TEBINGTINGGI, Sumutpos.jawapos.com – Apel pagi gabungan yang dipimpin Camat Tebingtinggi Kota, Henci Boru Siregar, pada Senin (30/3/2026), tidak sekadar menjadi rutinitas birokrasi. Kegiatan yang berlangsung di halaman Kantor Camat di Jalan Thamrin itu menjelma menjadi ruang silaturahmi, refleksi, sekaligus penegasan komitmen pelayanan publik pasca Idulfitri 1447 Hijriah.
Seluruh jajaran hadir: para lurah, aparatur sipil negara (ASN), hingga kepala lingkungan (kepling) terpilih se-Kecamatan Tebingtinggi Kota. Menariknya, sejumlah kepling lama yang tidak lagi menjabat turut diundang. Kehadiran mereka bukan hanya simbol penghormatan, tetapi juga memperkuat jalinan kebersamaan lintas generasi pengabdi masyarakat.
Dalam suasana halal bihalal yang hangat, Camat Henci menyerahkan cendera mata kepada para mantan kepling sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi yang telah diberikan.
Baca Juga: PLN UID Sumut Teken SPJBTL dan MoU, Tambah Daya 49,99 MVA dari Sektor Industri dan Akademik
Namun di balik nuansa kekeluargaan, pesan yang disampaikan tetap tegas. Henci mengingatkan bahwa jabatan kepling bukan sekadar posisi administratif, melainkan garda terdepan pelayanan masyarakat yang menuntut integritas, akurasi, dan tanggung jawab.
Ia mengutip arahan Wali Kota Tebingtinggi, Iman Irdian Saragih, yang menekankan pentingnya bekerja dengan prinsip, niat, kemauan, dan kemampuan. Menurutnya, pesan tersebut harus diterjemahkan dalam kerja nyata di lapangan.
“Apel ini bukan hanya seremonial. Ini momentum untuk mengingat kembali tugas dan tanggung jawab kita, terutama dalam memastikan pelayanan berjalan sesuai regulasi,” tegasnya.
Sorotan utama dalam arahannya tertuju pada penyaluran bantuan pangan yang dalam waktu dekat akan dilaksanakan. Henci menegaskan, distribusi bantuan harus bebas dari kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Saya tidak ingin ada penyimpangan. Data penerima sudah tercatat dalam sistem. Jangan ada yang mencoba mengubah atau mengganti. Jika ada pelanggaran, akan kami tindak tegas sesuai aturan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya profesionalisme aparatur, mulai dari pemahaman jumlah kepala keluarga di wilayah masing-masing, pendataan bantuan yang telah diterima warga, hingga memastikan tidak terjadi tumpang tindih distribusi. Kepling, katanya, harus hadir sebagai problem solver di tengah masyarakat, bukan sekadar perpanjangan birokrasi.
Baca Juga: Titip Kendaraan di JBA, Proses Mudah dan Terpercaya
Lebih jauh, Henci mendorong agar apel gabungan ke depan menjadi forum aktif, tempat para kepling menyampaikan masukan, ide, dan persoalan riil di lapangan. Dengan demikian, kegiatan ini memiliki makna strategis, bukan sekadar rutinitas formal.
Di sisi lain, apresiasi datang dari salah satu kepling senior, Halimah Tussadiah Saragih. Kepling Lingkungan I Kelurahan Badak Bejuang yang telah mengabdi selama 25 tahun ini menilai kegiatan tersebut mampu membangkitkan semangat sekaligus mempererat hubungan antar-kepling.
Baca Juga: Memperingati World Sleep Day, Mari Menguak Fakta Ilmiah Emosi Senggol Bacok bersama Garmin
“Kami jadi lebih saling mengenal dan termotivasi. Ini bukti bahwa pimpinan peduli dan ingin menjaga silaturahmi,” ujarnya.
Ia menegaskan komitmennya untuk terus bekerja profesional, tanpa diskriminasi, serta patuh terhadap arahan lurah dan camat.
Apel pagi itu pun berakhir bukan hanya sebagai agenda rutin, tetapi sebagai penegasan arah: pelayanan publik yang bersih, tepat sasaran, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. Di tengah dinamika birokrasi, sinergi antara pengalaman lama dan semangat baru menjadi fondasi penting menuju tata kelola pemerintahan yang lebih responsif dan berintegritas.(mag-3/han)
Editor : Johan Panjaitan