MEDAN - Memastikan siswa menguasai literasi dan numerasi menjadi tantangan besar. Tanpa keterampilan ini, siswa akan sulit menguasai ilmu yang lebih kompleks. Berdasarkan refleksi PISA 2022, skor literasi dan numerasi Indonesia masih di bawah rata-rata OECD. Hanya 25% siswa yang mencapai rata-rata skor literasi membaca dan hanya 18% siswa yang mencapai rata-rata skor matematika. Karenanya, dibutuhkan tindakan nyata sejak kelas awal untuk membangun fondasi logika dan pemahaman yang kuat.
Melihat tantangan ini, Tanoto Foundation yang berkomitmen pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, mendorong kolaborasi multipihak dan partisipasi semesta, untuk peningkatan literasi dan numerasi nasional.
Bersama Pemerintah Daerah Kota Pematangsiantar dan Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, Tanoto Foundation menggelar Dialog Publik, Peningkatan Literasi dan Numerasi Sumatera Utara yang menghadirkan Komunitas Literasi dan Numerasi dan Forum Jurnalis Peduli Sumatera Utara, pada Kamis, 7 Mei 2026 di Batanghari Coffee & Dining, Medan.
Hadir sebagai narasumber dalam dialog ini Regional Lead Tanoto Foundation Sumatera Utara, Medi Yusva, Sekretaris Daerah Kota Pematangsiantar Junaedi Antonius Sitanggang, SSTP, MSi, dan Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara Dr. Asrif, M.Hum.
Medi Yusva, mamaparkan, kolaborasi multipihak dan partisipasi semesta adalah kunci peningkatan literasi. Dikatakannya,
Kemendikdasmen resmi menggandeng Tanoto Foundation, Gates Foundation, dan UNICEF untuk percepatan literasi dan numerasi nasional. Atas amanat ini, Tanoto Foundation menggelar program percepatan literasi dan numerasi nasional dengan target terukur (hingga 2029) se Indonesia. Yakni, mendampingi 500 sekolah dasar negeri, melatih 1.500 guru kelas awal dan kepala sekolah dan memberikan manfaat langsung kepada minimal 45.000 siswa. ‘
’Tiga pilar strategi peningkatan adalah, Pembangunan Kompetensi & Pedagogi: Pembelajaran disesuaikan dengan usia dan metode pedagogi terstruktur agar siswa benar-benar paham, bukan sekadar menghafal. Menumbuhkan Kebiasaan Membaca: Kompetensi membaca harus berjalan beriringan dengan kegemaran membaca dan Pendekatan Numerasi Berbasis Logika: Fokus pada membangun nalar dan logika sejak dini, bukan hanya hitung-hitungan teknis.
Junaedi Antonius Sitanggang, menekankan, literasi bukan sekadar membaca. Tetapi alat evaluasi strategis untuk daya saing daerah. Berdasarkan data The Big Leap, Kota Pematangsiantar berhasil meningkatkan skor literasi . Pada tahun 2022 berada pada skor 59,12 (sedang) dan di 2024: skor naik menjadi 89,92 (sangat tinggi).
Lompatan luar biasa ini berkat sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan. Kemudian, lahirnya Perwa No. 30 Tahun 2024 menjadi "payung hukum" yang memberikan kepastian bagi seluruh inisiatif literasi di lapangan. Pemko Pematangsiantar juga memperluas akses literasi di masyarakat. Antara lain, setiap kelurahan mendapat 1000 judul buku (kerjasama perpusnas). Kemudian adanya inovasi Dinas Arpus: Arpus Challenge, Pojok Baca Digital di Mall Pelayanan dan lain-lain.
Sementara Dr. Asrif, M.Hum memaparkan, Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara berupaya merangkul komunitas untuk mendongkrak literasi di Sumatra Utara. Balai Bahasa Sumatera Utara bertindak sebagai fasilitator utama dalam membangun jejaring antara pemerintah dan penggerak literasi akar rumput. Fokusnya bukan lagi sekadar program top-down, melainkan memperkuat komunitas yang sudah ada agar lebih mandiri dan memiliki dampak yang berkelanjutan di lingkungan masing-masing.
‘’Melalui program bantuan teknis dan hibah buku, Balai Bahasa aktif melakukan pendampingan kepada pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di berbagai kabupaten/kota di Sumut. Upaya lain menggandeng Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) dan komunitas literasi lokal. Kolaborasi ini mencakup penyelenggaraan festival literasi, bengkel penulisan, hingga diskusi bedah karya yang melibatkan penulis lokal Sumatera Utara untuk menghidupkan kembali gairah membaca dan menulis.
Selain itu, menghadapi era informasi, Balai Bahasa bersama komunitas juga fokus pada edukasi literasi digital. Program ini menyasar kaum muda dan komunitas untuk cerdas dalam memilah informasi (fact-checking), memproduksi konten positif di media sosial, serta memanfaatkan platform digital sebagai sarana untuk publikasi karya sastra dan budaya lokal. (sih)
Editor : Redaksi