bandar Tarutung. Sekolah tersebut masih dikepung air setinggi lutut orang dewasa sejak banjir 25 November lalu. Pagar beton sekolah jebol, dan seluruh bangunan utama terendam. Proses belajar mengajar dilakukan di dua unit tenda putih berukuran besar yang dibangun Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk menampung 197 siswa.
“Sejak masuk sekolah setelah libur, anak saya belajar di tenda. Baru kali ini air lama sekali surut. Padahal biasanya kalau banjir, satu dua hari sudah kering,” ujar Nuraini Simbolong (32), warga Kampung Malako, Desa Bandar Tarutung, kepada Sumutpos.jawapos.com.
Berdasarkan data Dapodik dan BOS Kemendikdasmen, jumlah siswa terdampak mencapai lebih dari 600 orang, terdiri dari 197 siswa SDN Bandar Tarutung, 127 siswa SDN Lobu Uhom, 50 siswa SDN Tandihat, 122 siswa SDN Garoga, dan 191 siswa SDN Huta Godang.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Pendidikan Tapanuli Selatan, Yanti Pakpahan, belum memberikan tanggapan terkait rencana rehabilitasi maupun relokasi sekolah-sekolah terdampak. Upaya konfirmasi melalui pesan WhatsApp belum mendapat respons.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan terabaikannya hak dasar anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan aman, sekaligus menunggu kehadiran nyata negara dalam memastikan pemulihan sektor pendidikan pascabencana tidak berlarut-larut.(mag-11/han)
Editor : Johan Panjaitan