Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Jembatan BDB 95 Menghubungkan 2 Kabupaten, sebagai Bukti Kepedulian Polri pada Masyarakat

Juli Rambe • Sabtu, 9 Mei 2026 | 17:34 WIB
LINTAS: Warga saat melintasi Jembatan BDB 95 di Dusun Padang Laut, Desa Tanjung Medan, Bilah Barat Labuhanbatu. (Dok: Fajar/ Sumut Pos)
LINTAS: Warga saat melintasi Jembatan BDB 95 di Dusun Padang Laut, Desa Tanjung Medan, Bilah Barat Labuhanbatu. (Dok: Fajar/ Sumut Pos)

 

LABUHANBATU, SUMUT POS- Dusun Padang Laut, Desa Tanjung Medan, Kecamatan Bilah Barat menjadi daerah paling ujung di Kabupaten Labuhanbatu. Desa ini juga berbatasan langsung dengan Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta).

Di desa ini, ada sebuah jembatan gantung sepanjang 30 meter dengan lebar 3 meter. Jembatan ini diresmikan tahun 2016 dan diberi nama Jembatan Budi Dhamma Bhayangkara 95 atau disingjat BDB 95.

Bukan sekadar konstruksi baja dan beton, jembatan ini adalah narasi tentang akses, perjuangan, dan keinginan hidup yang lebih baik.

Baca Juga: Sosialisasi Perda Kota Medan No.3 Tahun 2024, H. Zulkarnaen : Kemajuan UMKM Merupakan Barometer Kemajuan Kota

Nadi Kehidupan Warga

Sejak diresmikan pada 14 Mei 2016, Jembatan BDB 95 menjelma sebagai penghubung vital bagi 14 dusun yang tersebar di dua kabupaten. Di satu sisi, ia melayani warga Labuhanbatu. Di sisi lain, ia menjadi pintu menuju sejumlah desa di Paluta, seperti Desa Hunte Manis, Desa Pinarik, hingga ibukota Simundol.

Manfaatnya terasa langsung bagi tiga kelompok utama, yaitu anak sekolah, petani, dan pelaku ekonomi. 

Setiap pagi, puluhan pelajar menyeberang menggunakan jembatan ini menuju SDN 11 Bilah Barat, SMP N2, SMAN1 Bilah Barat, dan SMA Swasta Imelda. 

Sebelum jembatan ini berdiri, mereka harus memutar jalan sejauh 6 kilometer. Kini, jarak itu terpangkas hanya 400 meter.

"Jadi lebih hemat waktu. Dulu dari Napompar harus 6 kilometer, sekarang hanya 400-an meter. BBM juga ikut hemat," ujar Darul Ritonga (47), seorang warga setempat, Sabtu (9/5/2026).

Tak hanya untuk sekolah, hasil pertanian dan perkebunan dari dusun-dusun terpencil kini lebih mudah diangkut. Jembatan ini menjadi sendi ekonomi yang membuat harga pokok tidak membengkak akibat biaya transportasi yang tinggi.

Prakarsa Polri

Ada sejarah di balik pembangunan jembatan ini. Semua bermula pada 2015, saat seorang perwira polisi lulusan Akabri 1995, AKBP Teguh Yuswardie, menjabat sebagai Kapolres Labuhanbatu.

Ia menerima laporan dari personelnya bahwa masyarakat Desa Tanjung Medan sangat mendambakan perbaikan sebuah jembatan gantung yang sudah rusak parah dan membahayakan. Warga kesulitan menyeberang, terutama saat musim hujan.

Tak cukup hanya mendengar, Teguh pun bergerak. Tanpa mengandalkan anggaran negara, ia menggagas penggalangan donasi mulai Desember 2015. Para donatur dari berbagai kalangan menyumbang, dan pembangunan fisik berlangsung dari Januari hingga April 2016. Total anggaran yang terkumpul mencapai sekitar Rp1 miliar.

Jembatan ini kemudian diresmikan pada Sabtu, 14 Mei 2016, sebagai kado istimewa dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Polri ke-70.

Namun, perjalanan jembatan ini tak selalu mulus. Tak lama setelah peresmian, sebuah musibah datang. Jembatan yang didesain untuk pejalan kaki dan kendaraan roda dua (dengan kapasitas beban maksimal 2 ton) tiba-tiba ambruk. Penyebabnya,sebuah pick-up bermuatan sekitar 3 ton nekat melintas.

Namun, Teguh Yuswardie—yang kini telah menyandang pangkat Brigadir Jenderal Polisi—bertekad bulat. Ia memutuskan untuk membangun kembali jembatan itu dari awal, meskipun saat itu ia sudah akan dipromosikan bertugas ke luar pulau. Baginya, janji "Polri untuk Masyarakat" tidak boleh runtuh di tengah jalan.

Arti Nama dan Filosofi

Nama "Budi Damma Bhayangkara 95" bukanlah sekadar label. Brigjen Pol Teguh Yuswardie merangkai setiap kata dengan makna mendalam. Yakni, Budi berarti kebaikan. Dhamma berarti ajaran kebenaran. Bhayangkara adalah sebutan untuk polisi. Dan, angka 95 menandai angkatan Akpol 1995 (Batalyon Patria Tama), angkatan sang penggagas. Secara utuh, nama itu bermakna:

"Pengabdian kepada kebijaksanaan dan ajaran kebenaran" atau "Berbakti dengan kebijaksanaan dan dharma."

"Ini adalah refleksi semangat pengabdian dan kebaikan dari angkatan 95," ujar Teguh beberapa tahun yang lalu.

Suara Warga

Satu dasawarsa berlalu, Jembatan BDB 95 masih berdiri kokoh. Warga setempat tidak tinggal diam. Mereka sadar sepenuhnya bahwa jembatan ini adalah aset bersama yang harus dirawat.

Secara swadaya, masyarakat rutin menjaga fungsinya. Bahkan, ketika lantai besi jembatan mulai berlubang karena aus diterjang roda dan cuaca, ada warga yang berinisiatif menambalnya dengan mengelas besi baja.

Namun, ada satu catatan penting yang disampaikan Darul Ritonga. "Ya, sebaiknya untuk menghindari karat agar dilapisi dengan mengecat ulang besinya," tandasnya.

Harapan itu sederhana: agar jembatan ini tidak hanya kuat secara struktur, tapi juga terawat dari korosi yang diam-diam menggerogoti. Sebuah pesan agar perhatian tetap hadir, tidak hanya saat pembangunan, tetapi juga dalam pemeliharaan.

Kini, di usianya yang ke-10 tahun, Jembatan BDB 95 bukan sekadar penghubung antar desa atau kabupaten. Ia adalah monumen hidup kolaborasi antara Polri dan masyarakat. Ia adalah bukti bahwa sebuah gagasan yang lahir dari kegelisahan bersama, kemudian dibangun dengan gotong-royong, bisa bertahan lebih dari satu dekade meski sempat diuji oleh bencana.

Dan bagi anak-anak yang setiap pagi menyeberang dengan seragam sekolah, bagi petani yang mengangkut hasil kebun, bagi para ibu yang pergi ke pasar di seberang—jembatan ini tetaplah vital. Ia adalah napas yang menghidupkan ujung Labuhanbatu. (fdh/ram) 

Editor : Juli Rambe
#jembatan BDB 95 #bakti Polri #AKBP Teguh Yuswardie