MEDAN, SUMUT POS- Anggota Komisi B DPRD Sumatera Utara, Rudi Alfahri Rangkuti, menyoroti lonjakan harga daging ayam maupun beberapa kebutuhan pokok lainnya di sejumlah pasar tradisional di Sumatera Utara yang dinilai semakin memberatkan masyarakat, terutama selama bulan Ramadan.
“Ini harus menjadi perhatian serius. Kenaikan harga ayam yang tembus Rp.45.000 jangan dibiarkan berlarut-larut. Pemerintah harus segera melakukan intervensi pasar agar lonjakan harga tidak semakin tinggi dan membebani masyarakat,” tegas Rudi saat memberikan keterangannya kepada Sumut Pos, Selasa (24/2/2026).
Rudi mengungkapkan bahwa DPRD Sumut dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sumatera Utara telah merencanakan kegiatan peninjauan pasar pada bulan Maret sebagai bagian dari upaya stabilisasi harga bahan pokok. Koordinasi awal juga disebut sudah dilakukan dengan dinas terkait di bidang perekonomian untuk mengantisipasi lonjakan harga.
Namun demikian, ia menilai langkah tersebut harus dipercepat dan dibarengi dengan operasi pasar yang nyata.
“Kami mendorong Disperindag segera melakukan operasi pasar. Jangan sampai harga naik terlalu tinggi. Idealnya kenaikan itu masih dalam batas wajar, jangan lebih dari Rp1.000 sampai Rp2.000. Kalau lebih dari itu, tentu sangat memberatkan,” ujarnya.
Terkait penyebab kenaikan harga, Rudi menyebutkan bahwa sebelumnya lonjakan harga ayam sempat dikaitkan dengan dampak kegiatan MBG (Makan Bergizi Gratis). Namun, menurutnya, alasan tersebut tidak lagi relevan, terlebih pada momentum Ramadan.
“Awalnya disebut karena efek MBG. Tapi kalau kita lihat sekarang, apalagi di bulan Ramadan, MBG itu menggunakan makanan kering, bukan ayam segar. Jadi alasan itu tidak lagi tepat. Harus dicari penyebab sebenarnya,” katanya.
Ia meminta pemerintah menelusuri apakah kenaikan harga disebabkan oleh keterbatasan pasokan atau adanya spekulasi harga oleh oknum pedagang.
“Kalau memang karena stok kurang, kita cari solusinya di hulu. Tapi kalau ada spekulasi harga, tentu harus ada penertiban,” tegasnya.
Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu juga menyarankan agar Disperindag menggelar dialog terbuka dengan asosiasi pedagang daging ayam untuk mengetahui kondisi riil di lapangan.
“Perlu duduk bersama dengan para pedagang. Tanyakan apa kendalanya, apakah stok habis atau ada persoalan distribusi. Jangan hanya berdasarkan asumsi,” ujarnya.
Selain itu, ia meminta agar pemerintah turut melibatkan asosiasi peternak ayam untuk memastikan ketersediaan stok di tingkat produsen.
“Disperindag harus berkoordinasi dengan Dinas Peternakan. Cek langsung ke peternak, apakah produksi menurun atau ada kendala lain. Ini harus ditangani lintas dinas,” katanya.
Dalam penjelasannya, Rudi juga menyinggung tingginya permintaan terhadap ayam ras ke program MBG yang memiliki harga kompetitif. Kondisi ini, menurutnya, membuat sebagian peternak lebih memprioritaskan penjualan ke segmen tersebut.
“Permintaan MBG cukup tinggi karena harganya kompetitif. Akibatnya, peternak cenderung menjual ke pasar itu. Dampaknya, stok di pasar umum jadi terbatas dan harga ikut terdorong naik,” jelasnya.
Ia mengingatkan, apabila tidak segera diantisipasi, harga ayam bisa terus merangkak naik. (san/ram)
Editor : Juli Rambe