BATUBARA, Sumutpos.jawapos.com- Rantai layanan publik di Kecamatan Limapuluh terputus dalam satu keputusan: aliran listrik ke PDAM dihentikan. Dampaknya seketika dan nyata—ratusan pelanggan PDAM Tirta Tanjung Unit Limapuluh kini menghadapi krisis air bersih yang mengganggu kebutuhan paling dasar.
Pemutusan dilakukan oleh PT PLN (Persero) melalui Unit Layanan Pelanggan (ULP) Limapuluh. Alasan yang dikemukakan sederhana namun krusial: tunggakan rekening listrik yang belum diselesaikan.
Di tingkat warga, konsekuensinya jauh dari sederhana. Aktivitas harian tersendat—dari mandi, mencuci, hingga sanitasi. Mariati, seorang ibu rumah tangga di Kelurahan Limapuluh, menggambarkan situasi yang kian menekan setelah sepekan air tak lagi mengalir.
“Sudah sepekan air mati. Kami kesulitan mencuci dan mandi. Anak-anak mau sekolah juga jadi terganggu,” ujarnya.
Baca Juga: Peringati Hari Otda ke-30, Bupati Paluta Tekankan Sinkronisasi Pusat-Daerah Demi Wujudkan Asta Cita
Krisis ini memperlihatkan rapuhnya keterhubungan antar-layanan publik: ketika listrik padam di fasilitas air, maka kebutuhan dasar masyarakat ikut terhenti. Air bersih, yang seharusnya menjadi layanan esensial, berubah menjadi barang langka dalam hitungan hari.
Dari sisi penyedia listrik, langkah pemutusan disebut telah melalui prosedur. Leader ULP PLN Limapuluh, Donni Andri, menegaskan bahwa pihaknya sebelumnya telah menyampaikan tagihan dan surat penagihan kepada PDAM.
“Benar kami melakukan pemutusan listrik karena tunggakan. Invoice dan surat penagihan sudah disampaikan,” katanya.
Baca Juga: Tolak Relokasi, PKL Jalan Bandung dan Olahraga Geruduk Balai Kota Binjai
Meski demikian, PLN memilih tidak mengungkap nilai tunggakan, dengan alasan privasi perusahaan daerah tersebut—meskipun beredar informasi bahwa angkanya mencapai belasan juta rupiah per bulan.
PLN juga membuka ruang penyelesaian cepat. Begitu tunggakan dilunasi, aliran listrik akan kembali dinyalakan, dan operasional PDAM bisa pulih.(lib/han)
Namun hingga kini, pembayaran belum dilakukan. Artinya, krisis masih berlangsung.
Editor : Johan Panjaitan