SIANTAR, Sumutpos.jawapos.com – Lompatan prestasi kembali ditorehkan Kota Pematangsiantar. Dalam rilis terbaru Setara Institute, kota ini berhasil menembus peringkat keempat sebagai Kota Paling Toleran di Indonesia tahun 2025—naik satu tingkat dari posisi sebelumnya.
Capaian ini disambut syukur oleh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pematangsiantar, Drs HM Ali Lubis. Ia menilai, keberhasilan tersebut bukan datang secara instan, melainkan hasil dari kerja kolektif antara pemerintah daerah, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), dan masyarakat yang konsisten merawat harmoni.
“Alhamdulillah, kita naik dari peringkat lima ke peringkat empat. Ini menunjukkan bahwa semangat toleransi di Pematangsiantar terus menguat,” ujar Ali, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, kepemimpinan Wali Kota Wesly Silalahi bersama jajaran turut berperan penting dalam menjaga ruang kebersamaan di tengah keberagaman. Namun lebih dari itu, kata Ali, fondasi utama toleransi di Siantar justru terletak pada kesadaran masyarakatnya yang sejak lama menjunjung tinggi nilai persaudaraan.
Ia berharap tren positif ini tidak berhenti di angka empat. Target berikutnya jelas: menembus tiga besar hingga menjadi kota paling toleran di Indonesia.
“Mudah-mudahan ke depan kita bisa terus naik. Kalau masyarakat hidup rukun, semua aktivitas—bekerja, beribadah, hingga membangun kota—akan berjalan dengan tenang,” katanya.
Perjalanan Pematangsiantar menuju posisi elite ini memang tidak singkat. Indeks Kota Toleran (IKT) kota tersebut sempat terpuruk di peringkat 51. Namun secara konsisten terus membaik—melonjak ke posisi 31, lalu 11, 5, hingga kini bertengger di peringkat 4.
Baca Juga: Biaya Energi Meningkat, PT Wahana Safety Indonesia Dorong K3 sebagai Strategi Efisiensi Industri
Tren ini menjadi penegas bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan praktik hidup sehari-hari warga. Di kota ini, perbedaan tidak dipertentangkan, melainkan dirawat sebagai kekuatan bersama.
“Di Siantar, kita ini satu saudara,” tutup Ali.
Editor : Johan Panjaitan