MEDAN, SUMUT POS- Seluruh elemen bangsa harus saling bahu membahu menghadapi tantangan ekonomi global saat ini. Sehingga ancaman PHK yang teris mengintip dapat diatasi.
"Sehingga seluruh elemen bangsa wajib bersatu serta bahu membahu untuk bisa bertahan dan keluar dari situasi sulit saat ini," kata Kepala Departemen Hubungan Industrial dan Ketenagakerjaan Asosiasi Profesor Doktor Hukum Indonesia Wilayah Sumatera di Medan, Dr Minggu Saragih SH MH, Kamis (23/4).
Ia menilai, walaupun kondisi ketenagakerjaan di Sumut masih relatif stabil, namun pemerintah dan para pemangku kekuasaan wajib waspada.
Baca Juga: Mantan Kadiskop Medan dan Tiga Terdakwa Didakwa Korupsi MFF 2024 Sebesar Rp1 Miliar
Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS), di Provinsi Sumut pada November 2025, jumlah angkatan kerja tercatat 8,42 juta orang, sedikit menurun dibanding Agustus 2025.
Sedangkan, jumlah penduduk yang bekerja mencapai 7,971 juta orang, dengan peningkatan lapangan kerja terbesar terjadi di sektor pendidikan. Dalam artian, sebanyak 3,351 juta orang atau 42,04 persen bekerja pada sektor formal.
Untuk Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat di angka 5,28 persen, menurun sedikit dibandingkan periode sebelumnya. Dan di Kota Medan, TPT tercatat di angka 7,99 persen, walaupun ada penurunan 0,14 persen dibandingkan periode sebelumnya (sesuai data BPS Kota Medan, Desember 2025).
Sementara itu, angka kemiskinan di Sumut pada September 2025, persentase penduduk miskin tercatat 7,24 persen, turun 0,12 persen poin dibandingkan Maret 2025. Penurunan ini setara dengan berkurangnya sekitar 12,2 ribu jiwa, sehingga jumlah penduduk miskin menjadi 1,13 juta jiwa di Sumut (sesuai data September 2025).
Dari segi Perekonomian Sumut pada triwulan IV tahun 2025, ekonomi di Sumut tumbuh sebesar 4,23 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year on year). "Prediksi pertumbuhan Ekonomi Sumut pada tahun 2026 ini, diproyeksikan di kisaran 4,9 persen hingga 5,8 persen, berpeluang menjadi salah satu penggerak ekonomi utama di Pulau Sumatera," ujarnya.
Menurut Minggu, pertumbuhan ini didorong oleh program Asta Cita, investasi, Makan Bergizi Gratis (MBG) dan sektor penggerak pertumbuhan ekonomi lainnya, seperti sektor pertanian, industri pengolahan dan perdagangan serta beberapa program potensial seperti implementasi program biodiesel B50 yang dapat mendukung kenaikan permintaan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO).
"Terkhusus efektivitas program Asta Cita mulai dari MBG hingga paket stimulus pendukung daya beli masyarakat serta iklim investasi yang relatif kondusif di Sumatera Utara sehingga mulai tampak peningkatan target investasi di sejumlah kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus," beber Minggu yang juga akademisi di Fakultas Hukum (FH) Universitas Prima Indonesia Medan ini.
Ia mengungkapkan, potensi pertumbuhan ekonomi di Sumut harus dihadapi serius dan optimis dengan adanya perkembangan investasi yang sangat positif di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, di mana berdasarkan keterangan dari Direktur PT Kawasan Industri Nusantara (PT Kinra), Arif Budiman, sejak beroperasi tahun 2015-2025 hingga kuartal ke-3, KEK Sei Mangkei berhasil merealisasikan investasi hingga Rp25,97 triliun dan menyerap 7.856 tenaga kerja.
Dengan strategi yang tepat, sambungnya, KEK Sei Mangkei bukan hanya motor penggerak ekonomi tapi juga bisa sebagai ikon tranformasi regional menuju kawasan ekonomi modern dan berdaya saing global, sehingga kenyamanan berusaha dan ketenangan bekerja di KEK Sei Mangkei sangat perlu dijaga oleh pemerintah dan pemangku kepentingan serta seluruh elemen masyarakat. (dwi/ram)
Editor : Juli Rambe