Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Stok Aman, Ancaman Nyata: Ketahanan Pangan Labuhanbatu Diuji Alih Fungsi Lahan

Johan Panjaitan • Rabu, 22 April 2026 | 16:30 WIB
Seminar Proposal Kajian Potret Ketersediaan Pangan (Beras) Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2026 (Fajar/Sumut Pos)
Seminar Proposal Kajian Potret Ketersediaan Pangan (Beras) Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2026 (Fajar/Sumut Pos)

 

LABUHANBATU, Sumutpos.jawapos.com-Di tengah bayang-bayang krisis pangan global, Kabupaten Labuhanbatu masih berdiri di zona relatif aman. Per November 2025, cadangan beras di gudang Perum Bulog tercatat mencapai 1.200 ton, dengan tambahan 2.700 ton dalam proses distribusi. Secara angka, ketersediaan pangan tampak terkendali.

Namun di balik kenyamanan itu, tersimpan kegelisahan yang tak bisa diabaikan: seberapa lama kondisi ini dapat dipertahankan?

Peringatan itu disampaikan melalui Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Labuhanbatu, Zuhri, yang mengutip arahan Bupati Maya Hasmita dalam seminar kajian ketahanan pangan, Rabu (22/4/2026). Ia menegaskan bahwa ketahanan pangan kini bukan lagi sekadar soal ketersediaan, melainkan juga akses, kualitas, dan keberlanjutan.

“Fokus kita adalah swasembada dan pengembangan lahan berkelanjutan,” ujarnya.

Baca Juga: Kejari Binjai Geledah Rumah Agung dan Dody, Dokumen Kontrak Fiktif Disita

Di tingkat nasional, posisi Indonesia memang masih cukup kuat, dengan cadangan beras pemerintah mencapai kisaran 3,39 hingga 4 juta ton. Labuhanbatu turut berkontribusi melalui produksi padi yang relatif stabil, didukung penggunaan varietas unggul seperti Inpari 32 dan Inpari 42 yang tahan hama dan berdaya hasil tinggi.

Namun, fondasi tersebut tidak sepenuhnya kokoh. Ada tiga ancaman utama yang mulai menggerus ketahanan pangan daerah.

Pertama, perubahan iklim. Pola musim yang kian tak menentu membuat kalender tanam menjadi sulit diprediksi. Kedua, ketimpangan distribusi. Di beberapa wilayah, ketersediaan pangan tidak selalu sejalan dengan akses masyarakat. Ketiga—dan yang paling mengkhawatirkan—alih fungsi lahan.

Lahan sawah produktif perlahan berubah menjadi kawasan permukiman dan industri. Jika tren ini tak dikendalikan, Labuhanbatu berisiko kehilangan basis produksinya dalam waktu yang tidak lama.

Menyadari ancaman tersebut, Balitbang merumuskan sejumlah langkah strategis: percepatan indeks pertanaman agar lahan bisa ditanami lebih dari sekali setahun, penguatan data lapangan yang akurat, serta sinergi distribusi lintas sektor.

Baca Juga: Listrik Kerap Padam, GRIB Jaya Labusel Geruduk PLN Kota Pinang, Ajukan Tiga Tuntutan

Namun, kunci dari semuanya terletak pada pemetaan yang presisi. Bukan sekadar batas administratif, melainkan peta kerawanan, potensi lahan, hingga distribusi logistik.

Dengan total stok yang diproyeksikan mencapai 3.900 ton, Labuhanbatu memang masih memiliki ruang bernapas. Tetapi ketahanan pangan sejati tidak diukur dari banyaknya cadangan yang tersimpan, melainkan dari kemampuan untuk terus memproduksi di tengah tekanan.(fdh/han)

Editor : Johan Panjaitan
#ancaman bom #stok #alih fungsi lahan #beras