DAIRI, Sumutpos.jawapos.com – Seorang pasien lanjut usia bernama Tiamsa Banjarnahor (78) meninggal dunia saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidikalang, Kabupaten Dairi, Minggu (18/1/2026). Peristiwa ini menjadi sorotan publik setelah sebuah video terkait kematian pasien tersebut beredar luas di media sosial.
Video itu diunggah melalui akun Facebook Landen Landen, disertai keterangan yang menyebutkan bahwa pasien meninggal akibat penundaan rujukan oleh pihak rumah sakit. Dalam unggahannya, akun tersebut menuliskan, “Akhirnya, meninggal juga pasien, keluarga kami ini, yang ditunda-tunda rujuk kemudian oleh RSUD Sidikalang.”
Menanggapi viralnya informasi tersebut, Direktur RSUD Sidikalang dr. Mey Sitanggang membantah keras tudingan adanya penundaan rujukan. Ia menegaskan bahwa pihak rumah sakit telah melakukan prosedur sesuai standar operasional.
“Tidak benar jika disebutkan pasien meninggal karena ditunda-tunda rujuk. Kami sudah berupaya maksimal,” ujar dr. Mey saat dikonfirmasi, Minggu (18/1/2026).
Menurutnya, pasien yang merupakan warga Perik Mbue, Desa Tanjung Saluksuk, Kecamatan Pegagan Hilir, mulai dirawat di RSUD Sidikalang sejak 15 Januari 2026 dengan diagnosa penyakit kulit melepuh. Sebelumnya, pasien juga sempat menjalani perawatan dan dipulangkan karena kondisi kesehatannya sempat membaik.
Dr. Mey menjelaskan, upaya rujukan telah dilakukan melalui SISRUTE (Sistem Rujukan Terintegrasi). Namun, hingga kondisi pasien memburuk, belum ada satu pun rumah sakit rujukan di Medan yang menyatakan kesediaan menerima pasien dengan diagnosa tersebut.
“Bukan karena kami menunda, tetapi karena tidak ada rumah sakit rujukan yang bersedia menerima pasien dengan kondisi medis yang dialaminya. Permintaan rujukan sudah kami ajukan, namun tidak mendapat respons,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa manajemen RSUD Sidikalang telah mendatangi pihak keluarga di Desa Tanjung Saluksuk untuk memberikan penjelasan langsung terkait kronologi kejadian serta meluruskan informasi yang beredar di media sosial.
“Kami juga telah menyusun kronologi lengkap berdasarkan rekam medis pasien. Kejadian sebenarnya tidak seperti yang diviralkan,” tegas dr. Mey.
Pihak RSUD Sidikalang berharap masyarakat dapat menyikapi informasi secara bijak dan tidak terburu-buru menarik kesimpulan sebelum memperoleh penjelasan utuh dari semua pihak terkait.(rud/han)
Editor : Johan Panjaitan